
Hotel Narita di Kyoto, malam ini sudah dipenuhi semua kolega, teman dan juga keluarga dari pasangan yang malam ini akan meresmikan hubungan mereka melalui pertunangan. Baik dari pihak pria maupun wanita, semua tamu undangan mereka sudah memenuhi aula hotel Narita. Pesta pertunangan yang dikatakan sebagai pesta paling akbar tahun ini, akan dimulai pukul tujuh malam. Masih ada setengah jam sampai acara dimulai, tapi bisa dilihat semua tempat penuh sesak.
Para wartawan dan peliput berita memenuhi ruangan khusus dimana nanti di sana akan diadakan konferensi pers setelah pesta pertunangan selesai. Meski masih beberapa jam lagi saja, para pemburu berita sudah memenuhi ruangan khusus itu. Menurut mereka, mendapatkan berita tentang keluarga bangsawan Narita sangatlah sulit, jadi sebisa mungkin mereka harus mendapatkan berita ini.
Di ruangan khusus lainnya, yang ada di lantai tertinggi hotel ini, nampak Ryuzaki duduk menatap jendela kaca. Dari tempatnya, dia bisa melihat langit yang begitu cerah malam ini. Bintang bertaburan juga muncul bulan penuh, seolah langit ikut menghiasi malam pesta pertunangan Ryuzaki ini. Meski raga Ryuzaki disini, tapi tidak dengan hati dan pikirannya. Karena saat ini, dia tengah memikirkan kejadian di rumah sakit saat dia mengatakan akan menceraikan Aerith.
Ryuzaki heran, Aerith sama sekali tidak mengatakan apapun hanya tertunduk dalam dengan bahu yang bergetar. Ryuzaki tahu, Aerith tengah menangis. Tapi hatinya terlanjur sakit pun memilih acuh dengan pemandangan memilukan yang dilihatnya hari itu. Tapi sungguh Ryuzaki heran, seorang Aerith rela dia maki dan tetap diam menerima semuanya.
Lebih membingungkan lagi, ketika pengacara yang dia utus mengurus perceraiannya, kembali dengan cepat bahkan ada tanda tangan Aerith di sana. Apa sungguh wanita ini hanya memanfaatkan dirinya saja, kenapa semudah itu membubuhkan tanda tangannya. Apa karena daddy Hoshi memberinya uang yang sangat banyak, sehingga dia dengan melupakan kenangan yang terjadi antara mereka selama beberapa bulan itu.
" Kau masih punya waktu jika ingin mengubah keputusan mu, Ryu.. " ucap seseorang yang tiba-tiba saja masuk ke ruangan itu.
" Kau tidak tahu duduk perkaranya dengan betul jangan pernah ikut campur. " ucap Ryuzaki menanggapi dengan sangat dingin sekali.
" Yah... Kau benar... aku memang tidak tahun duduk perkaranya, dan tidak tahu bagaimana perasaan mu dan dia. Tapi Ryu, bukankah kau lebih tahu apa yang mungkin bisa saja dia rasakan saat ini.. "
" Heh... Darimana aku bisa tahu, dia bahkan tidak jujur pada ku dan mendekati ku karena ingin memanfaatkan diri ku demi anak dalam kandungannya. Bodohnya aku percaya pada wanita itu dan berusaha untuk mencintainya.. " nada bicara Ryuzaki sudah naik satu oktaf.
" Narita Ryuzaki... Dengarkan ucapan ku ini baik-baik.. Jika kau menganggap setiap wanita hanya memasang wajah penuh kepalsuan di depan wanita, sejujurnya itu salah. Karena wanita adalah makhluk paling jujur karena dari gerak, tutur kata, mata dan perilakunya, bisa menunjukkan bagaimana perasaan wanita itu.. Jadi,, jika kau peka, seharusnya kau paham dengan apa yang dia rasakan.. "
__ADS_1
Tubuh Ryuzaki membeku, benarkah ucapan dari kakak iparnya itu. Apakah benar ucapan Kyomi, atau yang benar adalah pemikirannya sendiri. Kyomi dan Aerith sama-sama perempuan, lalu haruskah Ryuzaki percaya bahwa tidak ada kepalsuan dalam diri Aerith ketika bersamanya?
Kehadiran asisten Ryuzaki membuat lamunan Ryuzaki buyar. Pesta pertunangan akan dimulai dan Ryuzaki diminta turun ke lantai lima belas untuk segera bergabung dengan Rena yang sudah lebih dulu berada di sana. Dengan langkah tegap dan penuh percaya diri, Ryuzaki turun menggunakan lift khusus anggota keluarga Narita. Ryuzaki memilih untuk tidak menggubris ucapan Kyomi, baginya apa yang dia ketahui saat ini adalah kenyataan yang sebenarnya.
