
Hal yang kini menjadi kebiasaan rutin bagi Aerith adalah pergi ke rumah sakit untuk kontrol. Melihat bagaimana terakhir kalinya, Max menginginkan dia untuk hidup bahagia dengan semua yang Max berikan padanya. Aerith pun sangat bersemangat untuk sembuh. Dia sudah berjanji pada Max dan pada dirinya sendiri, untuk hidup demi bagian Max juga. Jika mengingat tentang pria yang pernah menjadi sugar daddy nya itu, relung hati Aerith sebenarnya sangat perih.
Aerith pergi ke rumah sakit untuk kontrol ditemani oleh Hanako san. Kenzo sedang ada praktek di pagi hari, sedangkan Matsuda san harus mengawasi perkebunan teh karena hari ini akan ada transaksi dengan distributor yang memasarkan hasil perkebunan Matsuda san ke wilayah luar negeri. Jadilah, Aerith pergi ke rumah sakit bersama dengan ibu dari Kenzo, Hanako san.
" Bagaimana Aerith? Apa yang dokter katakan? " tanya Hanako yang langsung mencari tahu ketika melihat Aerith sudah selesai konsultasi dan pemeriksaan dengan dokter yang menanganinya.
" Kemajuan yang baik bibi.. Itulah kata dokter.. Masih sama, aku harus menjalani kemotrapi besok lusa.. Jadi besok lusa aku balik ke rumah sakit lagi.. " jawab Aerith yang tersenyum senang mendengar kondisinya semakin membaik.
" Syukurlah.. Kalau begitu, kita langsung pulang atau kau ingin pergi ke suatu tempat? " Hanako san menawarkan.
" Aku sebenarnya ingin sekali pergi ke makam daddy Max, bi... Tapi tidak mungkin ya.. Hehehe.. " Aerith nyengir kuda. Entah kenapa, akhir-akhir ini dirinya begitu merindukan sosok Max yang pernah mengisi hari-harinya.
" Lain kali saja ya kita ke sana.. Sekalian kamu cek itu perusahaan peninggalan Keito san.. Andai saja hubungan kalian berawal dengan baik, pastinya kalian berdua sudah bahagia sekarang ya.. " ujar Hanako san berandai.
" Aku bersyukur pernah menjadi satu-satunya kebahagiaan yang beliau miliki selama hidupnya... Rasanya, aku yang selama ini menjadi orang yang tidak berarti untuk orang lain menjadi berguna karena keberadaannya.. " Hanako san mengangguk.
" Apa kau... ehm...? " Hanako san ragu untuk melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
" Ada apa bi? Kenapa bibi tidak melanjutkan bicaranya? " Aerith menengok ke arah Hanako san. Mereka berdua sedang menunggu jemputan untuk kembali ke kediaman Matsuda san.
" Tidak jadi saja... Takut kau tersinggung atau bersedih.. " Hanako san tersenyum canggung.
" Aku berusaha tidak memikirkannya.. Rasanya percuma memikirkan seseorang yang tidak memikirkan kita.. Membuat sakit hati saja.. " ucap Aerith tiba-tiba.
" Maksudnya bagaimana, Aerith? " Hanako san menatap bingung Aerith.
" Bibi ingin bertanya tentang mantan suami ku kan.. " Aerith tersenyum. Hanako san langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena ketahuan oleh Aerith.
Tidak ada lagi pembicaraan di antara keduanya ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil jemputan yang memang Matsuda san sediakan untuk mengantar jemput Aerith selama menjalani pengobatan. Sebenarnya Aerith sedikit merasa aneh dengan perhatian Matsuda san padanya. Bukan keluarga, tapi begitu perhatian seperti memperlakukan Aerith seperti anggota keluarganya sendiri.
**************
Berpindah ke kamar milik tuan muda ketiga keluarga Narita. Kamar ini entah sejak kapan, suasana nya kini menjadi sangat mencekam. Karena Ryuzaki terus kalah melawan Kaien dan Daigo dalam permainan balap mobil. Dia pun lelah terus ditanya tentang perasaanya sendiri saat ini. Hingga akhirnya Ryuzaki meminta untuk mereka bermain game yang lain. Pilihan jatuh pada sebuah game baru buatan Moiz Narendra.
Game ini adalah sebuah game petualangan dimana siapa yang bisa memperoleh kunci brankas yang berisikan petunjuk game selanjutnya, maka dialah pemenangnya. Ryuzaki dalam permainan ini memilih melawan Kaien, yang setahunya payah dalam game permainan seperti ini. Ryuzaki harus pandai memainkan strategi karena lawannya dua orang.
__ADS_1
Daigo hanya menyaksikan saja sambil terus memasukan camilan ke mulutnya. Biarlah hari ini saja dia tidak menjaga pola makannya. Besok, dia akan mulai gym lagi untuk membakar kalori yang masuk ke dalam tubuhnya pagi ini. Rasanya tidak ingin saja ketinggalan mengerjai si bungsu. Karena sesungguhnya dia dan Kaien sudah merencanakan hal ini sejak semalam.
" Kita buat dia menyadari perasaannya dengan permainan saja.. Dengan begitu dia akan paham perasaannya karena kita akan bertanya dan membuat dia menjawab jujur.. Jika soal main game, kita tidak akan kalah darinya.. Mulutnya saja dia yang pedas itu, keterampilan nya dalam game sangat jauh dari kita.. " ucap Kaien semalam. Dia gemas dengan kelemotan si bungsu yang terus saja menutupi perasaannya karena memilih menjadi lemot dan tidak mau menyadari perasaanya lantaran gengsi.
" Yes... Aku akhirnya menang juga.. " Ryuzaki berseru penuh semangat karena berhasil juga menang melawan dua saudaranya. Tidak tahu saja kalau Kaien memang sengaja mengalah padanya.
" Yosh.. Sekarang katakan apa yang kau ketahui.. Aku menagih janji mu.. " Ryuzaki langsung menagih ucapan Kaien tadi.
" Ehm.. Oke.. Pasti aku katakan pada mu.. Hanya saja sebelumnya aku ingin kau menyimpulkan terlebih dahulu tentang semua pertanyaan yang aku dan Dai tanyakan sejak tadi.. Bisa? " tantang Kaien. Enak saja dapat informasi, padahal baru menang sekali saja.
" Hei... Yang tadi tidak ada aturan seperti itu.. Jangan mengada-ada.. " protes Ryuzaki.
" Kau itu baru menang cuma sekali.. Sedangkan informasi ini adalah informasi kelas S.. Enak saja kau dapat dengan mudah padahal baru menang cuma sekali.. " Ryuzaki mengerucutkan bibirnya. Jelas dia kalah karena memang perbandingannya 25 : 1.
" Kalian ingin aku menyadari perasaan ku yang sebenarnya kan.. Iya aku paham, kalian ingin aku tidak salah mengambil langkah dalam memutuskan apa yang sedang aku pikirkan saat ini.. Hanya saja, hati ku belum bisa memaafkannya karena telah membohongi ku... " ucap Ryuzaki jujur. Memang seperti itu adanya yang dia rasakan. Karena masih belum bisa menerima kenyataan Aerith membohonginya, jadi dirinya tidak ingin mengikuti kata hatinya.
" Oke.. Semoga kau tidak akan menyesal karena tidak mau memperjuangkan semuanya sekarang dan justru mengikuti sakit hati mu... " Kaien berucap.
__ADS_1
" Aerith ada di Shizuoka, dan yang harus kau tahu yang mana itu lebih penting dari keberadaan Aerith adalah...... Aerith kini sedang mengidap penyakit..... yang sangat parah... "
Degh...