TITISAN LANGIT

TITISAN LANGIT
UJIAN


__ADS_3

Ranapala terbaring lemas tubuhnya panas, keringat mengucur deras dari pori-pori tubuhnya namun tubuhnya menggigil kedinginan.


"Bu, siapa yang harus mengurus kadang sedang tubuhku jangankan berjalan duduk saja rasanya berat saya rasakan, jika kadang tidak di aliri air pastinya tanaman kita akan mati kekeringan? " Ujar Ranapala lirih karena tak kuasa menahan rasa dingin yang menyerang tubuhnya.,


"penyakit macam apa ini? tubuhmu terasa panas tapi mengapa dingin yang kamu rasakan!? " Ujar Hindun sambi memeluk erat tubuh suaminya dengan deraian air mata yang mulai membanjiri kelopak matanya, karena tidak tega melihat kondisi suaminya yang menahan keperihan,.


"Entahlah Bu, Tiba-tiba saja penyakit ini menyerangku apa mungkin leluhur kita marah karena telah mengabaikan ajaran mereka dengan mengikuti keyakinan yang Pemuda itu bawa!? " Ujar Ranapala sambil menekuk tubuhnya menahan dingin yang sangat luar biasa sampai dia tidak sanggup menahannya,.


"Astaghfirullah Pak, nyebut mungkin ini ujian dari Allah. karena kita terlalu lama tengelam dalam ketidak tahuan jika Allah SWT pencipta segalanya!? " Jawaban Hindun istrinya sama sekali tidak membuat Ranapala tenang malah semakin yakin jika sakitnya karena leluhurnya marah,

__ADS_1


"Jika bukan karena Baginda Raja dan Panglima Ranapati saya tidak akan ikut Ajaran pemuda itu!?" Runtuk Ranapala semakin menjadi-jadi.


"Sudahlah pak, Ibu keluar dulu mau ke ladang untk mengaliri tanaman kita dengan Air" Ujar Hindun dengan penuh kesabaran karena dia yakin rencana Allah SWT pasti akan indah di akhirnya membuatnya tidak menanggapi ucapan suaminya,.


Hindun berjalan dengan hati gundah gulana, namun demi keluarganya dia terlihat sangat tegar menghadapinya, semua cobaan dengan lapang dada.


Sehari sebelumnya,


"Ranapala,Kamu pasti mau ke ladang hendak membersihkan Ladang kamu, pasti terasa capek bukan? tapi buat apa, !? Kenapa kamu tidak memintanya langsung pada Tuhan yang kamu sembah!? Yang katanya maha Kaya dan Maha memberi sesungguhnya kalian semua telah di bohongi Oleh pemuda yang bernama Abiyan itu,!?" Ranapala sejenak tertegun dengan ucapan Orang Asing di hadapannya,

__ADS_1


"Siapa kamu, dan apa maksudmu berkata demikian, Apa kamu juga mengenal Abiyan? "


"Saya Sesembahan yang sejak kehadiran Pemuda Tukang sihir itu kalian abaikan, dan Pemuda yang bernama Abiyan itu, tentu saja saya begitu mengenalnya dia adalah hambaku yang mengabaikan kekuasaan yang saya. miliki dan sekarang mengajak kalian untuk ikut Menghianati Kekuasaan ku, Lembah dan gunung di atas kuasa ku mereka bergejolak atas perintah ku.!? " Ranapala terperanjat dan terperangkap dengan Ucapan mistis orang asing itu hingga Membenani pikirannya,.


"Ta! " hanya kata itu yang keluar dari mulut Ranapala ketika dia berbalik orang tua itu sudah tidak lagi ada di hadapannya,


Karena Ucapan Orang asing itu begitu mengena di hati Ranapala membuatnya menjadi Bimbang, ucapan itu terus terngiang-ngiang membuatnya kehilangan konsentrasi bahkan tidak sadar jika yang di cabutnya adalah Singkong yang baru beberapa hari di tanam nya, Karena menyadari hal itu dia memilih untuk pulang, Dalam perjalanan pulang langit yang terang benderang dengan matahari yang bersinar anggkuh namun Hujan gerimis mulai turun membasahi bumi dan Ranapala yang tidak perduli dengan guyuran hujan memilih terus berjalan pulang ketimbang berteduh yang membuat tubuhnya basah kuyup di bawah guyuran hujan yang semakin deras, padahal Bumi tidak sedikitpun terlihat mendung,.


Hindun terkejut melihat tubuh suaminya yang basah kuyup padahal Di desa. Makmur sama sekali tidak turun hujan, Namun Ranapala mengabaikan semua keanehan itu. Namun tiba-tiba tubuhnya terasa sangat panas, Hingga dia menangalkan seluruh pakaian yang dia kenakan kemudian berendam dalam Guci, Selang beberapa saat kemudian Tubuhnya kembali terasa sangat dingin seperti berada di Kutub Utara membuat tubuhnya mengigil kedinginan dengan segera dia membungkus tubuhnya dengan berlapis-lapis kain tapi tidak juga mampu meredakan rasa dingin yang dia rasakan,.

__ADS_1


"Bu... ibu... Dingin, Bapak tidak kuat..!? " Hindun yang tidak tau harus berbuat apa dengan sigap langsung mendekap tubuh suaminya Hingga akhirnya suaminya tertidur Dengan pulas, waktu shalat semua di abaikan oleh Ranapala karena pikirannya benar-benar buyar dengan rasa dingin dan panas yang datang silih berganti. Hingga Ketika Hindun dan Cempaka Baru saja pulang dari Mushola untuk menunaikan Shalat Subuh berjama'ah, karena suaminya Sedang sakit dengan Ikhlas dia mengantikan tugas suaminya untuk menyingkirkan rumput liar yang tumbuh di sekitar batang singkong yang baru beberapa hari di tanam nya.,


__ADS_2