Trapped My Cruel Lecturer

Trapped My Cruel Lecturer
Wanita pingsan


__ADS_3

Warga di sebuah desa yang ada di wilayah barat di area sekitar cekungan sungai Ota dan sungai Tenryu di Shizuoka, dihebohkan dengan ditemukannya seorang wanita yang pingsan di dekat perkebunan teh milik pria tua bernama Kenji Matsuda. Para pekerja lekas berdatangan untuk membantu membawa wanita yang pingsan itu menuju ke rumah dari pemilik perkebunan.


" Matsuda san.... Matsuda san.. " terdengar suara ribut-ribut di luar, membuat si pemilik rumah keluar untuk melihat.


" Ada apa ini ribut-ribut? " tanya Matsuda san, ketika dirinya melihat banyak dari pekerjanya yang sudah memenuhi karangan depan rumahnya.


" Matsuda san.. Kami menemukan seorang wanita yang pingsan di jalan menuju ke perkebunan.. Karena itu kami bawa kemari.. " ucap Shoujo yang merupakan orang yang dipercaya oleh Matsuda san untuk mengurus perkebunan teh miliknya.


" Kalau ada orang pingsan, kenapa dibawa kemari? Bawa saja ke klinik atau ke rumah sakit.. Memangnya kalian pikir aku ini dokter, kalian bawa ke sini.. " Matsuda san sudah berkacak pinggang marah-marah.


" Aduh... Matsuda san lihat dulu baru marah-marah.. " Shoujo san meminta seseorang untuk membawa wanita yang pingsan itu maju untuk dilihat Matsuda san.


" Ini.... " mata Matsuda san membulat penuh kala melihat siapa yang ada di depannya. Wajah ini, sama dengan wajah seseorang yang amat berarti baginya dari dulu hingga sekarang.


Tak banyak protes lagi, Matsuda san meminta agar para pekerjanya itu membawa wanita yang pingsan itu masuk ke dalam rumah sederhananya. Kemudian dia meminta Shoujo san untuk memanggil putranya yang merupakan seorang dokter meski hanya dokter umum saja. Tapi itu lebih baik, karena masih ada dokter di sekitar perkebunan ini. Memudahkan bila mana pekerja ada yang sakit.


Tak lama, putra dari Shoujo san benar-benar datang dengan membawa peralatannya sebagai dokter. Cukup terkejut melihat wajah yang sangat familiar baginya, tapi rasanya itu cukup aneh karena rentan waktu yang berbeda. Lekas saja Kenzo memeriksa wanita yang pingsan itu.


Semua orang yang tadi mengantarkan wanita pingsan ini sudah kembali lagi bekerja, menyisakan Shoujo san, Matsuda san dan Kenzo, dokter yang memeriksa wanita ini.


" Ada apa? Apa dia sakit parah? " tanya Shoujo san saat melihat alis Kenzo mengernyit ketika memeriksa wanita itu.


" Wanita ini harus dibawa ke rumah sakit.. Sepertinya dia baru saja mengalami pendarahan yang entah tidak bisa dikatakan sekarang.. Perlu pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui hal itu... Wanita ini tidak dalam kondisi fisik dan mental yang baik.. " ucap Kenzo yang kemudian membereskan peralatan dokternya.

__ADS_1


" Kita bawa ke rumah sakit sekarang.. " ucap Matsuda san buru-buru.


" Matsuda san.. Kita tidak mengenal wanita ini, tidak ditemukan juga identitasnya.. Akan sangat lebih baik jika kita melaporkan ke polisi terlebih dahulu... " ucap Kenzo.


" Jang... an... " semua orang langsung tersentak kaget ketika mendengar suara.


" Kau sadar.. " Matsuda san langsung maju.


" Eugh.... Iya... Maaf.. " wanita berusaha ingin duduk tapi tubuhnya masih terasa lemas.


Shoujo san lekas berlari ke dapur untuk membuatkan minuman dan bubur untuk wanita yang sudah sadar itu. Jiwa kemanusiaan nya terketuk ketika melihat wanita itu lemah dan tidak berdaya. Pikirannya jatuh ke istrinya yang juga seorang wanita. Bagaimana jika istrinya pun mengalami hal yang sama.


Panjang umur, karena tidak lama istri dari Shoujo san datang karena mendengar gosip di perkebunan tentang wanita yang ditemukan yang mana mirip dengan seseorang yang dia kenal.


