Trapped My Cruel Lecturer

Trapped My Cruel Lecturer
Tamu tidak diundang


__ADS_3

Kondisi Aerith kini tidak memungkinkannya untuk kuliah dengan datang ke kampus, akhirnya sesuai saran dari Ryuzaki, dia memilih untuk mengikuti kuliah online. Di kondo milik Ryuzaki, ada bibi Ino yang akan selalu menemani Aerith, jadi Ryuzaki bisa tenang karena hal itu. Rasanya tidak bisa dibayangkan ketika Aerith kesakitan tapi tidak ada siapapun di sampingnya.


" Jangan nakal ya,, aku ke kampus sebentar.. " pamit Ryuzaki.


" Yang nakal itu siapa... Awas aja tuh bapak yang nakal, ketemu mantan di kampus.. " Aerith memanyunkan bibirnya.


" Idih, siapa yang ketemu mantan.. Aku kerja Aerith." ujar Ryuzaki yang harus sabar menghadapi mood sang istri.


" Terserah... " Aerith meninggalkan Ryuzaki begitu saja dan kembali masuk ke kamarnya. Bibi Ino yang melihat itu ketawa sendiri, merasa lucu tuan mudanya harus mengalami hal seperti ini.


" Kenapa bibi tertawa begitu? " tanya Ryuzaki menatap tajam sang bibi.


" Karma tuan muda... Hahahahahaha.. " Bibi Ino tertawa kemudian meninggalkan Ryuzaki yang masih menatap nya tajam.


" Nggak jelas banget istri sama pengurus rumah ku.. Ya ampun malangnya nasib ku.. " keluh Ryuzaki.


Semenjak kejadian terakhir kali Aerith masuk rumah sakit, semua keluarga Narita jadi memusuhi Ryuzaki. Dia selalu disindir dengan kata-kata yang kasar dari keluarganya, belum lagi kadang mommy dan daddynya melampiaskan kesal padanya tanpa sebab.Alhasil, Ryuzaki hanya bisa menerima semuanya dengan lapang dada dan tidak bisa proses.


Malam harinya, Ryuzaki sengaja mengajak Aerith makan malam romantis di kondo miliknya karena Aerith tidak bisa keluar. Ryuzaki memasak sendiri semua hidangan yang tersedia di meja makan, dan kesemuanya adalah makanan kesukaan Aerith selama dia hamil muda. Tentu saja jika soal makanan, pasti akan langsung bisa menarik perhatian Aerith karena istri Ryuzaki ini memang gemar makan sejak mengandung, tapi tubuhnya sama sekali tidak berubah. Hanya ada di beberapa tempat saja yang tumbuh menjadi lebih besar dari sebelumnya.


" Apakah acara ini untuk menyogok ku? Aku dengan dari kak Kyomi, daddy dan mommy marah pada mu? " tanya Aerith menatap curiga suaminya.

__ADS_1


" Ck... Segitu caramu menghargai semua kerja keras ku.. Tentu saja karena aku ingin mood mu membaik. Perkembangan bayi dalam kandungan bergantung dengan mood sang ibu, jadi aku sedang berusaha menyeimbangkan mood mu agar tidak naik turun.. " jawab Ryuzaki setengah jujur karena alasan lain yang lebih mendominasi adalah seperti yang Aerith katakan.


" Oo... Oo.. Oo... " Aerith ber O ria dan mulai menyantap satu persatu hidangan yang dimasak oleh Ryuzaki.


Sambil makan keduanya juga tengah berbincang mengenai kuliah Aerith dan kondisi kandungan Aerith tentunya. Ryuzaki pun menyerahkan semua keputusan di tangan Aerith karena dialah yang mengalami itu semua. Dan Aerith bersyukur bahwa Ryuzaki mau mengerti keinginannya.


Pada dasarnya apakah Aerith mempertahankan atau tidak anak dalam kandungannya saat ini, ke depannya dia akan sulit untuk memiliki anak. Jadi daripada Aerith menggugurkan kandungannya kemudian dia tidak bisa punya anak lagi, lebih baik sekarang dia menahan semua kesakitan demi bisa memiliki anak. Aerith menceritakan semua kondisinya pada Ryuzaki sehingga akhirnya semua dia serahkan pada sang istri dan Ryuzaki percaya Aerith akan baik-baik saja.


" Enak sekali... " gumam Aerith terlihat sangat senang.


