
Meski tidak ingin tapi bagaimana pun Aerith tidak pernah berhenti mengetahui kabar tentang mantan suaminya. Kalau ditanya dari mana dia tahu kabar tentang mantan suaminya? Jawabannya dari media televisi yang terus menerus menampilkan kemesraan antara mantan suaminya dengan model internasional itu.
Seperti pagi ini, setelah Aerith sarapan dengan Matsuda san, dia yang akan diajak untuk berkeliling perkebunan memilih menunggu dengan menonton televisi, saat Matsuda san tengah bersiap. Entah apa yang dia lakukan, kenapa bisa disebut bersiap padahal Aerith saja tidak membawa apapun.
Tuan muda ketiga keluarga Narita, semakin memperlihatkan kemesraan nya dengan tunangannya. Terbukti hari ini, tuan muda ketiga tengah menemani tunangannya untuk pemotretan salah satu majalah fashion kenamaan. Mari kita saksikan bagaimana perkembangan hubungan mereka berdua.
Aerith mencebik ketika melihat bagaimana sikap. Ryuzaki yang terkesan sangat menjaga sekali tunangannya. Jujur saja ada sedikit rasa cemburu di hati Aerith. Tapi dia buru-buru mengenyahkan perasaan itu karena sudah tidak ingin lagi dalam hidupnya ada nama mantan suaminya. Biarlah jalan mereka sekarang terpisah, toh dari awal hanya berjalan di jalan yang sama pun, itu merupakan khayalan belaka.
Beruntung Aerith masih baru-baru merasakan cinta dengan Ryuzaki, jadi meskipun harinya sangat sakit tapi Aerith masih bisa menahan semuanya. Terbukti sekarang dia mulai bisa melupakan Ryuzaki dengan menyibukan dirinya di tempat ini.
" Aerith.. Ayo.. " ajak Matsuda san.
" Iya kek.. " Aerith langsung menyusul Matsuda san. Mereka akan berjalan kaki sampai ke kebun teh karena jaraknya memang tidak jauh.
" Kenapa tidak membeli Buggy car saja kek? Untuk kakek kan jadi tidak kelelahan.. " tanya Aerith ketika mereka tengah melewati jalanan menuju ke lebih teh.
" Itu untuk orang yang malas.. Padahal jalan kaki begini itu bisa membuat badan lebih sehat dan bugar.. Kau lihat aku, usia ku sudah enam puluh satu tahun, tapi masih kuat kan.. " ucap Matsuda san membanggakan diri sendiri.
" Itu namanya kakek mengatai ku.. Aku kan tidak bisa berjalan jauh kek.. " Aerith mencebik.
__ADS_1
Melihat berapa lucunya wajah Aerith, Matsuda san langsung tertawa ngakak. Rasanya lucu saja disaat yang muda saja sudah tidak bisa berjalan jauh, lalu apakabar nanti ketika dia sudah berusia senja seperti Matsuda san.
Interaksi antara Matsuda san dan Aerith menarik perhatian dari orang-orang yang tengah bekerja untuk memetik teh. Mereka merasa baru pertama kali ini melihat pemilik kebun teh bisa tertawa seperti itu. Seolah kesedihan yang dia rasanya telah menghilang. Semua orang di daerah ini bagaimana kisah masa lalu Matsuda san. Apalagi ketika seluruh keluarganya meninggal dalam kecelakaan, makin bersalahlah Matsuda san karena gagal melindungi orang-orang yang dia cintai.
Tapi kini melihat pemilik kebun teh bisa tertawa bahagia lagi, semua ikut senang melihatnya. Tawa itupun menular kesemua orang yang melihatnya. Menjadikan pagi ini begitu indah untuk semua orang karena pagi ini diawali dengan sukacita.
" Selamat pagi semua... " sapa Matsuda san pada para pekerja yang tengah berkumpul karena panggilan darinya.
" Selamat pagi Matsuda san.. " sahut mereka semua.
" Saya datang pagi ini bersama dengan cucu saya, namanya Aerith dan mulai sekarang cucu saya ini akan ikut terjun mengurus perkebunan.. Saya harap kalian semua membantu san juga mengawal cucu saya agar bisa melakukan apa yang menjadi bagian nya dengan baik.. " ucap Matsuda san.
Luas kebun teh milik Matsuda san memang tidak perlu diragukan lagi. Sangat luas dan menurut pekerja yang mengajak Aerith untuk jalan-jalan, sejak dulu kebun teh ini memang sudah besar, kemudian Matsuda san terus memperbesar wilayah kebun teh ini dengan membeli kebun pribadi milik warga dengan harga fantastis. Jadilah sekarang kebunnya sudah sebesar ini.
" Sudah berapa lama Matsuda san sebatang kara bibi? " Aerith mulai bertanya untuk masalah yang lebih pribadi.
" Lima belas tahun nona.. Saya ingat betul saat itu adalah malam tahun baru. Rencana keluarga besar ingin melakukan wisata ke pantai, tapi di tengah jalan mereka kecelakaan karena ditabrak truk yang sopirnya mengantuk.. " terang bibi yang bernama Aida.
" Apa Matsuda san tidak ingin menikah lagi? Yah, agar tidak sendiri. "
__ADS_1
" Matsuda san, sejak dulu hanya jatuh cinta pada wanita yang sekarang sudah diketahui dimana keberadaannya. Jadi beliau sama sekali tidak berniat untuk dekat dengan wanita lain.. "
" Ooooo... " Aerith mengangguk-angguk.
" Emang benar ya, nona ini cucunya Matsuda san? " tanya bibi Aida.
" Eh.. Bukan bi, saya juga tidak tahu kenapa beliau mengatakan saya cucunya.. Waktu itu saya hanya menceritakan tentang keluarga saya.. Lalu Matsuda san bertanya tentang siapa nama nenek. saya.. " jawab Aerith.
" Memang nama neneknya nona siapa kalau boleh saya tahu? "
" Miyako... "
" Eh... " bibi Aida nampak terkejut.
" Kenapa bi? "
" Nggak apa nona.. Kali aja Matsuda san itu menganggap ada cucu biar masa tuanya tidak sendirian.. Lagipula kalau saya tidak salah dengar dari warga lain, nona kan sudah sebatang kara juga kan? " Aerith mengangguk.
Aerith dan bibi Aida pun melanjutkan berkeliling kebun teh. Sesekali mereka akan menyapa para pekerja lain. Kemudian dirasa sudah lelah, Aerith meminta pada bibi Aida untuk segera kembali ke tempat dimana Matsuda san berada.
__ADS_1
" Ternyata benar anda adalah keturunan dari beliau nona.. Syukurlah, beliau jadi tidak kesepian dimasa tua beliau.. "