TITISAN LANGIT

TITISAN LANGIT
JEBAKAN IBLIS Part 3


__ADS_3

Ranapati Merasa Heran dengan perubahan Sikap Tuan Baginda yang mulia Raja Wardana, Yang tidak seperti Biasanya dia bersikap seperti itu,.


"Apa yang mereka berdua lakukan di sini!? " Sunggut Raja Wardana pada Dewi Ningsih dengan Wajah tidak. sukanya pada kehadiran Panglima Ranapati dan Abiyan,.


"Apa yang Baginda maksud Panglima Ranapati dan Abiyan yang menolong kita tempo hari!? " Ujar Dewi Ningsih yang mulai bingung dengan keanehan Sikap Suaminya yang terlihat Angkuh.,


"Iya mereka!? Mau siapa lagi!? Suruh mereka pergi saya capek mau beristirahat!? " Ujar Raja Wardana seolah tanpa beban sedikitpun,


Suara Ketus Raja Wardana terdengar jelas sampai keluar Gubuk di mana Abiyan dan Panglima Ranapati berdiri.,


"Tuan Abiyan, Apa sebaiknya kita pergi saja dari sini, keliatannya Baginda Raja Tidak mau di Ganggu,!? " Ujar Panglima Ranapati terlihat jelas guratan kecewa dari wajannya,


"Dunia ini, Penuh dengan misteri yang tidak hanya bisa dipecahkan oleh mata dan telinga, namun ada kalanya kita butuh Jiwa Besar dan jiwa yang ikhlas Dengan jiwa yang besar itu kita mungkin sedikit akan memahami tentang Untuk Apa sesuatu itu di ciptakan, Setiap kesalahan selalu ada pembenaran, hidup tidak akan normal jika suatu Element di campur adukan Sama seperti mencampur minyak dengan Air Terlihat sama tetapi hakikatnya berbeda,.!? " Abiyan berbicara seolah berkata pada dirinya sendiri yang membuat Ranapati semakin tidak mengerti ke mana Arah perbincangan mereka,.


Selang Beberapa saat kemudian Ratu Dewi Ningsih membuka Pintu Gubuk dan dia berdiri di Ambang pintu sambil menatap iba pada Ranapati dan Abiyan,.

__ADS_1


"Ranapati, Tuan Abiyan Baginda Raja meminta kalian segera meninggalkan Tempat Ini, Baginda lelah Hendak Beristirahat!? " Ujar Dewi Ningsih dengan dada sesak menahan Air mata yang hampir menetes karena perlakuan Baginda Sudah di luar Batas,


"Yang Mulia Ratu, Apapun Titah Baginda Raja Wardana, Adalah Wajib Bagi saya untuk mematuhinya, Baiklah Sampaikan Pada Baginda Raja Permohonan Maaf kami Karena sudah mengusik ketenangannya,!? " Ujar Pangeran Ranapati Sambil membungkuk Memberi Hormat Dan berbalik Hendak berlalu Begitupun Ratu Dewi Ningsih Hendak masuk menutup Pintu, Abiyan tersenyum Melihat Sekilas senyuman Kemenagan Raja Wardana dari dalam Gubuk Ketika melihat Dewi Ningsih hendak menutup Pintu,.


"Tunggu Tuan Ratu, Izinkan Saya memberi Tuan Ratu Hadiah!? " Ujar Abiyan sehingga Ratu Dewi Ningsih urung menutup pintu Membuat Bias kecewa Terlihat merasuki Raja Wardana, dan Panglima Ranapati spontan menghentikan Langkahnya dan kembali berbalik Ke arah Abiyan,.


"Tidak bisakah hadiah yang akan kamu berikan itu, besok Saja apa kamu tidak dengar Saya lelah dan hendak beristirahat,!!? " Ujar Raja Wardana dari dalam menimpali ucapan Abiyan jelas terdengar Suaranya seperti memaksa mereka untuk pergi,.


