
Kesesatan makin merebak di dalam wilayah kerajaan Jayagara dan sekitarnya, Ratu Darawanti makin menjadi-jadi dengan bantuan Mahapatih Tantra dan dua anak buahnya Tejo dan Tariq semakin mengukuhkan kekuasaan Ratu Darawanti sebagai Raja yang bertindak semena-mena, Bahkan mewajibkan kepada seluruh Rakyatnya untuk menyembah Penguasa Hutan Hujan Abadi. jika ada yang ketahuan melanggar Peraturan hukuman mati siap menanti,.
"Sungguh Yang Mulia baginda ratu sudah sangat keterlaluan, dengan seenaknya dia mengubah Ajaran leluhur kita dengan ajaran Baru!? " Gerutu Dwipa melampiaskan kekesalannya,.
"Jaga Ucapanmu Dwipa kalau masih ingin berumur panjang, Di kerajaan ini Bahkan tembok pun bisa mendengar dan mengadu pada pihak kerajaan,Apa kamu ingin mati konyol? Lagian dengan mengikuti Aturan kerajaan Menjadikan hidup kita jauh lebih mudah dari sebelumnya!? " Ujar Liran mengingatkan Dwipa yang tampak kesal,.
"'Apanya lebih baik!?, Apa kamu lupa kehidupan lebih baik yang kamu maksud Lahir dari genangan darah mereka yang menentang dan tidak mau patuh pada kerajaan, Saya lebih baik mati dari pada harus hidup nikmat hasil dari merampok Wilayah jajahan, Apa kamu tidak sadar jika kita hidup hasil dari jerih payah orang lain!? " Dwipa semakin meninggikan suaranya, yang sontak membuat Liran seketika bungkam dengan wajah pucat pasi,.
"Oh Rupanya ada yang bosan untuk hidup, Prajurit tangkap dia!? " Suara Tejo yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan kedua Warga yang sedang beradu argumen itu, Liran Langsung mundur beberapa langkah sedangkan Dwipa masih berdiri di tempatnya dengan tatapan mata tajam tidak terlihat sedikitpun rasa takut di wajahnya,.
__ADS_1
"Ampun Tuan, saya sudah mengingatkan dia, tapi Dia tetap teguh dengan Tujuannya, Saya tidak ada hubungannya dengan dia, Permisi Tuan Istri saya sudah menunggu di rumah!? " Ujar Liran, dan langsung bergegas pergi meninggalkan Dwipa yang telah terkepung oleh para prajurit kerajaan,.
"Kalian semua, Manusia laknat! Aghhhhh!!" Belum sempat Dwipa melanjutkan Umpatan nya Sebuah Pukulan mendarat tepat di ulu hatinya, yang langsung membuat Tubuh Dwipa terkapar menahan sakit yang sangat luar biasa,.
"Bawa Dia Besok saat matahari terbit, di Alun-alun kerajaan dan di saksikan oleh seluruh Rakyat Jayagara dia akan menerima hukuman pancung dari algojo kerajaan!? " Mendengar Titah Tejo seluruh prajurit yang ikut langsung mengikat tubuh dan menyeret Tubuhnya sampai ke alun alun, dengan tubuh yang penuh Luka-luka Dwipa di ikat di sebuah tiang di tengah-tengah Teriknya sinar mentari,
"Jika kamu, Bertobat dan memohon ampun Pada Penguasa Hutan hujan Abadi dan mau kembali bersujud kepadanya, mungkin Saja Hukuman mati yang akan kamu Terima besok, bisa di batalkan!? " Ujar Salah seorang prajurit yang sibuk mengikat tubuh Dwipa pada sebuah tiang,
Bughhhh!!!
__ADS_1
Kembali sebuah pukulan mendarat di Perut Dwipa membuatnya kembali merintih kesakitan
"Nikmatilah Hari terakhirmu, dasar manusia bodoh!? " Ujar Prajurit itu sambil melangkah pergi meninggalkan tubuh lunglai Dwipa yang terikat pada sebuah tiang, meraung menahan sakit dan panasnya sengatan mentari,.
"Pencipta Jagat Raya, Jika keyakinan Saya Salah, biarkanlah saya mati dengan senyuman, dan jika keyakinan saya benar izinkanlah saya, menyaksikan kehancuran para manusia laknat itu!? " Ujar Dwipa memohon pada takdir.,
Orang-orang yang menyaksikan Apa yang di alami Dwipa tidak seorangpun yang berani mendekat, apalagi memberi pertolongan, ada yang terlihat iba namun ada pula yang menyalahkan perbuatan yang dilakukan Dwipa,.
Rasa Haus mulai menyerang Dwipa, tengorokannya mulai kering bahkan Ludah sudah tidak tersedia sama sekali dalam kerongkongan nya,. Tubuhnya mulai gemetar, Keyakinannya mulai teruji ketika seorang prajurit penjaga menghampirinya sambil menegak Air yang dia pegang dalam kendi. Yang terlihat begitu nikmat,.
__ADS_1
"Saya, tau kamu pasti Sangat haus? Sudahlah tidak usah menentang keputusan Baginda Ratu, Akui saja Penguasa Hutan hujan abadi adalah yang layak kita sembah, dan saya akan memberikan kamu Air yang begitu sejuk ini!? " Dengan tatapan Sendu Dwipa tersenyum sinis Seolah mengejek prajurit itu,.
"Saya, lebih baik mati dari pada hidup dari kubangan darah orang-orang yang tidak berdosa, Ajaran leluhur mengajarkan kita untuk saling kasih Bukan saling Asah, Keyakinan saya tidak akan saya tukar dengan apapun.! " Suara Deipa makin lirih