
" Kami akan menghubungi anda atau dokter Kenzo begitu hasil dari pemeriksaan anda sudah keluar.. Terima kasih telah menggunakan jasa rumah sakit kami.. Semoga anda lekas sembuh.. " suster jaga memberikan informasi pada Aerith setelah serangkaian pemeriksaan yang membutuhkan waktu tidak sebentar itu.
" Terima kasih suster.. Saya permisi.. " suster itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Aerith dan Kenzo pun pulang menggunakan mobil milik Kenzo yang tidak terlalu bagus karena mobil itu adalah mobil keluaran lama. Kenzo membeli mobil itu second dari salah satu temannya yang akan membeli mobil baru.
Setengah jam, mereka pun sampai ke rumah Matsuda san. Tidak ada perbincangan selama. perjalanan antara Aerith dan Kenzo. Aerith memilih untuk memejamkan mata karena dia lelah. Fisiknya belum benar-benar baik pasca keguguran dan penganiayaan yang dilakukan oleh pria yang merupakan anak dari sugar daddy nya itu.
Ngomong-ngomong soal Max,, sugar daddy Aeitth, sampai hari ini pun dia masih mencari keberadaan Aerith. Bahkan pemilihan wali kota Kyoto pun dia kesampingkan karena mencari Aerith. Rasanya hidupnya tidak lengkap tanpa wanita ini, dan dia jadi tidak bersemangat mengejar karirnya karena semua terasa percuma saat Aerith tidak di sampingnya.
Kembali lagi pada Aerith, dia sekarang sudah diajak oleh Matsuda dan untuk masuk dan menikmati makan siang mereka. Kebetulan perut Aerith sudah keroncongan karena tadi memutuskan langsung pulang saja. Pasalnya menurut Kenzo, Matsuda san pasti menunggu Aerith untuk pulang ke rumah dan makan bersama.
" Apa semua berjalan lancar ? " tanya Matsuda san.
" Iya kek.. Semuanya berjalan lancar. Hanya saja hasilnya tidak bisa langsung keluar, harus menunggu beberapa hari lagi.. " ucap Aerith sambil mulai menyendokan makanan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
" Bagus... Mari kita makan.." akhirnya mereka makan dengan tenang sampai selesai.
Matsuda san mengajak Aerith ke belakang rumah, yang mana dari teras belakang tersaji pemandangan kebun teh yang sangat hijau. Menyejukan mata siapa saja yang memandang, dan lagi anging nya benar-benar segar di tempat ini. Aerith mereka bahwa disinilah dia bisa menghirup udara tanpa polusi sedikit pun. Tempat healing yang cocok untuknya mengobati luka hati dan fisiknya.
" Bisa kau ceritakan tentang diri mu? Tentang keluarga mu dan apa yang membawa mu kemari? Maaf ya, bukan aku lancang, tapi kau mirip sekali dengan seseorang yang aku kenal.. Mungkin saja dengan mendengar cerita mu, aku bisa menganggap itu cerita tentangnya dan menghapus semua penyesalan ku.. " tanya Matsuda san. Matanya berbinar menatap Aerith, berharap Aerith mau menceritakan tentang dirinya.
" Ehmmm... Apa kakek tidak mau jika aku mengatakan ini semuanya kek? Pasalnya aku bukan wanita baik-baik.. " ucap Aerith ragu.
" Tak apa... Setiap orang punya masa lalu kelam termasuk diri ku.. " Matsuda san menyakinkan Aerith.
" Kenapa beranggapan seperti itu? "
" Karena setelah kepergian orang tua ku, penderitaan ku dimulai kek.. Aku dirawat paman dan bibi tapi mereka membenci ku dan menganggap ku beban mereka. Ketika aku lulus sekolah menengah, mereka mengusir ku hingga akhirnya aku menjadi wanita yang bekerja di club, menemani para pria-pria tua minum hingga akhirnya aku dijual untuk menjadi selingkuhan pria kaya.. Hehehe.. " Matsuda san sedikit terkejut.
" Maaf.. Mungkin kakek jadi jijik ketika mendengar betapa hinanya aku dulu.. Tapi sekarang aku ingin berubah kek, mumpung aku masih hidup.. " ucap Aerith.
__ADS_1
" Kalau begitu kita sama ya.. Sama-sama tidak benar ketika muda.. Aku pun dulu malah lebih hina dari mu.. Jatuh cinta pada saudara angkat ku lalu menghamilinya padahal aku sudah menikah dengan istri ku.. Akhirnya saudari angkat ku itu diusir oleh ayah ku, dan aku kehilangan kontaknya sampai hari ini.. " cerita Matsuda san.
" Wah.. Wah... Kalau kata anak jaman sekarang, kakek itu bad boy, aku bad girl... Hahahahaha... " untuk pertama kalinya Aerith tidak sedih saat menceritakan masa lalunya. Mungkin cerita dari Matsuda san menjadi penyeimbangnya.
" Aerith, kalau boleh tahu siapa nama nenek mu? Rasanya aneh saja kalian begitu mirip.. " tanya Matsuda san.
" Mungkinkah kakek berpikir bahwa nenek ku adalah saudari yang kakek hamili itu? "
" Yah.... Mungkin saja, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.. Toh jika itu benar berarti kehadiran mu di sisa hidup ku ini sebagai hadiah yang dia kirimkan untuk ku.. "
" Benar juga ya... Nama nenek ku adalah Miyako tapi nama marganya tidak tahu karena sepertinya nenek sendiri tidak memiliki marga... " Aerith menyentuh dagunya dengan jari telunjuk tengah berpikir, mengingat cerita sang ibu tentang neneknya. Pasalnya neneknya meninggal ketika Aerith berusia tiga tahun.
" Kata ibu, kakek ku sudah meninggal dunia jadi nenek membesarkan ibu seorang diri. Kemudian ibu ku menikah muda dengan ayah.. Paman dan bibi ku yang membuangku itu adalah saudara ayah.. Ibu tidak memiliki saudara.. Begitulah kalau aku tidak salah mengingat.. "
Tanpa Aeruth sadari, Matsuda san di sampingnya sudah menangis dalam diam. Benar ternyata tebakannya, ini adalah hadiah dari cinta pertama dan terakhirnya itu. Matsuda san bisa bernafas lega karena telah mengetahui hal yang sebenarnya meski kecewa tidak bisa melihat putrinya.
__ADS_1
" Jangan khawatir.. Aku akan menjaganya karena hanya dia keluarga ku saat ini.. Sungguh kebetulan yang sangat indah sekali... Benar kan Miyako chan... "