Trapped My Cruel Lecturer

Trapped My Cruel Lecturer
Mulai saling lirik


__ADS_3

Ryuzaki masuk ke dalam kamarnya dan segera menyingkirkan beberapa barang-barang miliknya yang setidaknya mengganggu kegiatan belajar Aerith nanti. Tidak ada barang berharga sama sekali karena memang Ryuzaki bukan tipe orang yang menyimpan barang berharganya di dalam kamar. Ryuzaki membereskan kamarnya hanya agar tidak ada bahan yang bisa Aerith olokan padanya. Biasa, ketika mulut suka menyinyir membuat dia tidak suka jika ada yang menyinyir nya.


Tepat dia selesai membersihkan diri, pintu kamarnya di ketuk dari laur. Ryuzaki lekas meminta Aerith untuk masuk karena sudah tahu siapa pelaku pengetukan pintu kamarnya. Ryuzaki mempersilahkan Aerith untuk duduk di karpet bulu tebal yang kualitasnya sangat bagus karena jika duduk di sana akan merasa langsung hangat.


Mata Aerith melihat ke segala penjuru kamar milik Ryuzaki, dan yang bisa Aerith katakan adalah kamar ini sangat luas, lebih luas dari kamarnya malah. Di tempatnya Aerith berada saat ini hanya ada meja kerja Ryuzaki, kemudian rak buku yang berisi berbagai macam buku, sedangkan tempat tidur milik Ryuzaki belum Aerith temukan. Sepertinya ada ruangan lain di dalam kamar ini.


" Mana laptop mu? " tanya Ryuzaki yang melihat Aerith hanya membawa buku saja dan pena.


" Tertinggal di mobil. Aku sungguh malas turun lagi ke bawah. Seluruh tenaga ku terkuras habis karena marah dan menangis tadi.. " gerutu Aerith yang memang benar malas turun ke basement.


" Huft... Begitu saja kau sudah malas. Lalu ketika ditegur dirimu itu malas malah marah-marah tidak jelas seperti tadi. " sarkas Ryuzaki berjalan menuju ke meja kerjanya mengambil laptop miliknya. Jika bukan karena besok sudah harus dikumpulkan, sebenarnya Ryuzaki malas sekali meminjamkan miliknya pada Aerith. Ini karena pengaturan dia sendiri tadi, dan Ryuzaki jadi kesal karena itu.


Tanpa banyak bicara Aerith mulai mengerjakan tugasnya dari awal lagi. Pekerjaan yang dia kerjakan dengan sepenuh jiwa dianggap hanya pekerjaan anak SD saja oleh pria yang berada di sampingnya ini. Sungguh sangat menyebalkan sekali kan. Aerith ingin sekali menjambak rambut suaminya ini untuk meluapkan kekesalannya.


Ryuzaki tidak hanya diam saja saat ini, dia juga tengah menulis materi yang akan dia paparkan besok di kelas Aerith di jam kedua dan kelas IT di jam pertamanya mengisi kelas. Memang seperti inilah dia setiap hari sepulang mengajar di kampus, karena dengan membaca ulang materi dia bisa lebih memahami hal yang sebelumnya kurang dia pahami.


Helaan nafas Aerith sedikit mengganggu Ryuzaki membaca, hingga ketika dia menengok ke arah Aerith hendak menegurnya, mata Ryuzaki terpaku melihat wajah Aerith.

__ADS_1


" Cantik... Andai saja dia tidak serumit yang aku ketahui, mungkin aku juga tidak akan terlalu menjaga jarak darinya.. " batin Ryuzaki menatap wajah Aerith.


Menurut Ryuzaki, wajah Aerith memiliki kelebihan yang lain dari yang lain. Aerith lebih ke imut dibandingkan cantik. Wajahnya terlihat lebih muda dari umurnya sekarang, dan satu hal positif dari diri Aerith yang Ryuzaki sukai adalah, Aerith tidak pernah menggunakan make up terlalu menor. Biasanya memang Aerith memakai riasan natural, karena dia merasa wajahnya sudah cantik tanpa dipoles sekalipun.


" Pak.. Ini sudah benar atau belum? " tanya Aerith membuyarkan lamunan Ryuzaki. Karena takut dikira terpesona dengan wajah Aerith, lantas Ryuzaki langsung membalikan badannya dan berpura-pura berdiri menuju ke tak buku dan mengambil buku yang bisa dijadikan referensi oleh Aerith dalam mengerjakan tugasnya.


" Kamu baca ini dulu, biar aku periksa yang itu.. " Ryuzaki menyerahkan sebuah buku pada Aerith dan langsung diterima olehnya dan dibaca.


" Oke.. " jawab Aerith terlihat sudah mulai santai ketika berbincang dengan Ryuzaki.


Tidak ada komentar, Ryuzaki langsung melihat ke layar laptop. Awalnya dia pikir Aerith akan mengerjakannya dengan baik, tapi nyatanya masih saja acak-acakan. Membuat Ryuzaki sedikit kesal karena hal itu.


