
Dalam sebuah ruangan, terlihat dua orang pria yang berbeda usia saling menatap satu sama lain. Keduanya sama-sama ingin menyampaikan perasaan mereka dengan saling menatap. Karena bagian tubuh manusia yang tidak akan pernah berbohong adalah mata. Begitulah kiranya keduanya saling menatap untuk menyelami hati dari masing-masing.
Pria yang lebih tua, sedang menguji apakah benar pria muda di depannya ini memiliki kesungguhan dengan ucapannya yang ingin membahagiakan seseorang yang sangat berarti bagi si pria tua. Ucapannya yang mengatakan mencintai dan ingin membahagiakan, apakah itu benar, karena sebelumnya pria inilah yang menorehkan luka paling besar pada orang tersayang pria tua ini.
" Kesungguhan mu? Benarkah kau memilikinya untuk membahagiakan dia? Karena setahu ku, kau itu egois dan yang paling banyak menoreh luka untuknya.. " tanya si pria tua.
" Saya memberanikan datang kemari, jelas karena saya yakin bahwa saya memiliki kesungguhan hati yang mana akan membuat dia menjadi seseorang yang akan bahagia karena saya. Pengalaman kemarin, membuat saya sadar bahwa sebenarnya saya sangat mencintai dia.. Karena itu saya bersungguh-sungguh ingin kembali bersamanya.." ucap si pria muda dengan penuh percaya diri.
" Kalau begitu tunjukan.. Selama kau bisa membuat semua orang percaya dengan ketulusan hati mu, aku yakin dia pun akan bisa merasakannya.. Semua bergantung pada mu, apakah kau bisa membuatnya kembali pada mu atau tidak... " pria tua itu menjeda sejenak ucapannya.
" Hidup ku tidak akan lama lagi.. Usia ku sudah tua, jadi aku berharap dia akan hidup bersama seorang pria yang tangguh dan siap menjadi benteng untuknya berlindung.. Aku tidak mengharapkan pria pecundang yang datang padanya.. Ingat itu baik-baik.. " pesan si pria tua itu.
***************************************************
Aerith dibuat terheran-heran dengan kejadian sejak siang tadi di pabrik milik Matsuda san. Setelah mobil yang mengantar makanan, lalu kurir yang mengantarkan bunga, setelahnya datang kurir dari toko kue datang mengantarkan banyak sekali kue yang akhirnya Aerith bagikan untuk para pekerja. Sekarang datang lagi kurir membawakan beberapa benda yang tidak asing bagi Aerith.
Alis Aerith mengernyit heran karena melihat, handphone, beberapa perhiasan dan juga mobil merah kesayangannya dulu berada di depannya. Barang-barang ini Aerith lihat sudah berada di rumah Matsuda san. Pikiran Aerith terus tertuju pada seorang pria yang mungkin saja bisa melakukan ini semua untuknya. Tapi Aerith pun tidak ingin terlalu percaya diri. Karena takut berujung dia malu sendiri nantinya.
__ADS_1
" Sepertinya ini tidak bisa dibiarkan.. Sebenarnya ini ulah siapa? " gumam Aerith mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
Lama Aerith mendengar nada sambung, mungkin di dering yang kesepuluh barulah terdengar suara seseorang yang begitu lembut, menjawab panggilan nya dari sana.
" Aerith chan... Kenapa tiba-tiba menelepon? Apa ada masalah? "
" Maaf menganggu mommy.. Ada yang ingin aku tanyakan mom.. Apakah mommy sibuk? " tanya Aerith. Rupanya seseorang yang dia hubungi adalah mommy Bulan. Setidaknya orang ini tidak akan membohonginya, itu adalah yang Aerith ketahui.
" Ada apa? Sepertinya ini adalah hal penting? "
" Hm... Dia berangkat tepat malam setelah pernikahan Rena berlangsung.. Memangnya kenapa? "
" Hehehe... Tidak apa mom.. Entah kenapa aku merasa bahwa Ryuzaki san, ada di tempat ini.. Hari ini banyak sekali kejadian aneh, dan seingat ku hal absurb seperti ini, hanya dia yang bisa melakukannya.. " terdengar gelak tawa mommy Bulan di seberang sana.
" Aku akan meneleponnya dan menanyakannya.. Tapi Aerith, jika dia meminta satu kesempatan lagi pada mu, apa kau akan memberi anak nakal itu kesempatan? "
" Aku belum tahu mom.. Perasaan Ryuzaki san, aku tidak tahu. Jadi aku belum bisa memutuskan.. "
__ADS_1
Panggilan pun berakhir setelah perbincangan sedikit melenceng dari niat Aerith menelepon mantan ibu mertuanya itu. Aerith kembali melihat-lihat beberapa barang yang ada di dalam mobil yang terparkir rapi di depan rumah Matsuda dan. Sepertinya memang Matsuda san adalah kunci satu-satunya bagi Aerith untuk mengetahui masalah ini, karena Matsuda san berada di rumah sejak menjelang siang tadi.
" Kau sudah pulang Aerith chan? " sapa Matsuda san yang keluar dari arah dapur.
" Iya kek... Ehm kek.... Diluar itu mobil siapa ya? " tanya Aerith.
" Lho... Bukannya itu mobil mu? Kurir yang mengantar mengatakan bahwa itu barang-barang mu yang ada di Kyoto. Aku pikir kau mengusungnya kemari.. " jawab Matsuda san setengah berbohong.
" Kurir yang mengantar? Tapi kek, barang-barang ini sudah aku jual saat aku meninggalkan Kyoto. Lalu bagaimana bisa ada di sini? " tanya Aerith nampak seperti orang bodoh.
" Kakek mana tahu. Kurir itu hanya mengatakan bahwa semua itu milik mu. Ya, jadi kakek Terima saja.. " Matsuda san tersenyum tipis sekali sebelum meninggalkan cucunya itu.
Maafkan saja dirinya berbohong, dia sudah berjanji tidak ikut campur dalam urusan Aerith dengan seseorang yang mengantarkan semua barang-barang itu kemari. Kurir yang disebutkan oleh Matsuda san, bukanlah kurir sembarang kurir. Orang itu mengatakan ingin mengembalikan hak milik Aerith karena kebanyakan benda ini berasal dari Mendiang Max.
Orang ini merasa tidak enak, karena demi menjaga nama baiknya dan keluarganya, Aerith menjual semua harta benda miliknya yang dia kumpulkan selama hidup bersama Max. Anggap saja ini rasa Terima kasih orang itu, telah menyelamatkan harga diri keluarganya.
" Berjuanglah Aerith chan.. Karena jika dia memang jodoh mu, kau hempaskan sejauh mungkin pun, dia akan tetap kembali pada mu.. "
__ADS_1