
Di malam harinya, Ryuzaki sendiri merenung di teras depan rumah. Pikirannya terus memikirkan tentang ucapan Daigo siang tadi. Memang Ryuzaki sendiri tahu bahwa ini semua tidak sesederhana yang dia pikirkan. Aerith, masih menyimpan rahasia besar yang dilakukannya akan menjadi bom waktu untuk pernikahan mereka.
Awalnya dulu, Ryuzaki hanya berpikir untuk tanggung jawab atas perbuatannya setelah itu dia akan mematuhi isi kontrak mereka yang setahun bercerai. Tapi kini, jika Ryuzaki kembali berucap seperti itu rasanya tidak bisa. Dia menyayangi Aerith, dengan tulus dan sepenuh hati. Ryuzaki menyadari perasaan ini setelah dia melihat Aerith pingsan di resto bento ketika melihatnya dipeluk oleh Rena. Saat itu Ryuzaki tahu kehadiran Rena sama sekali tidak berefek padanya setelah kehadiran Aerith dalam hidupnya.
" Kenapa tidak melamun di dalam saja? Di luar dingin Ryu.. " Ryuzaki berjengit kaget ketika mommy Bulan tahu-tahu sudah ada di sampingnya.
" Mommy... Kenapa belum tidur jam segini? " tanya Ryuzaki. Ini sudah lewat jam sepuluh malam tapi mommy nya belum tidur.
" Mommy habis bikin ramen instan, nggak tahu kenapa kok tiba-tiba pengen aja. Daddy dibangunin nggak bangun karena capek kelihatannya, jadi ya mommy bikin sendiri.. " ucap mommy Bulan membuat Ryuzaki terkekeh pelan.
" Kenapa cuma buat satu sih mom..? Aku kan juga mau mom.. " ucap Ryuzaki. Keduanya pun sama-sama terkekeh.
Mommy Bulan sebenarnya tahu bahwa putranya ini sedang banyak pikiran. Hanya saja dia memang tidak ingin menceritakan pada siapapun dan memilih memendam semuanya sendiri. Tidak tega juga melihat putranya seperti ini, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan jika Ryuzaki saja enggan untuk bicara.
" Nak,, hidup itu pasti ada saja masalah. Berat dan tidaknya tergantung bagaimana diri mu menghadapinya. Jika kau merasakan semuanya itu berat, maka semua akan menjadi berat. Begitu pula sebaliknya, mommy tidak ingin kau tertekan karena semua masalah mu dan melupakan bahwa kau tidak sendiri dan bisa berbagi dengan kami.. Kami tidak akan mengejek mu, kami ini semua keluarga mu.. " ucap mommy Bulan.
" Mom.... Aku harap kali ini aku tidak akan terluka karena rasa sayang ku pada seseorang.. Aku takut mom, takut jika ternyata dia menyimpan banyak rahasia yang berakhir membuat diri ku dan dia terluka mom... " Ryuzaki menatap wajah sangat mommy memelas.
" Sakit hati dalam mencintai itu wajar nak.. Apa kau pikir mommy dan daddy tidak pernah saling menyakiti? Kami pernah nak,, bahkan sering,, tapi kami selalu meyakinkan diri kami sendiri bahwa rasa sakit adalah teman dari bahagia.. Mereka beriringan kemana pun kita pergi.. Jika kau bisa menerima bahagianya, maka terimalah juga sakitnya.. "
Ryuzaki termenung mendengar ucapan dari mommy Bulan. Dirinya baru menyadari bahwa ucapan mommy nya itu benar adanya. Tidak ada manusia yang tidak pernah merasakan sakit hari dan bahagia. Kedua proses itu menjadi satu hal yang pasti bisa akan dialami setiap manusia. Bentuk dari proses pendewasaan seseorang adalah banyak dari rasa sakit itu sendiri.
__ADS_1
Setelah berbincang-bincang dengan mommy Bulan, pikiran Ryuzaki mulai terbuka. Dia yang awalnya takut untuk melangkah maju, kini memutuskan untuk memperjuangkan apa yang dia sayangi dan sudah menjadi miliknya. Masa lalu Aerith adalah bagian dari dirinya, yang mana jika Ryuzaki menyayangi Aerith maka dirinya harus mau untuk menerima masa lalu itu. Suka atau tidak suka.
Ryuzaki kembali ke kamar, dan betapa terkejutnya dirinya tidak mendapati Aerith di kamar tidurnya. Ryuzaki terkejut dan langsung mencari Aerith di kamar mandi, walk in closet dan ruang kerjanya yang menyatu dengan kamar. Tapi dimana pun dia tidak bisa menemukan keberadaan Aerith. Penikmat, Ryuzaki pun turun ke bawah untuk mencari Aerith di lantai satu.
