
Setelah pembicaraannya dengan Kaien tiga hari yang lalu, Ryuzaki masih mengurung diri di kamarnya dan hanya berbaring di ranjang, main game, dan melakukan kegiatan yang sebenarnya biasa dilakukan orang pemalas. Biarlah, karena pikiran Ryuzaki sedang tidak baik-baik saja, dan lagi banyak hal yang perlu dia pecahkan jadi dia memilih bermalas-malasan untuk menghemat kinerja otaknya.
Selama tiga hari ini, Ryuzaki juga tidak menemui Rena. Dia beralasan pergi ke luar kota karena tugas kampus, dan untungnya Rena percaya. Sungguh Ryuzaki benar-benar tidak ingin melihat wajah Rena sekarang. Dia takut dia tidak bisa menahan diri dan berakhir dia menyakiti Rena. Disaat semuanya belum pasti kebenarannya, Ryuzaki tidak mau salah langkah hingga berakhir dia sendiri yang kerepotan.
" Bro... Sedang apa? Boleh gabung tidak? " Daigo dan Kaien datang.
" Main game... Memang kalian tidak sibuk? " tanya Kaien tanpa mengalihkan tatapannya dari layar TV besarnya.
" Tidak sibuk karena ini akhir pekan.. Ayo, kita main sama-sama, rasanya lama sekali kita tidak bermain seperti ini.. " Daigo langsung duduk dan mengambil joystick bluetooth milik Ryuzaki yang tidak digunakan pemiliknya.
" Kalau begitu aku ke dapur minta dibuatkan camilan dan minuman dulu ya.. " Kaien pamit keluar lagi. Jika bermain bersama seperti ini, memang sudah biasa mereka bertiga menyiapkan cemilan dan minuman dingin. Untuk membuat suasana menjadi lebih menyenangkan.
Daigo dan Ryuzaki bermain lebih dulu, mereka memainkan sebuah game terbaru yang diproduksi oleh HN Group, milik daddy mereka yang ada di Indonesia. Saat ini, perusahaan itu dipimpin oleh Moiz Narendra, putra dari kakak mommy Bulan dan sepupu daddy Hoshi.
Mereka memang selalu menjadi yang pertama memainkan semua game yang HN Group buat. Selain untuk uji coba, bisa juga mereka memberikan beberapa saran agar game bisa lebih menarik perhatian masyarakat. Sebenarnya, ini sudah game ke tujuh yang Ryuzaki mainkan selama tiga hari mengurung diri di kamar. Membuat Daigo dan Kaien khawatir, jadi disinilah mereka sekarang ini.
" Yes... Kau kalah.. " Daigo berseru senang. Ryuzaki langsung memberengut kesal.
" Mau memainkan permainan seru? " tawar Daigo. Alis Ryuzaki naik sebelah, merasa jika dia mencium bau-bau hal yang buruk akan terjadi.
" Hei.. Jangan melihat ku begitu.. Permainan ini adalah kita bermain dan yang menang berhak menanyakan pertanyaan apapun, tentu saja pihak yang kalah harus menjawab pertanyaan itu dengan jujur.. " Daigo masih terus mencoba untuk membuat Ryuzaki menyetujui permainan ini.
__ADS_1
" Kau bisa tanya apapun.. Termasuk sesuatu yang menganggu pikiran mu beberapa hari ini.. Karena akhirnya tahu semuanya.. " Ryuzaki tersentak. Sepertinya memang ada udang dibalik rempeyek, jika sampai Daigo ngotot ingin memainkan permainan ini.
" Oke... Jangan ingkar.. " Ryuzaki pun akhirnya setuju setelah berpikir agak lama.
" Aku tidak pernah menjilat ludah ku sendiri.. " Daigo berucap penuh rasa bangga.
Kaien akhirnya datang bersama dengan pelayan yang membawa troli berisikan penuh camilan dan minuman kaleng serta botol yang non alkohol tentunya. Bisa digorok bersama oleh daddy Hoshi kalau ketahuan mabuk di rumah. Kaien menatap sengit dua saudaranya yang justru sudah lebih dulu bermain balapan mobil. Lucu juga, usia sudah hampir kepala tiga, permainannya malah balap mobil.
