Trapped My Cruel Lecturer

Trapped My Cruel Lecturer
Mencari Aerith


__ADS_3

Di sebuah ruangan kerja bernuansa klasik, duduk seorang pria berusia hampir kepala lima tengah kesal karena tidak bisa menghubungi seseorang yang telah menjadi obat dan candunya selama dua tahun belakangan ini. Sudah lebih dari sebulan dia dan seseorang yang menjadi candunya itu tidak bertemu, tapi bukannya mencari dirinya, candunya itu justru menghilang bagai ditelan bumi.


Lebih dari sepuluh kali dia mendatangi apartemen orang itu, dan sudah ratusan kali dia mencoba menghubungi orang ini namun belum ada jawaban sampai hari ini. Ponselnya mati dan tidak bisa dihubungi juga dilacak.Membuat frustasi saja, bahkan semua anak buahnya di kantor sudah menjadi sasaran amukannya.


Tok...tok...tok...


Pintu ruangan pria ini diketuk dari luar, dan tak lama muncul sekretaris dan asisten pribadinya masuk. Mereke membawa serta beberapa dokumen yang harus segera diperiksa dan juga segala sesuatu keperluan untuk kampanye pencalonannya menjadi walikota Kyoto.


" Cari tahu dimana wanita itu berada !!!! Aku ingin lusa paling lambat, sudah mendengar kabar dari wanita itu.." titah pria ini pada anak buahnya.


" Baik tuan... "


" Sial... Beraninya dia mengabaikan ku... Apa dia sudah bosan hidup..? " tangan pria ini terkepal kuat.


Rasanya dia sedikit merasa kehilangan, ketika seorang gadis yang dia temukan dulu, dan kemudian menjadi kesayangannya, kini sudah bisa dewasa dan mulai tidak bisa dikendalikan. Rasanya dia ingin kembali ke tahun pertama mereka bertemu, dimana gadis itu masih menurut dan takut padanya.


Salahnya yang tidak bisa memberikan lebih pada gadis itu selain uang, dan kepuasan. Untuk hati, mungkin dia bisa memberikannya, tapi mereka tidak mungkin bersama karena status mereka dan tentunya karena apa yang dia ingin capai, tidak akan pernah mengizinkannya

__ADS_1


" Apa ini cara mu menarik perhatian ku, Aerith? " gumam Max.


Belum selesai kekesalan hatinya pada sugar babynya, kini datang putranya yang terus terang saja begitu mengganggunya. Putranya sama liciknya dengan sang istri dan selalu mengambil keuntungan dari apa pun yang dikerjakan oleh Maximua. Jujur saja, hubungan diantara mereka tidak sedekat antara ayah dan anak pada umumnya. Karena memang, pernikahan Maximus dengan sang istri hanya dilandasi keuntungan bersama.


Putranya ini pun terlahir karena orang tua Max menginginkan penerus untuk Max, jika tidak pun Max lebih memilih punya anak dari Aerith, gadis cantik yang mampu menguasai hatinya.


" Kenapa kau kemari? " tanya Max terlihat tidak senang.


" Ada apa dengan mu, pa? Pagi-pagi sekali sudah bad mood seperti ini,, apa karena belum melampiaskan hasrat mu pada wanita murahan simpanan mu itu? " sarkas Tooru, putra Max.


" Jaga mulut mu.. Tahu batasan mu disini, dan jangan berani menentang ku jika kau masih ingin ibu mu dan kau, menikmati apa yang aku hasil kan.. " ancam Max menatap putranya tidak suka.


" Hahahahahaha.. Kau yakin bahwa ibu mu akan sependapat dengan mu? Baik jika kau menantang, aku akan meminta asisten ku mengeluarkan ibu mu dari rumah ku.. " Max tidak gentar sedikitpun. Pernikahannya dengan sang istri memang sudah tidak sehat sejak awal. Jadi jika berakhir kapan saja dia siap, asal istrinya yang menggugat cerai, dengan begitu tidak akan mempengaruhi posisinya di pemerintahan.


Tooru yang kesal dengan ayahnya, langsung pergi meninggalkan ruangan itu. Niat hati ingin mengacaukan suasana hati sang ayah, malah kini berbalik dia yang menjadi kesal. Rupanya pengaruh wanita bernama Aerith itu sudah sangat kuat bagi ayahnya, sehingga membuat pria itu sama sekali tidak terpengaruh dengan ancaman dari Tooru.


Apalagi sekarang ini, orang tua Max sudah meninggal. Tidak ada yang Max takuti lagi, dia siap melepaskan istrinya kapan pun istrinya mau. Dan disini, bukan Max yang tergila-gila pada istrinya, tapi sebaliknya. Wanita yang dia nikahi itulah yang tidak ingin kehilangan dia, dan mempertahankan semuanya meski berat karena Max tidak kenal kata setia padanya.

__ADS_1


" Lihat saja.. Tidak akan aku biarkan wanita murahan itu mengambil apa yang seharusnya mama miliki. Mama yang berhak atas semua yang pria brengsek itu miliki.. " Tooru menatap sinis pintu ruangan Max, kemudian memiliki pergi diikuti oleh Sekretaris pribadinya.


" Apa yang aku dapatkan? " tanya Tooru meminta laporan dari sekretarisnya itu.


" Dia berada di sekitar keluarga Narita, tapi apa yang dilakukannya disana tidak bisa diselidiki. Sepertinya keluarga Narita melindungi perempuan itu.. " lapor Sekretaris Tooru.


" Benarkah? Apa level keluarga itu sudah turun, sehingga melindungi wanita murahan? Sungguh kejutan yang luar biasa.. " sarkas Tooru yang memang terlampau benci dengan Aerith.


" Saya dengar saat ini, perempuan itu dirawat di rumah sakit swasta X. Untuk masalah sakit apa ya v dideritanya, itupun juga ditutup oleh keluarga Narita. Perempuan itu juga tidak bisa dijenguk sembarangan orang dan dokter yang menanganinya juga dirahasiakan.. "


" Bisakah kita memasukan orang kita ke rumah sakit itu untuk menyelidiki dari dalam.. Bayar siapa saja,, toh semua orang akan tunduk jika melihat uang.. " pinta Tooru.


" Baik tuan muda... "


Mobil mereka pun meninggalkan pelayaran bangunan yang diketahui sebagai bangunan partai yang menaungi Maximus Keito yang akan mencalonkan dirinya sebagai wali kota Kyoto. Pekerjaan yang sarat dengan nama baik dan perilaku inilah yang membuat Max tidak pernah bisa memberikan status yang tepat untukmu Aerith, meski dia suka sekalipun.


Apalagi istrinya yang kekeh untuk mempertahankan rumah tangga meski sudah berkali-kali Max menyakitinya. Hubungan Max dan istrinya hanya baik sampai Tooru lahir, setelah itu Max mulai berkenalan dengan dunia malam lagi, setelah sembuh selama awal menikahi istrinya.

__ADS_1


Dari sekian banyak track record Maximus di dunia malam, hanya Aerith yang memiliki kedudukan spesial karena dia membeli sendiri gadis itu dulu saat pertama mereka bertemu dan Max, suka melihat wajah Aerith yang memang cantik, imut. Hingga kini mereka masih bersama walaupun hanya seminggu dua kali mereka bertemu atau bahkan sebulan sekali, tapi pertemuan mereka selalu membuat Max berkesan.


" Apa yang sudah menjadi milik ku tidak akan dengan mudah, dimiliki oleh orang lain... "


__ADS_2