Trapped My Cruel Lecturer

Trapped My Cruel Lecturer
Membalaskan rasa sakitnya


__ADS_3

Sebuah mobil Ducatti keluaran terbaru, melaju dengan sangat kencang dijalanan kota Kyoto. Beberapa kali mobil berwarna hitam metalik ini hampir menabrak pemakai jalan yang lain. Tapi meski begitu, kecepatan mobil sport ini sama sekali tidak berkurang malah semakin cepat.


Max, mengemudikan mobil sport nya dengan kecepatan sudah mirip dengan seorang pembalap. Emosinya membuat dirinya sama sekali tidak peduli dengan keselamatan dirinya sendiri bahkan juga keselamatan pengguna jalan lainnya. Keinginan Max sekarang ini hanya satu, pergi menemui wanita yang telah menghancurkan hidupnya itu.


Laporan yang disampaikan oleh asistennya beberapa menit yang lalu, telah mampu merobohkan benteng kesabaran yang selama dua puluh lima tahun lebih dia bangun. Jika saja bukan karena nama keluarga dan kedua orang tuanya, Max bersumpah akan membuat wanita itu selamanya akan kehilangan muka di depan semua orang. Tapi sekali lagi, Max masih bersabar kala itu, namun tidak untuk yang sekarang.


CCCCKKKIIIIIIIIIIIIIITTTTTT


BRRAKK


" HINATA.....HINATA....KELUAR KAU SEKARANG !!!!!! " Max berteriak ketika tubuhnya kini sudah berada di dalam rumah mantan istrinya.


" HINATA... KELUAR KAU...ATAU AKU AKAN MEMBUAT RUMAH MU INI ROBOH DALAM HITUNGAN SEPULUH MENIT.... KELUAR !!!! " Max sudah sampai di ruang keluarga.


Sejauh ini batang hidung mantan istrinya belum terlihat. Hanya ada beberapa pelayan saja yang berada di dalam rumah ini. Para pelayan ini enggan bertanya tentang maksud dari majikan mereka ini datang, karena terlalu takut melihat tuan mereka tengah dalam kondisi sedang mosi.


" Kau.... Di mana wanita sialan itu?" Max memanggil salah seorang pelayan yang berdiri dengan tubuh gemetar tidak jauh dari posisi Max berdiri.


" Nyonya....Nyonya....se-sedang tidak ada di ru-rumah...tu-tuan.." jawab pelayan itu tergagap.


" Kalau begitu... Sekarang juga kau hubungi dia dan minta dia pulang. Atau, aku akan menghancurkan rumah ini dan seluruh kepemilikannya.. Cepat !! " titah Max tidak dapat dibantah.


" Ba-baik... Tu-tuan.."

__ADS_1


Max duduk di sofa ruang keluarga dengan kaki kanan yang dia tumpukan di atas kaki kirinya. Tangannya bersendekap di depan dadanya, kedua matanya pun terpejam. Max berusaha mengontrol emosinya agar jangan sampai dia lepas kendali dan berakhir membunuh wanita yang kini berstatus mantan istrinya itu.


Tiga puluh menit berselang, Hinata sudah sampai di rumahnya bersama dengan Keito, putra nya. Hinata sangat senang melihat mantan suaminya berada di rumah miliknya. Dalam pikiran Hinata, mantan suaminya ini menginginkan mereka untuk kembali rujuk lagi. Karena itulah, Hinat menghampiri Max dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya.


" Papa datang.... Aku senang sekali melihat papa di sini.....Eeeeeggggguuuhhhh..." ucapan Hinata terhenti ketika tangan kanan Max sudah berada di leher Hinata. Ya, Max mencekik Hinata karena muak melihat senyuman tanpa dosa yang diperlihatkan oleh mantan istrinya tadi.


" Tutup mulut mu... Atau aku akan membuat mu tidak bisa bicara lagi untuk selamanya.." desis Max terlihat sangat kejam di mata Hinata.


" Sa-sa-sakit..... Le-le-lepas..." wajah Hinata yang berkulit putih itu kini namak sangat merah karena tidak bisa bernafas.


" PAPA LEPASKAN MAMA....!!! LEPAS PA !!! " Keito yang baru saja memasuki rumah langsung berlari ke arah kedua orang tuanya. Keito sangat terkejut melihat papanya mencekik leher mamanya.


BUGH..


BUGH...


BUGH...