" Tentu saja enak, siapa dulu yang masak.. Jika kau yang masak maka akan lebih banyak yang terbuang karena gagal percobaan.. " ejek Ryuzaki tersenyum miring


" Heleh.... Baru bisa masak saja bangganya selangit.. " balas Aerith.


" Hei.. Jorok sekali kau itu.. Itu lap kotor.. " protes Ryuzaki.


" Biarkan saja... Wleeeek... " Aerith menjulurkan lidahnya mirip anak kecil yang mengejek.


Ryuzaki geleng kepala melihat tingkah sang istri. Maklum saja karena usia Aerith sebenarnya masih muda, baru dua puluh satu tahun. Perbedaan mereka saja sampai delapan tahun, jadi Ryuzaki harus lebih bisa mengalahkan dan mengayomi sang istri yang masih muda itu.


Tengah asyik bercanda dan melempar ejekan, bel pintu kondominium Ryuzaki berbunyi. Heran juga karena tidak biasanya akan ada tamu di malam hari. Ryuzaki sendiri tidak mengatakan alamat kondominium ini pada pihak kampus. Karena penasaran Ryuzaki melihat siapa yang bertamu di jam malam seperti ini, Aerith pun mengikuti dari belakang.

__ADS_1


CEKLEK...


" Ryuu kun... Aku merindukan mu... " seru seseorang yang dari suaranya terdengar seperti suara perempuan dan kini dia memeluk Ryuzaki tepat dimata Aerith.


Tubuh Ryuzaki masih tegang hingga dia tidak bisa menggerakan tangannya untuk mendorong wanita yang memeluknya. Sampai tangan Aerith terjulur dan mencubit pinggang Ryuzaki.


" Rena... Lepaskan.. " Ryuzaki mendorong tubuh Rena menjauh darinya.


" Kenapa kau mendorong ku? Kau tidak merindukan ku? Lima tahun kita tidak bertemu Ryuu, bahkan dulu kita hendak menikah.. " Rena merengek dengan sengaja karena dia tahu saat ini di belakang Ryuzaki ada Aerith.


" Kenapa kau kemari? " tanya Ryuzaki dengan wajah yang sudah menahan amarahnya. Dari belakang tubuhnya, Aerith mencengkeram erat kemeja bagian belakang milik Ryuzaki.


" Tentu saja karena aku merindukan mu, apa lagi.. Dan kenapa kau tidak menyuruhku masuk? " Rena langsung menerobos masuk tanpa bisa dicegah lagi.


Rena menatap penuh tanda tanya pada Aerith, kemudian saat Rena menatap jemari Aerith yang tengah mencengkeram kemeja Ryuzaki, entah kenapa ini murni dia jadi emosi. Padahal sejak tadi dia hanya pura-pura demi membuat sakit hati Aerith, tapi sekarang justru dia yang jadi kebakaran jengot.


" Dia mahasiswi mu? Apa perlu melakukan konseling di kondo milik mu? Kalian hanya berdua dan pakaiannya begini? Sudah mirip pelacur saja.. " tanya Rena menggebu yang jelas kata-kata seperti tamparan untuk Aerith.


" Maaf.. Aku... aku... masuk dulu.. " ketika Aerith hendak meninggalkan Ryuzaki, namun tangan Ryuzaki lekas menarik kembali tangan Aerith sehingga tubuh mereka berdua saking bertabrakan pelan.


" Kenapa kau pergi? Seharusnya dia yang pergi.." Ryuzaki menatap Aerith penuh kelembutan. Rena rasanya ingin muntah melihat itu semua, " Dan kau, jaga bicara mu.. Yang kau sebut pelacur itu adalah istri ku.. Sekali lagi kau bicara yang tidak-tidak, aku akan menindak kau dengan tegas. " Ryuzaki menatap tajam Rena.

__ADS_1


" Ho... Ho... Demi dia kau berani bicara sekasar itu pada ku? Kau keterlaluan Ryuzaki.. Kau jahat... Hiks.. Hiks... " Rena menangis histeris membuat Ryuzaki sedikit merasa tidak tega. Ketika dia Ryuzaki hendak menghampiri Rena yang menangis. Ucapan Aerith menghentikan dirinya.


" Jika kau masih mencintainya maka lepaskan aku sekarang juga... Keputusan ada pada mu, Ryuzaki san... "


__ADS_2