
Tiga hari sudah berlalu sejak Aerith melihat Ryuzaki dan seorang wanita berpelukan di resto bento, sejak itu pula baik Ryuzaki maupun Aerith masih belum ada pembicaraan apapun. Aerith masih enggan bicara dengan Ryuzaki, sedang Ryuzaki sendiri tidak tahu harus bicara apa dengan Aerith. Pasalnya pada awal-awal kemarin, Ryuzaki sudah mengajak bicara apapun tapi Aerith tidak mau menanggapi, malah terkesan cuek. Ryuzaki pun bingung harus bicara seperti apalagi agar Aerith mau menanggapi. Padahal sejujurnya saja, jika Ryuzaki mau membahas tentang wanita itu, mungkin Aerith tidak akan mendiamkannya.
Hari ini entah disengaja atau tidak, seluruh keluarga Narita tidak bisa menggantikan Ryuzaki untuk menemani Aerith di rumah sakit. Jadi mau tidak mau memang harus Ryuzaki yang menjaga Aerith sendiri. Hingga akhirnya Ryuzaki terpaksa melakukan pengajaran mata kuliahnya menggunakan metode pengajaran online. Dia sudah terlalu banyak izin kemarin saat Aerith dirawat pertama kali di rumah sakit, jadi dia sekarang sudah hampir tidak memiliki jadwal libur lagi, karena semuanya sudah hampir dia gunakan.
" Kau ingin makan sesuatu? Aku akan menyiapkannya sebelum memulai mengajar. " Tanya Ryuzaki.
" Kau mengajar saja, kalau aku lapar nanti aku cari sendiri.. " Jawab Aerith sedikit ketus bicaranya.
Huft...
Ryuzaki hanya bisa menghela nafas saja menghadapi sikap acuh sangat istri. Tapi sekarang jauh lebih baik karena Aerith mau menjawab pertanyaan yang dia ajukan, meski jawaban dari istrinya ini kadang tidak enak didengar juga. Tapi lebih baik daripada dia didiamkan. Ryuzaki sebenarnya bukan tidak tahu maksud ngambeknya Aerith kali ini, hanya saja untuk kembali membahas ' dia ', Ryuzaki masih enggan. Apalagi ketika mengingat bagaimana ' dia ' meninggalkan dirinya di altar pernikahan.
" Aku mengajar dulu ya.. Oh ya,, nanti asisten ku kemari, apa yang kau inginkan bisa minta padanya.. " Aerith mengangguk. Dia pun kembali memunggungi suaminya itu dan memilih memejamkan mata.
__ADS_1
Ryuzaki mengambil tempat duduk yang nyaman untuk nya melakukan konferensi video mengajar anak didiknya. Dia mengambil sudut yang tidak akan terlalu kentara jika dia sedang berada di rumah sakit. Bisa heboh nanti seluruh mahasiswanya jika tahu dia sedang berada di rumah sakit. Dan mencari tahu apa yang terjadi.
Lama Ryuzaki mengajar, dan karena terlalu fokus pada layar laptopnya, sampai dia tidak menyadari Aerith pergi meninggalkan kamar rawat inap nya sejak beberapa waktu yang lalu. Aerith bosan di kamarnya dan lebih bosan lagi mendengarkan Ryuzaki mengajar anak didiknya yang bahasanya sama sekali dia tidak mengerti. Maklumi saja, Aerith adalah mahasiswa fakultas ekonomi, sedangkan Ryuzaki mengajar di fakultas IT.
" Baik... Sekian dari saya.. Untuk tugas tolong kirimkan via email ke email saya, batas waktunya sampai besok jam tiga sore tepat. Kalian paham kan dari arti kata ' tepat ' di sini..? " Ujar Ryuzaki mengakhiri sesi pengajarannya.
Ryuzaki segera membereskan semua barang-barang yang tadi dia gunakan untuk mengajar. Dilihatnya jam sudah hampir waktu jam makan siang. Ryuzaki pun berniat ingin membelikan Aerith makanan yang dia inginkan. Dan dimana Asistennya berada, karena sampai detik ini belum juga datang, membuat Ryuzaki jadi kesal setengah mati.
Ryuzaki hendak menuju ke kamar mandi, dia menengok sejenak ke ranjang Aerith, dan betapa terkejutnya dirinya tidak menemukan keberadaan Aerith dimana pun di dalam kamar ini. Panik, Ryuzaki pun mencari Aerith keluar ruangan ke sepanjang koridor rumah sakit tempat dimana Aerith dirawat.
" Sial.. Kemana dia pergi? Bahaya juga kalau dia dalam mode ngambek begini, aku sampai tidak bisa bernafas dengan tenang... " Gumam Ryuzaki sambil menatap ke sana sini mencari sangat istri.
Di taman rumah sakit yang ada di sisi dekat parkiran mobil para pengunjung pasien atau keluarga pasien, Aerith terduduk menatap kosong ke arah depan. Pikirannya terus berkecamuk memikirkan kejadian yang dia lihat di resto bento tiga hari yang lalu. Kenangan menyebalkan itu terus berputar bagai kaset rusak diingatannya. Sungguh sangat menyebalkan karena semua itu terus berputar enggan pergi meninggalkan pikirannya.
__ADS_1
" Ssssttttt.. " Aerith mendesis merasakan sakit di perutnya. Dia tahu kondisinya saat ini tidak akan mudah mengandung janinnya untuk ke depannya nanti, tapi hati ibu mana yang bisa memutuskan untuk menggugurkan kandungannya disaat anaknya tidak dalam kondisi buruk. Terkadang dalam kondisi buruk pun, seorang ibu tetap mempertahankan kandungannya bertaruh nyawa.
" Hei baby... Apa kau sedang marah? Sama sayang, ibu juga sedang marah dengan ayah mu... Eh,, dibilang ayah juga bukan.. Hehehe... " Aerith tersenyum kecut sambil mengajak bicara anak dalam perutnya.
" Hidup ibu sangat sulit nak, jadi ibu terpaksa melakukan ini semua untuk bertahan hidup. Ibu, bukan seseorang yang tidak perlu berpikir nanti malam akan makan malam dengah menu apa. Jangankan nanti malam, sebentar lagi makan siang saja, dulu ibu bingung ingin makan apa. Bukan karena terlalu banyak uang sehingga bingung memilih apa yang dimakan, tapi karena tidak ada sepeserpun.. Hehehehe.. Hidup ibi tragis ya, nak.. "
Tes... Tes..
Air mata Aerith mulai menetes tanpa permisi. Dia terlalu sedih mengingat betapa hidupnya dulu sangat sulit. Namun sejujurnya, saat ini pun hidup Aerith tidak lebih baik dari kehidupannya yang lalu. Kebahagiaan Aerith sekarang hanya kebahagiaan semu saja, karena dalam sekejap apa yang dia usahakan selama dua tahun ini bisa hancur. Aerith selalu menanamkan dalam dirinya, dia yang hanya orang miskin, tidak memiliki siapapun yang akan menjadi orang yang siap memasangkan badan untuk melindunginya. Jadi mau sampai kapan pun, Aerith tidak akan bisa memiliki apapun karena dia tidak memiliki apapun untuk mempertahankannya.
" Bodohnya ibu, telah jatuh cinta padanya sedalam ini.. " Gumam Aerith terlihat sangat sedih sekali.
Seseorang dibalik sebuah pohon tak jauh dari Aerith tersentak kaget mendengar gumaman Aerith, dan lebih terkejut lagi karena melihat Aerith menangis sendirian di taman ini.
__ADS_1