**************
Nanako sudah menangis histeris di dalam apartemen yang dulunya milik Aerith ketika dia tidak bisa menghubungi Aerith. Apartemen sudah dijual, lalu ponsel Aerith pun mati, parahnya dia mendapatkan pesan dari Aerith yang sepertinya adalah pesan yang disetting akan terkirim di jam dan juga hari yang ditentukan oleh Aerith.
Pesan itu berisi agar Nanako menyerahkan uang yang selama ini dia titipkan pada Nanako sebagai uang darurat pada sugar daddy nya. Aerith berpesan untuk mengatakan jika dia membayar denda perjanjian seumur hidupnya dengan Max, dan uang dari hasil penjualan perhiasan di Miracle, uang penjualan apartemen dan mobil, serta uang dari keluarga Narita, semua itu Aerith serahkan pada Max untuk membayar dendanya.
Kekurangan yang ada beberapa juta yen itu, Aerith minta agar Nanako memberikan uang darurat Aerith pada Max. Tentu saja membaca pesan itu, membuat Nanako tidak percaya. Dia lekas menghubungi nomor Aerith, nyatanya ponselnya tidak bisa dihubungi. Alhasil, Nanako hanya bisa menangis histeris, membuat pria di depannya ini bingung dan marah.
Ketika Nanako hendak pergi sesuai permintaan dari pemilik apartemen ini, mata Nanako tidak sengaja melihat ke acara televisi yang menayangkan tentang pesta pertunangan Ryuzaki dan model bernama Rena. Tentu saja hal itu menyulut emosi Nanako yang memang kesabarannya hanya setipis benang. Tanpa banyak bicara lagi, Nanako lekas menyambar kunci mobilnya. Tujuannya hanya satu, dia ingin menampar wajah Ryuzaki, demi teman baiknya.
***********
Sama dengan Nanako yang menangis karena kepergian Aerith, Max yang baru kembali dari perjalanan bisnisnya terkejut ketika melihat surat dari Aerith dan beberapa benda yang Max tahu pasti itu uang. Ada ATM milik Aerith yang dia berikan dulu, lalu satu lagi ATM lain yang Max tidak tahu milik siapa. Tapi otak pintarnya tahu jika itu pastilah milik Aerith dari mantan suaminya.
Tangan Max bergetar ingin membuka surat yang Aerith tulis. Surat dari wanita yang menghiasi hidupnya yang monoton selama dua tahun ini. Karena Aerith, hidup Max menjadi lebih berwarna, lalu sekarang, karena kepergian Aerith semakin membuat Max hancur karena satu-satunya cahaya miliknya telah pergi.
__ADS_1
***Hai daddy,,
Sorry, aku harus pergi.. Bukan aku marah atau tidak sayang pada daddy, tapi aku pergi demi kebahagiaan daddy..
Thanks dad, karena kedatangan daddy di depan ku dia tahun yang lalu, derajat ku bisa terangkat. kalau saja tidak ada daddy hari itu, aku yakin pasti aku sekarang sudah menjadi pelacur. daddy adalah cahaya dikala semua langit hidup ku gelap, dan sampai kapanpun rasa sayang ku pada daddy tidak akan pernah sirna.
Maaf aku pergi..
tapi aku harap daddy bisa mengerti dan bisa melepaskan aku dengan hati yang lapang..
jika aku tidak pergi sungguh aku hanya akan menjadi batu sandungan daddy, dan aku tidak ingin karena kedua tangan ku justru aku menghancurkan malaikat menyelamatkan ku.
maaf... aku tidak bisa menjaga anak kita dengan baik.. dia pergi dad, bahkan dia pergi sebelum aku bisa memeluk nya.. maafkan aku daddy.. maafkan aku...
dari yang mengagumi mu
Hirano Aerith***..
Max meremas kuat surat yang Aerith tinggalkan. Hatinya hancur, hatinya sakit, cintanya pergi, cahaya hidupnya telah pergi. Max tidak pernah tahu bahwa kepergian Aerith akan sesakit ini. Andai dia tahu, hari dimana Aerith mengatakan jika saja mereka memiliki anak, maka Max akan mengatakan dengan lantang bahwa dia bahagia memiliki anak bersama dengan Aerith.
__ADS_1
Namun lagi dan lagi, penyesalan selalu hadir kala segalanya sudah terlambat dan berakhir..