Trapped My Cruel Lecturer

Trapped My Cruel Lecturer
Bertemu sugar daddy


__ADS_3

Pagi ini Aerith mendapatkan balasan pesan dari Max. Sugar daddy nya itu meminta Aerith untuk bertemu di apartemen pribadi milik Aerith. Tentu saja jika disana, tidak akan ada perbincangan yang ada hanya akan ini dan itu saja. Karena itu Aerith meminta bertemu di cafe yang berada tidak jauh dari kampus tempatnya kuliah. Cafe itu adalah Cafe milik Nanako yang diberikan oleh ayahnya sebagai hadiah ulang tahun ke tujuh belas.


Sekarang disinilah Aerith, di ruang pribadi yang hanya bisa dia dan Nanako masuki, menunggu kedatangan Max. Mereka berjanji setelah jam makan siang, jadi cafe ini tidak memiliki banyak pengunjung. Aerith sudah menghabiskan dua gelas jus, tapi Max tidak kunjung datang. Hati Aerith was-was takut jika Max membohonginya.


" Daddy kemana belum juga datang.. Udah telat setengah lagi ini.. " Aerith melihat arloji di pergelangan tangan kanannya.


" Ish.. Kebiasaan ini orang, segitu sibuknya sampai nggak pernah tepat janji kalau lagi janjian begini.. Seneng banget dia ngaret.. " kesal Aerith langsung menghabiskan jus di depannya sekali seruput.


" Sekarang yang sering ingkar janji itu justru dirimu, Ao Ae..? Lama nggak bertemu Baby.. "


Jantung Aerith langsung berhenti berdetaka sepersekian detik begitu mendengar suara yang dia tahu itu milik sugar daddy nya. Aerith merasa aneh dengan ucapan dari Max, menurut Aerith pasti Max sudah tahu sesuatu apalagi sampai foto-foto itu mencuat ke permukaan.


" Maksud daddy apa? Aku nggak ngerti.. " ucap Aerith sedikit bergetar karena takut ketahuan berpura-pura.


" Kau itu tidak pandai membohongi ku baby.. Jadi jangan terlalu lelah berpikir kebohongan apa yang akan kau ciptakan untuk menutupi kebohongan mu sebelumnya... Aerith bisa kau dengar suara ku kan, berarti kau sadar betul siapa diri ku dan apa hubungan kita.. Berani-beraninya kau menjerat pria lain dalam pesona mu... " rahang Max terlihat mengeras.


" Gawat... Dia sudah tahu dan sekarang dia marah.. " batin Aerith.


" Daddy dengarkan dulu penjelasan ku.. Aku tidak menjebak pria itu tapi terjadi sesuatu yang mengharuskan aku bersamanya.. Aku hamil anaknya daddy, karena aku tahu daddy tidak mungkin menerima anak ini, aku juga tidak ingin menggugurkan anak ini, jadi aku menerima pertanggung jawaban dari pria itu.. Benar iya begitu daddy.. "

__ADS_1


" Maafkan aku Ryuzaki san... Maafkan ibu nak... " batin Aerith menyesali kebohongan yang terpaksa harus dia ucapkan.


" Apa? Jangan bohong baby,, aku tidak akan mengampuni mu jika kau berbohong.. " Max sudah menunjukan tanduknya, dan Aerith harus mencari alasan yang tepat agar dia tidak terkena tanduknya.


" Untuk apa aku bohong daddy, ingat aku pernah tanya jika aku hamil anak daddy apa yang akan daddy lakukan.. Saat itu daddy menolak keras, jadi aku tidak mungkin membawa anak ini ke depan daddy. Jadi aku menerima pertanggung jawaban pria itu.. Hanya itu dad, kami juga akan bercerai setelah anak ini lahir.. " Aerith masih berusaha merayu Max agar tidak mengamuk.


" Jadi sekarang kau hamil? " Max bertanya untuk mendapatkan jawaban yang jelas.