" Di kamar tamu.. Coba kamu lihat ke sana!! " Hanako mengangguk dan lekas menuju ke kamar tamu.


Saat Hanako tiba di sana, dia langsung mematung di tempat karena melihat sosok yang dia kenal, tapi jelas itu tidak mungkin karena wanita ini masih sangat muda. Hanako mendekat dan mengambil tempat duduk di samping wanita yang baru saja sadar itu. Pasalnya dia pria yang ada di dalam kamar tamu ini sejak tadi hanya diam dan memperhatikan wanita ini kebingungan.


" Bagaimana kondisi mu? Apa ada yang kau rasakan tidak nyaman? Kau bisa mengatakannya karena pria di belakang ku ini adalah seorang dokter. " ucap Hanako bertanya.


" Maafkan saya... Tapi ini dimana ya? " tanya wanita itu. Jujur saja pertanyaan ini membuat semua yang di ruangan itu terkejut karena pastinya ada sesuatu yang terjadi pada wanita ini.


" Kamu ada di perkebunan teh milik Matsuda san.. Ini ada di Shizuoka.. Memangnya dari mana asal mu? Kenapa bisa sampai disini? " tanya Hanako.

__ADS_1


" Saya ikut mobil dari penjual sayur dari Kyoto. Tapi ketika sampai di pasar, barang-barang saya di rampok dan setelah itu saya tidak ingat lagi.. Ssshhh.... " cerita wanita itu.


" Ya Tuhan... Malang sekali nasib mu nak, lalu di apa nama mu? Di mana keluarga mu? Kami akan mengantar ku ke sana. " Hanako san menatap wanita itu iba.


" Hirano... Aerith... Dan saya, tidak.... ehm... tidak punya keluarga lagi.. "


" Ya Tuhan.... " Hanako san menutup mulutnya terkejut.


" Kalau begitu tinggal saja disini bersama ku... Aku juga tidak memiliki keluarga, jadi kita yang sama-sama sebatang kara, lebih baik bersama. Bagaimana? " Matsuda san menawarkan.


Wanita pingsan ini adalah Aerith. Dia meninggalkan Kyoto menumpang pada mobil sayur yang katanya akan pergi ke Shizuoka. Namun ketika sampai di pasar Shizuoka, ada beberapa preman yang menargetkan Aerith san mencuri semua barang Aerith. Tas dan koper Aerith mereka bawa. Kemudian saat sadar Aerith sudah ada di rumah pria tua bernama Matsuda san itu.


Memang tidak seberapa yang hilang saat barang-barang nya dijambret tadi. Hanya sisa uang perjalanan dari menjual ponsel mewah milik Aerith saja yang tersisa. Tapi seharusnya uang itu cukup untuk menghidupi dirinya selama beberapa minggu sampai dia bisa mendapatkan pekerjaan.


Tapi angan tinggallah angan, karena kenyataan yang terjadi saat ini tidak seperti yang dia harapkan. Dia menjadi manusia paling miskin di dunia ini. Tapi entah mengapa, Aerith justru merasa hidupnya sekarang jauh lebih baik. Setidaknya dia tidak pagi melakukan dosa.


" Tinggal saja bersama dengan Matsuda san, nona.. Toh kalian bisa saling menjaga jika tinggal. bersama.. Matsuda san sudah memiliki umur yang tidak muda lagi, jujur saja kami khawatir beliau tinggal seorang diri.. " ujar Shoujo san yang tiba-tiba ikut bicara. Dia datang membawa nampan berisi bubur ayam dan teh hangat.


" Silahkan dinikmati, ini adalah teh yang langsung dipetik dari kebunnya. " Matsuda san menyajikan makanan dan minuman itu untuk Aerith.


Tanpa terasa air mata Aerith menetes karena tidak menyangka masih ada orang yang mau baik padanya. Setelah yang dia alami selama hidupnya ini, Aerith belajar bahwa jika ingin orang lain berlaku baik pada diri kita, maka kita harus memberikan imbal balik untuk itu. Contoh saja hubungannya dengan Max dan Ryuzaki.


Kini Aerith sadar, bahwa masih banyak orang baik di dunia ini. Tidak hanya orang yang sama seperti paman dan bibinya yang terang-terangan membuangnya. Juga tidak hanya diisi orang-orang yang memiliki kuasa dan uang, sehingga bisa berlaku semena-mena pada orang lain.

__ADS_1


" Terima kasih... Terima masih.. " ucap Aerith tulus.


__ADS_2