" Ajari dong.. Bapak dari tadi sibuk sendiri, semuanya ini saya yang kerjakan sendiri anda tidak membantu sama sekali, sekarang anda malah menyalahkan saya... " gerutu Aerith..


" Sini.. " Ryuzaki menarik buku Aerith dan mulai menjelaskan beberapa poin yang harus diperhatikan dalam pengerjaan tugas ini.


Aerith mendengarkan dengan sungguh-sungguh setiap kata yang terucap dari mulut suaminya ini. Sedikit banyak Aerith memang mengerti karena sejujurnya dia tidak begitu bodoh amat. Hanya saja karena tidak adanya waktu untuk belajar karena harus mencari uang, membuat Aerith tidak bisa maksimal dalam belajar selama ini.

__ADS_1


Ryuzaki dengan telaten menjelaskan dengan bahasa yang paling mudah untuk diterima. Sadar jika yang dihadapi ini adalah mahasiswinya dengan kapasitas otak tidak sejenius dirinya. Jika menggunakan bahasa yang sulit dimengerti, sudah barang pasti Aerith bukannya paham malah semakin tidak karuan.


Kedua orang ini sedari tadi saling mencuri pandang tanpa ada yang menyadari satu sama lain jika keduanya sama-sama melakukan hal itu. Aerith melirik duluan dua detik, lalu beralih melihat buku, begitu juga dengan Ryuzaki. Sepertinya sudah muncul ketertarikan satu sama lain karena seringnya bertengkar.


Aerith juga tidak munafik dengan mengatakan suaminya itu jelek karena nyatanya suaminya ini sangatlah tampan. Dibandingkan dengan saudara kembarnya, Ryuzaki paling tampan karena ada sedikit unsur manis yang terlihat di wajahnya. Apalagi dengan tahi lalat yang ada di tulang pipi sebelah kanan, semakin membuat sedap dipandang mata wajahnya.


" Kau mengerti kan? " tanya Ryuzaki setelah hampir setengah jam berceloteh mengajari Aerith.


" Hm.. Saya akan mencobanya.. Tapi pak, boleh tidak jika saya mengambil minuman dan cemilan? Belajar tanpa ngemil, hehehehe rasanya bagai sayur tanpa garam pak.. " Aerith nyengir kuda dengan jari yang membentuk huruf V.


" Boleh.. Ambil saja yang banyak sekalian.. " Ryuzaki mengizinkan. Dia bukan tipe yang harus ada cemilan dalam setiap aktifitas santainya, berbeda dengan sang istri. Ryuzaki tahu hal itu karena saat menonton bersama hari itu, dia bisa tahu jika snag istri selalu ngemil ketika melakukan suatu aktifitas santai.


Ryuzaki menatap punggung Aerith yang keluar dari kamarnya. Tidak mendengar wanita itu berteriak dan menurut padanya, sungguh sangat tenang dan damai. Sisi penurut Aerith ini, Ryuzaki sangat menyukainya. Rasanya seperti memelihara seekor anak anjing yang akan menggoyangkan ekornya ketika dipanggil. Ryuzaki menepuk dahinya pelan karena pemikiran konyol yang merasukinya. Bagaimana bisa wanita yang jika kumat akan mengamuk itu, seperti anak anjing. Yang ada adalah anak singa atau harimau.


Barang bawaan Aerith benar-benar sangat banyak sekali saat kembali memasuki kamar Ryuzaki. Rupanya istri dari pak dosen itu sungguh membawa banyak camilan seperti yang Ryuzaki katakan tadi. Hal itu tentu membuat Ryuzaki geleng kepala melihatnya, sebesar apa nafsu makan istrinya ini sampai cemilan empat sampai lima orang diembat nya sekaligus.


Aerith pun kembali mengerjakan tugasnya dengan lembar baru sambil tangannya sesekali mengambil cemilan yang dia bawa dari dapur tadi. Bibi Ino yang menyiapkan itu, katanya agar semangat belajar. Aerith senang sekali diperhatikan bibi Ino, seperti memiliki seorang ibu lagi karena perhatian maid dari kediaman Narita itu.

__ADS_1


Alis Ryuzaki menukik tajam kala melihat ponsel Aerith bergetar dan melihat nama yang menurutnya lebih kepada inisial dari pada nama. Perasaan Ryuzaki langsung bad mood, ingin sekali dia menjawab telepon itu untuk tahu siapa yang menelepon sang istri.


" Siapa Kotaka? " tanya Ryuzaki. Mata Aerith langsung melebar mendengar pertanyaan Aerith. Segera dia ambil ponselnya dan hendak menjawab sebelum Ryuzaki semakin curiga. Tapi dengan cepat Ryuzaki mengambil ponsel milik Aerith dan langsung mematikannya tanpa berucap sedikit pun. Tapi dari raut wajahnya, terlihat jika Ryuzaki tidak senang sama sekali


__ADS_2