Max sungguh kesetanan ketika melihat wajah pemuda yang dia anggap putranya selama ini. Meski hubungannya dengan Hinata tidak baik, tapi Max tulus menyayangi putranya ini. Puncak renggangnya hubungan ayah dan anak itu, ketika Max pertama kalinya terlihat jalan dengan Aerith di sebuah mall. Keito yang menyaksikan itu semua menjadi membenci papanya.


" Dasar anak tidak tahu diuntung ka... Sudah bagus selama ini aku mengakui mu sebagai putra ku, tapi apa balasan mu? Berani-beraninya kau menyentuh wanita ku.." sentak Max ketika dirinya melihat Keito sudah hampir tidak sadarkan diri karena pukulannya.


" Wanita ku ???? Perempuan murahan itu kau panggil wanita ku, lalu bagaimana dengan mama?" Keito balas membentak Max.

__ADS_1


PLAK


" Tutup mulut mu... Disini yang wanita murahan itu adalah ibu mu.... Apa kau menganggap bahwa wanita yang di sana itu adalah wanita suci... CUIH.... Betapa bodohnya kau.." Max tersenyum mengejek. Dari tempatnya terduduk di lantai, Hinata sudah menangis dan menggelengkan kepalanya ketika mantan suaminya mulai mengungkit sesuatu yang tidak boleh Keito ketahui.


" Buka telinga mu lebar-lebar.... Wanita yang kau anggap suci itu, telah menjebak dan menghancurkan hidup ku dua puluh enam tahun yang lalu...."


" Hentikan Max... Jangan kau teruskan..." Hinata berusaha untuk menghentikan niat Max.


" Kenapa? Kau takut putra mu yang selalu kau bangga kan ini mengetahui betapa murahannya diri mu.." sarkas Max menyeringai.


" CUKUP..CUKUP... AKU MOHON.." Hinata merangkak mendekati Max untuk memohon pada mantan suaminya ini.


" Aku menikahi wanita ini ketika dia dalam kondisi hamil dua bulan.. Apa kau ingin tahu siapa yang menghamili wanita sok suci ini? Dia adalah paman mu sendiri, paman angkat mu lah yang menghamili wanita ini dan hasil dari hubungan gelap mereka itu adalah.....KAU..."


Hinata sudah menangis histeris kala kata-kata itu meluncur dengan mudahnya dari mulut Max. Keito pun membeku di tempat ketika dengan jelas telinganya mendengar ucapan pria yang selama ini menjadi papa nya itu. Namun nyatanya, pria yang dia selalu panggil papa itu adalah bukan ayah biologisnya.


" Jika bukan karena memandang masa lalu kita, aku sudah pasti membunuh mu karena telah menyakiti Aerith dan membunuh anak kandung ku yang ada di perut Aerith..." Max terdiam sejenak untuk menghapus air matanya yang mengalir dengan sendirinya ketika membayangkan betapa ketakutannya Aerith saat pria muda di depannya ini memperkosa Aerith nya.


" Ketika ibu mu aku nikahi, dan ketika aku tahu dia sudah mengandung, sejak saat itu aku tidak pernah menyentuhnya. Bahka hingga hakim mengetuk palu perceraian, aku tidak pernah sekalipun menyentuhnya.." ucap Max bagaikan sebuah batu besar yang menghantam Hinata dan Keito.


" Sungguh rasanya aku ingin membunuh kalian berdua karena membuat wanita yang aku cintai pergi meninggalkan ku... Tapi.... Aku masih memiliki sisi manusia yang kalian berdua tidak miliki.. Dan sebagai balasannya, ucapkan selamat tinggal pada harta dan kekayaan yang kalian miliki, karena itu semua sekarang milik.... AERITH KU.." Max langsung meninggalkan ibu dan anak itu.


Sungguh muak rasanya melihat kedua orang itu. Membunuh mereka ataupun menyakiti mereka seperti apa yang mereka lakukan pada Aerith, tidak akan membuat kedua orang itu merasakan apa yang dialami oleh Aerith. Tapi ketika mereka kehilangan harta yang mereka miliki dan agungkan selama ini, maka hidup mereka sekarang pasti akan jauh lebih menderita daripada Aerith.

__ADS_1


" Baby.... Aku berhasil membalaskan rasa sakit mu pada mereka... Tapi kenapa, di hati ini, masih juga belum hilang rasa sakitnya..." Max memegang dadanya dan meremasnya kuat. Mata Max terpejam, menyambut kenyataan yang kini ada di depan matanya..


BBOOOOOOOOOMMMMMMMM


__ADS_2