
"Tunggu, sebentar nak! Apa dia perempuan baik-baik?"
"Ya, jelas ma! dia itu sekretaris Ran."
Rania keceplosan dan langsung menutup mulutnya.
"Sekretaris?!"
Ya, ampun kenapa sih ni mulut gak bisa diajak kompromi ?!
Rania tersenyum menampakkan gigi putihnya. Sementara Bella menatapnya, seakan meminta jawaban kepada Rania.
"Sekretaris?! Maksud kamu nak?" Tanya Bella.
"Sebenarnya...
"Duduk! Lalu, jelaskan!" Potong Bella.
Rania pun menuruti perintah maminya dan duduk di balkon bersama dengan Bella.
"Sebenarnya mi, kemarin itu aku ketemu klien di lab bersama Lira sekretaris aku dan Kelvin..."
Rania menjelaskan kepada ibunya, tentang apa yang terjadi padanya kemarin.
"Maafkan Ran mi! Ran udah bohong sama mami." Ucap Rania Lirih.
Bella pun memeluk Rania berusaha untuk memberikannya kekuatan.
"Sudah jangan menangis! Yang terpenting sekarang anak mami baik-baik saja, dan jadikan itu pelajaran untukmu! Yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Apa Rania mengerti sekarang apa yang mami katakan?" Balas Bella bertanya.
"Iya, mi! sekarang Rania mengerti. Rania akan jadikan itu sebuah pelajaran mi."
"Hmm..itu baru anak mami!"
"Iya mi, Rania kan anak mami Bella. Oh, ya mi?"
"Iya sayang?"
"Apa mami ngizinin?"
Mami Bella mengangguk, lalu Rania pun pamit kepada maminya dan melangkah.
"Remember carefully!" Seru Bella.
"Certain, mi!" Balas Rania.
Rania keluar dari rumahnya dengan mengendarai mobil Ferarri hitam miliknya, menuju ke apartemen Kelvin.
Tiba di sana. Rania melangkah menuju ke apartemen dengan melewati staf yang ada di sana.
"Selamat siang nona! Ada yang bisa saya bantu?" Tanya staf itu ramah.
"Siang pak! Saya mau mencari letak apartemen pak Kelvin. Apa bapak tahu dimana letaknya?" Tanya Rania sopan.
"Oh, nona mau mencari letak apartemen tuan Kelvin?! Mari saya tunjukkan!"
Rania mengangguk dan mengikuti staf menuju ke apartemen tempat Kelvin berada.
Sampai di sana, Rania berterima kasih kepada staf apartemen karena telah menghantarnya sampai tujuan.
"Selamat siang tuan! Ini ada orang yang ingin bertemu dengan anda!"
"Iya, sebentar pak!"
"Pak, lebih baik anda melanjutkan pekerjaan anda! Biar saya disini menunggu nya."
"Apa tidak apa-apa non?"
"Tidak, pak! Terimakasih sudah menghantar saya."
"Itu sudah tugas saya sebagai staf apartemen non. Kalau begitu saya permisi dulu ya non, mau melanjutkan pekerjaan saya."
__ADS_1
Staf itu pun meninggalkan Rania. Setelah beberapa saat menunggu dan belum ada yang membukakannya pintu, Rania pun berdiri dan mengetuk pintu sekali lagi.
"Kenapa lama sekali?!" Ucap Rania mendesis kesal, sambil mengambil ponselnya.
"Coba aku telpon dulu, siapa tahu dia kelupaan."
Baru saja Rania hendak menelponnya, tiba-tiba saja David datang membukakannya pintu.
"Maaf, elo nunggu lama!" Kata David datar.
Rania memasukkan ponselnya dan masuk ke apartemen David tanpa menanggapi perkataannya.
"Ehh...malah nyelonong aja tuh cewek kampung!" Lanjut David.
Rania melihat Kelvin dan Lira sedang makan siang. Sadar akan kedatangan Rania membuat Lira berdiri.
"Kau tidak perlu berdiri, duduk saja!" Pinta Rania.
"Bagaimana kondisi kalian sekarang apa sudah membaik?" Tanya Rania.
"Duduk dulu ibu bos!" Pinta Kelvin sambil menggoda Rania.
"Terimakasih! kau bisa saja" Kata Rania malu.
"Seperti yang kau lihat sekarang, kondisi kami baik-baik saja!"
"Syukurlah! Bagaimana denganmu Lir, apa ada yang masih terasa sakit?"
"Tidak ada ibu!"
"Tidak usah formal, kalau diluar!"
"Baik, Bu! Emm..maksud saya ibu Rania."