" Hei.. Kalian ini kenapa meninggalkan ku? " protes Kaien yang langsung mengambil duduk di ranjang Ryuzaki sambil memakan keripik kentang.
" Kami sedang melakukan permainan seru, yang nantinya mana yang kalah akan ditanya dan harus jawab jujur.. " Daigo berucap.
" Heh.. Jangan samakan kami dengan kau yang memang tukang bohong.. Lagi, jangan makan di atas ranjang, Kaien ... " tegur Ryuzaki melotot menatap saudara kembarnya yang sangat menyebalkan itu.
Sebenarnya level menyebalkan ketiga tuan muda Narita ini berbeda-beda. Yang paling tinggi level menyebalkannya adalah Ryuzaki yang adalah level sepuluh, Kaien level 5,dan Daigo sendiri level 7.Jadi sudah lumrah jika mereka bertiga sering sebal satu sama lain, karena mereka pada dasarnya menyebalkan semua.
" Yes.. Aku menang.. " sorak gembira Daigo karena berhasil mengalahkan Ryuzaki.
" Ini gara-gara kau, Kai.. " Ryuzaki menunjuk Kaien dan menyalahkannya.
" Kalah ya kalah saja.. Jangan menyalahkan orang lain.. Kau saja yang bodoh, mau-maunya main balapan mobil dengan ahlinya.. " Ryuzaki langsung menepuk jidatnya karena mengingat sesuatu yang sesuai dengan ucapan Kaien.
__ADS_1
" Ryu.. Apa kau masih memiliki perasaan pada Aerith? " tanya Daigo menghentikan persebaran Kaien dan Ryuzaki.
Pertanyaan ini sebenarnya adalah pertanyaan yang paling dihindari oleh Ryuzaki. Alasannya, karena dirinya terlalu mengakui perasaannya padahal di awal ketahuan Aerith menipunya, dirinya yang paling vokal menyuarakan kebenciannya pada Aerith. Hal itu membuat Ryuzaki malu sendiri pada dirinya dan semua orang.
" Tidak ada pertanyaan lain kah? " Ryuzaki mengerucutkan bibirnya.
" T-I-D-A-K... " Daigo sampai mengeja ucapannya.
Ryuzaki mengelak nafas sedikit gusar, rasanya seperti tengah mengakui bahwa dia telah berbuat kesalahan yang fatal dan sekarang dia sedang diinterogasi. Karena sudah setuju dengan permainan yang diusulkan Daigo tadi, mau tidak mau Ryuzaki pun harus menjawab jujur.
" Hm... Masih.. " Ryuzaki langsung membuang muka.
" Dasar bodoh.. Jika kau masih memiliki perasaan padanya, kenapa kau bersikeras untuk membencinya.. Itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri dan juga dirinya, Ryu.. Kau itu kekanak-kanakan sekali.. " Kaien angkat bicara.
" Sudah.. Ayo lanjutkan lagi permainannya.. " Ryuzaki sengaja mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin terus dipojokan oleh kenyataan.
Permainan berlanjut dengan kali ini giliran Ryuzaki melawan Kaien. Game yang mereka pilih masih sama, balapan mobil karena terbukti efisien jika dipakai bermain seperti ini. Kaien menyeringai ingin membuat Ryuzaki kelabakan, dan melihat reaksi dari saudaranya itu apabila Kaien mengatakan apa yang dia ketahui.
" Jika kau bisa mengalahkan ku.. Tidak perlu bertanya, tapi aku akan memberikan informasi yang sangat penting.. Setahu ku, kau meminta asisten mu untuk mencari tahu tentang masalah ini.. " Kaien menyeringai.
Ryuzaki langsung menatap Kaien demi mencari tahu apa yang tengah dipikirkan oleh orang ini. Kaien sendiri justru menaik turunkan alisnya menggoda Ryuzaki. Jarang-jarang bisa membuat Ryuzaki kelabakan seperti saat ini, jadi menurut Kaien harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
__ADS_1