TITISAN LANGIT

TITISAN LANGIT
DUKA


__ADS_3

Abiyan dan seluruh warga Baru saja kelar melaksanakan prosesi pemakaman Jenazah Raja Wardana dari memandikan, mengkafankan, menyolatkan Jenazah Sampai mengantarkannya ketempat peristirahatan terakhirnya,. Ratu Dewi Ningsih Hanya bisa menangis dalam diam hanya Air mata yang terus menetes membasahi pipinya,. Duka yang mendalam sangat dia Rasakan bagaimana tidak Belum beberapa saat mereka menikmati momen Bahagia berdua tanpa urusan kerajaan Raja Wardana telah pergi menghadap sang Pencipta dengan cara yang tidak wajar.,


"Tuan Guru apa ini hukuman dari Allah SWT atas segala kesalahan kami di masa lalu hingga memberikan duka yang begitu berat!? " Ujar Ratu Dewi Ningsih sambil nenyeka Air matanya yang terus mengalir tak terbendung,. Abiyan paham apa yang di rasakan oleh ratu Dewi Ningsih tapi membiarkan dia larut dalam kesedihan Sungguh bukanlah hal yang mudah untuk memberi pengertian pada orang yang sedang Rapuh.,


"Ratu,Saya punya Satu kisah Antara dua Pasang Suami istri yang umur suaminya Sama-Sama di beri Waktu 4 purnama,. Dan ketika itu kedua Wanita itu Menerima dengan suka cita,Karena mengharap Ridho Allah SWT,. Wanita pertama Dia dititipkan Pada Suami Gagah Namun berakhlak sangat Buruk,Namun Begitu melihat Suami tampan yang di Allah berikan padanya Wanita itu tak henti mengucapkan Puji Syukur Atas apa yang Allah SWT berikan padanya,. Sedangkan Wanita kedua Dia dititipkan pada seorang pemuda Biasa saja namun berbudi Luhur, Namun Wanita tersebut ketika melihat Siapa Suami yang Allah berikan padanya Tak kuasa menahan tangis seakan menyesali kehadiran Suami Yang menurutnya jauh diatas apa yang dia harapkan Namun demi Ridho dari Sang Pencipta dengan terpaksa dia menerimanya, Selang Satu purnama Wanita yang menikahi pemuda tampan mulai merasa hidup dalam ranjau berduri, karena perlakuan kasar kerap dia dapati dari perlakuan Suaminya., Hingga dia berdoa Agar waktu cepat berlalu dan dia dapat terbenas dari belenggu itu. Sedangkan Wanita kedua yang bersuami biasa saja karena Akhlaqnya dia sangat menghormati bahkan menjadikan istrinya Ratu dalam Rumahnya hal itu pula yang membuat wanita itu Bersyukur ketika jodoh yang dia dapatkan ternyata yang terbaik Bahkan dia berharap waktu sejenak berhenti berputar agar dia bisa lebih lama menjadi Ratu dalam dekapan Suaminya,. Kisah mereka berdua hanyalah Gambaran bagaimana Allah dengan caranya sendiri menguji setiap Hambanya,.!?"


"Apa maksud Tuan Guru!? " Ujar Ratu Dewi Ningsih sambil terus menyeka Air matanya,.


"Jika Allah SWT mengambil yang terburuk dalam kehidupan kita akan menyebutnya hidayah, Namun jika Allah mengambil yang terindah dalam kehidupan kita Akan menyebutnya Hukuman atau Ujian, Padahal keduanya Sama hanya agar kita selalu pandai bersyukur dalam menyikapi segala apa yang sudah Allah kehendaki!? " Mereka semua Termasuk Dewi Ningsih terpaku dengan apa yang Guru Abiyan jabarkan Karena Sama seperti dengan apa yang mereka sering kali alami dan Rasakan.

__ADS_1


"Sungguh masuk akal semua ucapanmu Tuan Guru, Namun bagaimana pun juga saya Hanyalah manusia biasa yang tidak pernah luput dari kesalahan!? " Ujar Ratu Dewi Ningsih sambil mulai tertunduk dalam mencoba meresapi makna akan ucapan Abiyan yang hanya tersenyum simpul melihat Ratu Dewi Ningsih yang mulai agak mereda,.