Tang.. Tang..
Ryuzaki mendengar bunyi orang berisik di dapur, dia pun mencoba melihat ke sana siapa tahu ada maid di sana yang melihat keberadaan sangat istri. Akhirnya, Ryuzaki bisa bernafas lega ketika melihat Aerith sepertinya tengah memasak sesuatu. Ryuzaki mendekat dan langsung memeluk Aerith dari belakang..
" Aaaaaarrrrgggghhhh... Hantu... " Aerith berteriak kencang karena terkejut tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.
" Hei.. Ini aku, jangan berteriak seperti itu.. " Ryuzaki lekas membalik tubuh Aerith agar istrinya percaya itu adalah dirinya.
" Ish.. Ryuzaki san.. Bikin kaget saja.. Kenapa main peluk-peluk begitu sih.. " protes Aerith. Sungguh dia sangat terkejut tadinya, rasanya jika bukan karena pelukan itu sangat kuat, penggorengan pasti sudah melayang ke arah suaminya itu.
" Jelaslah.. Memangnya ke dapur kalau nggak lapar ngapain coba.. Perut aku perih banget ini, terus waktu bangun Ryuzaki san nggak ada di kamar. Jadi ya aku turun sendiri ke dapur untuk membuat apa aja makanan yang bisa aku masak.. " cerita Aerith.
Hidung Aerith tiba-tiba saja mengendus endus, mencium bau yang sepertinya berasal dari arah belakang tubuhnya..
" Ya Tuhan.. Masakan ku gosong.. Aaaarrrggghhh bagaimana ini?? " Aerith lekas mematikan kompor dan langsung mengangkat telur gulung buatannya. Warna sudah berubah menjadi hitam legam seperti kue brownies. Kenapa bisa dia melupakan masakannya hanya karena adanya Ryuzaki di dapur bersamanya.
" Huhuhuhuhu.... Ini semua karena Ryuzaki san.. Coba saja tadi tidak mengganggu, masakan ku tidak akan jadi gosong.. " Ryuzaki menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
" Ya mana aku tahu kalau bakalan gosong begitu Aerith.. Maaf ya.. " ucap Ryuzaki tersenyum kikuk.
" Aku nggak butuh maaf dari Ryuzaki san, aku butuh makanan karena sekarang aku lapar.. Huhuhuhuhu.. " Ryuzaki tidak menyangka bahwa Aerith benar-benar akan menangis karena terlihat air matanya benar-benar menetes.
" Oke.. Oke.. Sekarang aku masakin aja ya, Aerith duduk di sana tunggu masakannya matang.. Oke.. "
" Bener ya.. Aku tunggu, tapi cepet aku udah lapar banget ini.. "
" Iya... "
Ryuzaki membuat menu sederhana yang mengenyangkan juga tidak lama membuatnya, nasi goreng menjadi pilihannya. Nasi goreng seafood karena dicampuri udang dan potongan cumi-cumi, ditambah dengan sedikit sayuran dan telur mata sapi besar di atasnya sebagai topping. Air liur Aerith sampai menetes melihat menu makanan di depannya yang sangat spesial itu.
Tidak butuh waktu lama, Aerith langsung menyantap masakan dari Ryuzaki ini dengan lahap. Bahkan tidak membutuhkan waktu lama piring itu sudah kosong melompong tanpa adanya sebutir nasi pun tertinggal.
" Eeegghhhkk... " Aerith langsung bersendawa karena kekenyangan.
" Heh.. Yang sopan dong, masa cewek begitu.. " tegur Ryuzaki.
" Bodo amat, yang penting perut kenyang.. Yuk kita naik, aku udah ngantuk nih.. " ajak Aerith yang memang sudah menguap.
" Tunggu bentar ya.. Aku cuci piring dulu.. "
__ADS_1
Selama Ryuzaki mencuci perkakas yang dia gunakan untuk membuat nasi goreng tadi, Aerith sudah tertidur di meja makan dengan posisi menelungkup. Dia tidak tahan dengan rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang setelah dia makan tadi.
Ryuzaki tersenyum menatap Aerith yang tertidur, istrinya ini memang cantik sekali dari manapun dilihatnya. Ryuzaki beruntung memiliki Aerith di dalam hidupnya, seperti kata mommy Bulan tadi, Ryuzaki akan menanggung rasa sakit dan bahagianya ketika bersama dengan Aerith.