"Sudah saya bilang!"
"Maaf, saya tidak biasa memanggil anda Rania. Tapi, saya lebih nyaman memanggil anda Ibu Rania."
Setelah berkata demikian Rania teringat sesuatu. Gimana bisa ya, dia tahu kalau Kelvin ada di bar? Coba kutanyakan padanya mungkin saja dia tahu. Gumam Rania
"Ahmm, Kelvin!" Panggil Rania.
"Iya?" Balas Kelvin.
"Aku mau bertanya sesuatu"
"Iya, tanyakan saja!"
"Kemarin, bagaimana bisa dia tahu kalau kau ada di bar?"
"Dia? Bar?!"
"Aku, maksud mu aku kan?!"
"Hmm.."
"Oh, soal itu."
Flashback On.
Saat Kelvin berada di Bar, tiba-tiba saja ponselnya bergetar. Dia pun meninggalkan Rania dan Lira menuju ke toilet, yang sebelumnya ia izin dulu kepada Rania. Namun, Rania tidak mendengarnya untung saja Lira yang mendengarnya. Kelvin pun izin kepada Lira untuk pergi ke toilet sebentar.
Tiba di toilet Kelvin mengambil ponselnya dan melihat bahwa David yang menelponnya.
"David?! mengapa dia mendadak meneleponku segawat ini?" Gumam Kelvin.
Kelvin mengangkat telepon dari David. Dari balik telepon terdengar suara David yang kesal terhadap Kelvin, karena ia tidak menjawab telepon darinya berkali-kali David telepon.
Kelvin📞:Halo
David📞: Kenapa lu baru jawab telpon gua?!
__ADS_1
Teriak David dari balik telepon membuat telinga Kelvin sakit.
Kelvin📞: Lu pikir gua ngapain? Ke Bar minum-minum begitu?! Gua ada kerjaan nih dari bos.
David📞: Bukan gitu men! Elu, sensian amat si, maksud gua elu ka..
Tutt..tutt...tut..
"Ahh sial!!!" Umpat David kesal sambil melempar telepon genggamnya.
Kelvin mematikan teleponnya karena ia sudah tahu bahwa David pasti menanyakan kapan kepulangannya karena Vina. Mama Naomi dan mama Vina sudah merencanakan pernikahan anak mereka, hal itu membuat Kelvin kesal karena ia tidak mencintai Vina. Lebih tepat pernikahan mereka karena cinta bertepuk sebelah tangan.
Kelvin melupakan urusan pribadinya, dan lebih fokus mengurus urusan perusahannya.
Kelvin melangkah menuju ke tempat Rania dan Lira berada.
Sampai di sana ia melihat Rania meminta tolong dan Lira ambruk. Kelvin pun berusaha menyelamatkan Rania, tapi seorang laki-laki bertubuh kekar tak lain adalah bodyguard menghantam lengan Kelvin dan bagian yang menyebabkan seorang tak sadarkan diri.
Kelvin melihat samar-samar Rania yang meminta tolong kepadanya.
Flashback Off.
"Lalu, bagaimana Elo tahu kalau gua dalam bahaya?" Tanya Kelvin bingung.
"Dari ini" Jawab David sambil menunjukkan ponselnya.
"Ponsel?!" Kata Rania, Kelvin, dan Lira secara bersamaan sambil menaikkan alisnya menandakan rasa keingin tahuan.
"Kau ingat saat aku menelponmu kemarin?"
"Jelas aku ingat! Lalu?"
"Lalu..rahasia!! Yang jelas sekarang kalian baik-baik saja. Bukankah begitu?!"
Kelvin, Rania, dan Lira memasang ekspresi kesalnya.
"Apa gua salah?!"
Kelvin, Rania, dan Lira tidak menghiraukan David lagi.
"Ahmm... Kelvin! aku pamit pulang ya bersama dengan Lira? Apa kau tidak keberatan, dan kalau kau perlu bantuan ku, kau tinggal panggil saja diriku atau Lira! Oke?!"
"...O..oke!"
"Baiklah, selamat tinggal! Ayo Lir kita pulang?!"
Lira mengangguk pertanda mengiyakan.
"Oh, ya satu lagi! terimakasih atas pertolonganmu kemarin David."
"Hmm..."
"Kenapa kau terburu-buru pulang gadis desa?!"
Gadis Desa !!! Gadis Desa !! gadis desa ! Kata-kata yang dikeluarkan oleh David membuat kata itu terngiang-ngiang di kepala Rania.
"Ahh..kenapa dengan kepalaku?!"
Visual David.
.
.
.
🌼🌼
Bersambung.
__ADS_1