TITISAN LANGIT

TITISAN LANGIT
PERMOHONAN


__ADS_3

Di tengah riuhnya perayaan tiba-tiba seorang pengawal istana masuk menghadap,.


"Lapor Ruan Baginda Ratu di luar Ada seseorang yang mengaku urusan dari desa Makmur ingin menghadap Tuan Ratu!? " Ratu Darawanti tidak menjawab hanya melambaikan tangan tanda memberi izin utusan itu masuk,. Martapura masuk dengan langkah tegap di Antara tatapan Puluhan pasang mata punggawa kerajaan


"Ampun beribu Ampun Tuan Ratu, Saya Martapura di utus oleh Ratu Dewi Ningsih dan Tuan Guru Abiyan untuk meminta kembali kepala Paduka raja Wardana untuk saya bawa pulang kembali ke Desa Makmur karena Tubuh Baginda masih di sana untuk di makamkan dengan layak" Mendengar Ucapan dan permintaan Martapura sontak membuat Ratu Darawanti berdiri dari tahtanya


"Siapa mereka Berani memerintah Saya, Dewi Ningsih seharusnya ikut mati bersama Raja Wardana dan Tuan Gurumu Siapa dia berani ikut campur masalah Kerajaan!? " ucapan keras Ratu Darawanti dengan tatapan tajamnya tentu tidak membuat Martapura gentar sedikitpun.,


"Tuan Guru bukanlah siapa-siapa Dia hanya manusia yang sama seperti kita, Dia meminta hanya sebagai sesama manusia kiranya Yang mulia Ratu sudi memberikan kembali kepala Raja Wardana, Untuk di makamkan secara layak." mendengar jawaban Martapura Ratu Darawanti semakin naik pitam


"Saya Adalah Seorang Ratu, Gurumu ,Desi Ningsih dan kalian Semua yang berada di belakang Ratu Dewi Ningsih adalah Sampah yang harus di bersihkan!? " Mendengar Murka Ratu Darawanti seluruh punggawa kerajaan langsung berdiri dan menghunus pedang,.dan bersiap menyerang Namun dengan isyarat tangan di hentikan oleh sang Ratu, Namun semua itu tidak membuat Martapura bergeser sedikitpun dari tempatnya.,


"Tuan Ratu lupa jika sebelumnya yang duduk di tempat Tuan Ratu sekarang duduk adalah Baginda Raja Wardana yang kepalanya sekarang tergeletak tak bernyawa di hadapan Ratu, Ketahuilah semua yang ada di dunia ini hanyalah titipan!? " Darah Ratu Darawanti makin mendidih lalu dia memberi isyarat pada salah satu punggawa nya untuk membungkam Mulut Martapura,. Lalu Dengan cepat punggawa itu melesat cepat dengan pedang di tangannya


hiyaaaaaaas!!!!


Whussssssss

__ADS_1


trankkkk


dengan cepat dia melompat dan menebas leher Martapura dengan pedang namun punggawa dan seluruh punggawa yang berada dalam istana terkejut karena Martapura masih tetap berdiri tak bergeser dari tempatnya semula,.


"Owh pantas saja bicaramu setinggi gunung, Ternyata kamu punya sedikit kemampuan Namun sayang, kamu berada di tempat yang salah,.!? " Martapura sontak menoleh kearah Tantra Sang Mahapatih yang sama sekali tidak melirik nya dan seolah-olah berkata pada lantai Aula kerajaan.,


"Sunguh saya bu....!! "


Whusssssss


Bugh!!!


Belum selesai Martapura menyelesaikan ucapannya sebuah hantaman keras yang tidak bisa dia hindari saking cepatnya mendarat tepat menghantam, perutnya hingga dia terhuyung beberapa tombak kebelakang,.


Whussssss


trakkkkkk

__ADS_1


Brakkkkkk


Belum Sempat Martapura berpikir jernih untuk mencari tau siapa yang menyerangnya kembali tubuhnya merasakan hantaman yang begitu keras hingga tubuhnya terlempar beberapa tombak dan mendarat tepat di samping Kepala Raja Wardana,. Dengan susah payah Martapura mencoba bangkit menahan nyeri dan sesak dalam dadanya serta meraih Kepala Raja Wardana,.


Whusssssss!!!


Brakkkkkk.


Bughhhh


Brak!!!!


Sebuah Serangan sangat cepat kembali menghantam tubuh Martapura yang belum sempat berdiri utuh dan Tubuh Martapura kembali terpental menghantam Meja yang langsung hancur berkeping-keping.,


dengan senyuman mengejek sinis Tantra mencabut Pisau Pusaka dari balik bajunya., Yang membuat Martapura seketika menjadi pucat pasi karena mengenali pusaka dalam genggaman tangan Tantra.,


"Akhirnya inilah akhir dari segalanya, " Guman Martapura sambil memejamkan mata menanti Ajal menjemputnya,.

__ADS_1


__ADS_2