" Iya dad.. Usia kandungan ku lima minggu.. Ini anaknya, jadi biarkan dia tanggung jawab setelah semuanya aku akan kembali pada mu dad.. Aku mohon pengertian mu daddy.. " Aerith memelas, bahkan kedua matanya terlihat sudah menggenang.


Satu hal yang selalu menjadi kelemahan Max adalah air mata Aerith. Entah apa yang dipikirkan pria itu, tapi setiap kali Aerith menangis, Max akan benar-benar kalang kabut karena hal itu. Aerith sangat berbeda di mata Max, baginya Aerith gadis yang spesial, berbeda dengan gadis lain yang pernah memiliki skandal dengannya. Aerith menjadi kesayangan Max karena itu dia murka saat tahu Aerith bersama dengan pria lain.


" Daddy... " Aerith terus merengek, jika seperti ini Max pasti akan luluh.


" Oke... Hanya setelah anak ini lahir, kau harus kembali pada ku.. Awas jika kau bohong pada ku Aerith. " Max memperingati.


" Tentu daddy... Aku selalu menyayangi daddy, karena daddy adalah yang terbaik.. " ucap Aerith tulus.


" Aku tidak izinkan kau disentuh olehnya walau hanya seujung jari saja.. Mengerti Aerith.? "

__ADS_1


" Tentu dad.. Aku milik daddy.. "


" Maaf daddy, aku terpaksa berbohong.. Aku tidak ada pilihan lain.. Aku sayang daddy.. "


Max pun memesan makan siang untuk dirinya dan Aerith. Rasanya dia sungguh lemah, karena hanya melihat Aerith akan menangis saja dia sudah panik dan luluh. Dasar memang Aerith sangat pintar mengambil hatinya sejak dulu. Max menyayangi Aerith bukan hanya sekedar sebagai wanita yang memuaskan dahaganya dalam rumah tangga. Tapi Max menyayangi Aerith sebagai seorang pria terhadap wanita.


" Kau kurusan... Makan yang banyak, apa pria itu tidak memberi mu makan, apanya yang keluarga terkaya di Jepang. Memberi mu makan saja tidak bisa.. " Max mengambilkan banyak sekali lauk untuk Aerith.


" Ini cukup daddy. Nanti tidak akan habis.. " protes Aerith dengan wajah dipenuhi senyuman sendu.


Aerith tahu, bagi pria di depannya ini Aerith adalah segalanya. Pria ini berkali-kali mengatakan agar Aerith tidak meninggalkan dia. Tapi bisa apa, pria ini tidak menginginkan anak dalam kandungan Aerith dan itu terpaksa membuat Aerith mengambil jalan melelahkan ini. Aerith tahu telah menyakiti pria yang menjadi penyelamat hidupnya itu. Aerith sekarang dilema, dia mencintai Ryuzaki tapi tidak akan pernah bisa dengan teganya meninggalkan pria ini.


" Aku sayang daddy.. " ucap Aerith tiba-tiba.


" Heh... Tentu saja, karena tidak mungkin kau tidak sayang padaku setelah apa yang aku lakukan untuk mu.. " ucap Mac percaya diri. Tapi sejujurnya dia sangat senang sekali mendengar ucapan dari Aerith itu.


" Huuu... Daddy paling pintar sekali kalau di suruh membanggakan diri sendiri.. " keduanya pun tertawa dan melanjutkan makan.


Setelah selesai dengan pertemuan mereka, Max memaksa untuk mengantar Aerith. Dan akhirnya dengan terpaksa Aerith menyetujui dan tentunya Aerith meminta Max mengantarkan ke kondo milik Ryuzaki. Tapi Aerith ketahui, interaksinya dengan Max di dalam cafe hingga ke parkiran mobil. Semua itu disaksikan oleh sepasang mata yang merah karena marah.

__ADS_1


__ADS_2