"Ratu, Sudilah Tuan Ratu menerima ini? Dan setelah ini Saya Akan segera pergi dari tempat ini!?" Ujar Abiyan Sambil mengeluarkan Suatu benda dari saku bajunya, Tanpa sedikitpun perduli dengan Ucapan Raja Wardana,. Dengan langkah berat Ratu Dewi Ningsih melangkah mendekati Abiyan dengan tatapan murka Raja Wardana namun Abiyan hanya melempar senyum pada Raja Wardana, ketika Ratu Dewi Ningsih hendak meraih Benda itu Seketika jiwanya Melayang mengembara melintasi Ruang dan Waktu,.


Abiyan dengan senyum misteri melangkah meninggalkan Gubuk tempat Raja Wardana menepi, sedangkan Pangeran Ranapati Terlihat Penasaran dengan Apa maksud Abiyan senyum-senyum sendiri.


"Tuan Apa yang membuat dari tadi Tuan Senyum-senyum Sendiri!? " Tanya Panglima Ranapati sambil mempercepat langkahnya dan berjalan di samping Abiyan,


"Apa menurutmu Seeokor Burung dan seekor Ikan bisa Hidup dalam Alam yang sama, sedangkan kamu Tau ikan butuh Air sedangkan burung butuh Udara, Dalam dunia Ini jauh sebelum Manusia ada Iblis sudah terlebih dahulu hidup di dalamnya, kita hidup Dalam Ruang yang berbeda, Namun iblis akan selalu mencari celah mencari kelemahan manusia,. Dan celah itu mereka dapat dari Baginda Raja Wardana, Yang sanggup melakukan apa saja demi mendapatkan keturunan, Hingga tanpa Sadar Raja Wardana memuja dan semacam mengikat perjanjian dengan Iblis,!? " Sejenak Abiyan menghentikan ucapannya menoleh kebelakang Jauh di atas Gunung yang menjulang tinggi,.

__ADS_1


"Apa Maksud Tuan Sungguh otak saya Tidak mampu menjangkau semua arti ucapan Tuan,!? " Ujar Ranapati sambil menatap lekat Wajah Abiyan yang teduh Tersirat Jelas kearifan dari pancaran Wajah Tampannya,.


"Apa yang Kamu lihat, Tidak semua seperti Apa yang terlihat, Iblis pintar memanipulasi Apa saja termasuk Meniru wajah Siapapun, Dan ketika Iblis itu Sudah mampu melakukan Hal itu, Berarti kehebatannya Sudah Tinggi, Dan Raja Wardana yang kita lihat tadi bukanlah Raja Wardana yang sebenarnya, Dia Iblis penunggu Gunung Lintang yang terkenal Gemar menanam Bibit Pada manusia yang lupa Akan kuasa maha pencipta!? " Seketika Panglima Ranapati menghentikan langkahnya,.


"Tuan kita Harus menolong Tuan Ratu Dewi Ningsih dari mahluk itu!? " Ujar Ranapati Geram sambil Mencabut pedangnya,


"Dan kamu Akan Dianggap pemberontak karena berani menentang Raja, karena yang kamu hadapi Adalah ilusi Raja Wardana sendiri,!? " Ujar Abiyan dengan tenang,.


"Lalu Apa yang harus kita lakukan Tuan, lantas bagaimana Nasib Ratu!? " Ujar Ranapati semakin Gusar


"Biarkan Iblis itu menikmati kemenangannya, dia tidak akan bisa menyentuh Ratu Dewi Ningsih,!? " Ujar Abiyan sambil melanjutkan langkahnya dengan tenang dan diikuti Panglima Ranapati dengan Hati bimbang,.


Dari Jauh terdengar lolongan Anjing Bersahutan membuat malam semakin mencekam, Panglima Ranapati mengikuti Abiyan menuju pondok Yang hampir kelar dibAngun oleh para Mantan Rampok di bantu penduduk Desa,


"Sebaiknya mulai malam ini, kamu beristirahat di sini saja, yah untuk menghindari omongan orang karena di rumah pak desa Ada 3 orang perempuan yang bukan muhrim Atau saudara kamu!?" mendengar ucapan Abiyan Panglima langsung mengangguk setuju sedangkan otaknya terus memikirkan keselamatan Tuan Ratu Dewi Ningsih.,

__ADS_1


__ADS_2