
Air mata terus menetes membasahi pipi cempaka yang lembut,membuat Hindun merasa tida tega dan langsung membawa Putrinya dalaj dekapannya. Sekuat apapun dia berusaha membuang jauh-jauh bayangan wajah tampan sang tuan guru,namun bayang itu makin menyeruak menyisakan sesak dalam dada, dan semua berubah menjadi gelap gulita,.
Samar-samar kilauan mentari senja menyilaukan pandangan cempaka yang tengah berbaring di atas hamparan Ladang bunga yang berwarna warni serta aromanya yang teramat sangat wangi, yang bahkan baru pertama kali dia mencium aroma sewangi itu, dari kejauhan terlihat sosok putih yang berjalan menghampirinya,karena silau dia sedikit memicingkan matanya untuk mel8hat dejgan jelas siapa sosok di balik sosok putih itu. Dan setelah sosok itj semakin mendekat dengan senyumnya yang khas, barulah cempaka mengenali sosok itu yang tak lain adalah sang pujaan hati belahan jiwa.,
"Asalammu Alaikum, Wahai hamba yang Allah titipkan kepadaku" Rona merah langsung tergambar di kedua belahan pipi cempaka ketika mendengar Ucapan Salam dari Bibir Abiyan dengan suara lembut yang seketika membuat Cempaka laksana terbang ke langit ke tujuh,.
__ADS_1
"Wa,Alaikum salam warahmatullahi wabarakattuh,Wahai pemimpin langkahku" jawab cempaka dengan wajah tertunduk tak kuasa menatap bening mata yang begitu teduh milik Abiyan dengan Suara yang nyaris tak terdengar. dengan bibir yang masih mengulum senyum Abiyan hanya berdiri sambil mengawasi Cempaka yang langsung bangkit dari pembaringan dan berusaha untuk duduk.
"Cempaka, maaf karena membiarkan kamu lama menunggu, dengan hati yang penuh kebimbangan.mari sudah saatnya kita berjalan beriringan,Ketahuilah Meskipun selama ini sayq diam tenang bagai ikan dalam telaga teduh, tapi saya gelisah pula bagai ombak dalam lautan Menanti saat ketika Allah mengizinjannya Saya mengengam jemarimu!?" lagi-lagi ucapan Abiyan yang lembut penuh kasih mampu menghangatkan kalbu Cempaka yang begitu gundah, dia dungguh tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, yang dia tau jatinya begitu sangat bahagia itu terlihat jelas Dari senyuman yang terpancar dari bibirnya yang lembut. Dengan penuh cinta cempaka meraih gengaman tangan Abiyan yang di hulurkan kepadanya dan dengan sekuat tenanga Cempaka berusaha untuk bangkit. Namun sekuat apapun dia berusaha Tubuhnya terasa begitu sangat berat. Wajah Cempaka seketika panik karena menyadari dia tidak mampu untuk bangkit, Abiyan yang mengetahui apa yang terjadi, segera menunduk da dengan jedua tangannya Dia mengendong Cempaka.
"Kamu, Terlalu letih berjuang sudah saatnya Kamu melangkah dengan kedua kaki saya!?" ujar Abiyan Dengan wajah tersenyum dan menatap lembut ke arah Cempaka yang sembunyi-sembunyi mencuri pandang Raut gagah Abiyan. Hati Cempaka Begitu Bahagia jiwanya begitu tentram dan dengan senyum dia terlelap dalam dekapan Abiyan yang terus melangkah membawanya pergi.
__ADS_1
"Allaahu yatawaffal anfusa hiina mawtihaa wallatii lam tamut fii manaamihaa fa yumsikul latii qadaa 'alaihal mawta wa yursilul ukhraaa ilaaa ajalim musammaa; inna fii zaalika la Aayaatil liqawmai yatafakkarron!?" dari jauh terdengar lantunan Ayat Suci Alqur,an Surat Az-Zumar Ayat 42 yang artinya Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir,.
Bacaan Ayat itu terdengar mengalun lembut, membuat cempaka tak kuasa ingin melihat Siapa gerangan orang yang sedang mengulang-ngulang terus membaca dengan ayat yang sama, Silau menerpa kedua kelopak matanya ketika cempaka berusaha untuk membuka matanya, Seketika wajah cempaka menatap Aneh keadaan sekelilingnya,. Cempaka mengedarkan pandangannya keseluruh Ruangan namun sosok yang di carinya tidak ada, hanya Sosok ibundanya yang masih menangis pilu sambil membelai lembut kepala sang putri, yang membuat Cempaka semakin tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ibu, kenapa ibu menangis,Tuan Guru Abiyan ke mana!?" pertanyaan cempaka sontak membuat Hindun menjadi keheranan, bagaimana mungkin dia sudah mengetahui jika sesungguhnya Suaminya Adalah Abiyan
__ADS_1