"Kematian seseorang yang kita kasihi dari mulai pasangan, anak, orang tua, anggota keluarga sampai sahabat merupakan  peristiwa yang tidak diinginkan setiap orang. Tidak jarang orang-orang meratap dan bersedih hebat hingga menyakiti tubuh karena kehilangan ini.Segala sesuatu di dunia ini adalah milik Allah, entah itu harta, kedudukan, orang terkasih bahkan diri kita adalah makhluk Allah ta'ala. Maka kehilangan semua itu adalah karena kehendak-Nya yang harus kita hadapi dengan keikhlasan dan memperbanyak doa."Tidak ada seorang hambah (muslim ) yang tertimpa musibah lalu ia membaca "Innaalillah wainnaailahi raajiun, Allahumma ajirni fii musibatii wa akhlif lii khairan minhaa" (sesungguhnya kita ini milik Allah dan kepada-Nya kita kembali. Ya Allah selamatkanlah aku dari musibahku dan beri ganti aku yang lebih baik). Kecuali Allah akan menyelamatkannya dari musibahnya dan memberinya ganti yang lebih baik." semakin tertegun Ratu Dewi ningsih mendengar semua penjelasan Abiyan yang terasa meresap sampai ke tulang. hingga lidahnya tak mampu berucap sepatah katapun, sedangkan para warga yang belum memeluk Islam semakin menjadi penasaran dengan Budi pekerti Abiyan yang seorang muslim dan membuat mereka hanya mengagumi dalam diam,.


"Shalat Magrib Sebentar lagi, Saya pamit hendak bersiap-siap, Asalamualaikum!? " Lanjut Ujar Abiyan seraya Pamit,. Abiyan Lalu melangkah pergi meninggalkan kediaman Ratu Dewi Ningsih yang masih bersama para warga yang terlihat masih sibuk saling menguatkan Untuk musibah yang baru mereka Alami.,


"Asalamualaikum, Tuan Guru!? " Ujar Martapura sambil berlari kecil mengikuti langkah Abiyan dan di ikuti Mantan anak buahnya dan Panlima Ranapati yang ikut pamit ketika melihat Abiyan pergi,.


"Tuan Guru!!? " Namun Ucapan Martapura terhenti Ketika Mereka di cegat seorang kakek memakai tongkat dalam menuntun langkahnya,.

__ADS_1


"Asalamualaikum!! "


"Waalaikumsalam,!!? " Jawab mereka serentak Abiyan yang menoleh dan mengenali siapa orang tua yang menghadang perjalanannya Hanya tersenyum Simpul,.


"Tuan, Kabar Duka dari Kerajaan, Samak Permaisuri Sultan Arfan, Telah berpulang ke rahmatullah Sesaat Setelah putra mereka lahir dan menghirup Udara Dunia mengantikan Ibunya,! ? " Ujar Orang tua itu memberi laporan pada Abiyan yang sama sekali terlihat tidak terkejut sekalipun,.


"Innaalillah wainnaailahi raajiun,Sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepada Allah" Ujar Abiyan sambil tersenyum penuh misteri,.


"Ahh Sepertinya Saya terlambat Membawa kabar duka ini padamu Tuan!? Apa tuan sudah mengetahui kejadian itu sebelumnya!? " Tanya Orang Tua itu yang tak lain adalah Raja Masauth

__ADS_1


"Hanya Allah yang maha Tahu segalanya dan Atas Kuasanya sehingga Mengizinkan Permaisuri sendiri yang mengabari Saya tentang berita duka itu,!? " Mendengar penjelasan Abiyan Martapura dan Panglima Ranapati saling pandang tidak mengerti Dengan apa yang di maksud oleh Abiyan,. Bagaimana mungkin Orang yang sudah meninggal datang memberi kabar tentang kematiannya sendiri, Namun mengingat Abiyan Selalu berbicara Apaadanya membuat mereka Hanya diam dengan rasa penasaran,. Raja Masauth yang sudah mengetahui sebagian besar kehebatan Abiyan hanya mengulum senyum sambil membuka jalan dan mempersilahkan Abiyan dan yang lainnya Melanjutkan perjalanan menuju Mushollah.,


__ADS_2