
Ryuzaki terkejut dengan pernyataan Aerith barusan. Apa maksud dari istrinya ini, padahal beberapa hari ini keduanya sudah baik-baik saja. Rasanya Ryuzaki ingin sekali marah tapi masih dia tahan mengingat kondisi dari sang istri dan kandungannya.
Lain Ryuzaki yang kesal, Rena justru merasa bahwa hubungan kedua orang di depannya ini akan sangat mudah untuk dihancurkan. Terlihat jelas tidak ada rasa diantara keduanya. Tapi herannya kenapa mereka bisa menikah jika tidak ada cinta, Rena sedikit penasaran dengan hal itu. Tapi dia harus menahan rasa penasarannya hingga waktu yang tepat.
" Apa maksud mu bicara seperti itu? Kita sudah membahas tentang ini Aerith, apa perlu aku ingatkan.. " Ryuzaki langsung memunggungi Rena untuk bicara dengan istrinya.
" Tidak ada.. Aku masuk saja.. " Aerith langsung meninggalkan tempat dan memilih masuk ke kamar. Sudah pasti dia akan menangis lagi, dan kondisinya bisa drop lagi. Siap-siap saja Ryuzaki akan kena marah keluarganya lagi.
" Ryuu.. " Rena memanggil Ryuzaki. Tangannya terulur untuk mengusap punggung Ryuzaki. Tentu saja Ryuzaki langsung menghindar, karena dia masih memiliki hati dan pikiran yang sehat untuk tidak menduakan istrinya.
" Apa mau mu? " Ryuzaki menatap Rena tajam, rasanya di hatinya kembali sesak, sama seperti ketika dengan tidak tahu malunya Rena pamit pergi ketika pernikahan mereka tengah berlansung.
" Tentu saja aku pulang dan kembali pada mu, apalagi? Bukankah dulu aku bilang aku akan kembali dan ketika itu kita akan kembali bersama.. " ucap Rena tanpa dosa sama sekali.
" Hahahaha... Kembali kau bilang? Jangan seenaknya kau pergi dan kembali, aku bukan tempat yang bisa seenaknya kau datangi dan kau tinggalkan begitu saja.. Aku punya hati,, "
" Ryuu,, dulu sudah aku katakan alasan ku pergi.. Bukankah kau bilang akan menunggu, lalu kenapa kau menikah? Apa salah ku jika aku kembali? "
__ADS_1
" Jelas salah!!!! Disaat aku berusaha untuk melupakan kau justru kembali di depan ku lagi.
Kau tahu diri mu bersalah, jangan datang dengan wajah tanpa dosa.. Suka atau tidak aku sudah punya istri, ada hati yang harus aku jaga, jadi aku mohon silahkan kau pulang.. " Ryuzaki mendorong tubuh Rena kemudian langsung menutup pintu unit miliknya.
Ryuzaki bersandar di pintu, dirinya tidak baik-baik saja tapi wanita yang sekarang ada di dalam kamarnya juga tidak baik-baik saja. Rasanya semaunya jadi kacau sekarang. Disaat ada seorang wanita yang mampu membantunya melupakan luka lamanya, tapi cinta pertama sekaligus yang menorehkan luka itu kembali lagi padanya. Dengan santainya justru mengatakan bahwa dia ingin kembali bersama. Lalu bagaimana sakit yang Ryuzaki derita lima tahun ini.
Berusaha menguatkan hatinya, setelah yakin bisa menghadapi Aerith dan amarah istrinya, kaki Ryuzaki melangkah menuju ke kamar milik sang istri. Dia harus menyelesaikan masalah agar tidak berlarut-larut. Bahaya untuk Aerith dan kandungannya jika masalah ini tidak kunjung selesai.
Ceklek..
Ryuzaki masuk dan melihat sang istri sedang duduk di dekat jendela, memandang langit malam yang dipenuhi bintang-bintang. Ryuzaki mendekat dan langsung memeluk Aerith dari belakang. Aerith tidak menghindar karena mungkin untuk saat ini, pelukan inilah yang dia butuhkan.
" Untuk apa? " tanya Aerith dengan wajah datarnya. Meski berwajah datar, air matanya sudah jatuh membasahi pipinya.
" Karena membuat mu berada di posisi dan situasi yang tidak menyenangkan.. Apalagi aku belum bisa menceritakan apa yang terjadi diantara kami, meski aku tahu pasti kau sudah mendengar dari saudara ku.... " Ryuzaki masih memeluk Aerith dari belakang. Entah sejak kapan, tapi posisi seperti ini selalu membuatnya tenang.
" Apa anda masih mencintainya? " Aerith berbalik karena ingin melihat kedua mata Ryuzaki. Satu-satunya bagian tubuh manusia yang tidak bisa berbohong adalah mata.
__ADS_1
" Entah. Aku tidak tahu bagaimana perasaan ku padanya.. Tapi jujur saja, bertemu dengannya sama sekali tidak membuat aku sangat bahagia.. Aku malah merasa biasa saja ketika bertemu dengannya.. " jawab Ryuzaki dan Aerith tahu bahwa suaminya tidak berbohong.
Keduanya kembali diam, Aerith kembali ke posisi semula dan Ryuzaki kembali memeluk dari belakang. Ryuzaki menyembunyikan wajahnya di ceruk Aerith, menghirup rakus wangi tubuh Aerith yang beberapa waktu ini membuatnya kecanduan. Tangan Ryuzaki juga tidak lagi diam, sebelah tangannya berpindah ke lengan Aeriht dan mengusap lengan dari Aerith.
Bodoh jika Aerith tidak tahu maksud dari gerak tubuh Ryuzaki saat ini. Dia paham betul apa yang akan terjadi setelah ini, tapi Aerith tetap diam saja. Dia tidak menolak karena sejujurnya dia juga menginginkan hal seperti ini. Ketika Aerith mendekatkan dirinya ke Ryuzaki, bisa dirasakan di bagian belakangnya terasa ada sesuatu yang mengganjal.
" Sudah lama sekali kita tidak melakukannya.. Apa sekarang jika aku memintanya kau akan memberikannya untuk ku? " tanya Ryuzaki masih mengendus kulit leher Aerith.
" Apa anda yakin? Apakah tidak apa jika anda melakukannya? Aku takut jika anda akan menyesal keesokan harinya. Dan aku benci jika itu terjadi.. " Aerith berbalik menatap mata suaminya yang terlibat balik menatapnya sayu.
" Kenapa harus menyesal jika aku yang lebih dulu menginginkannya.. Kau tahu, sudah beberapa hari ini aku sungguh ingin.... Sssshhhhh.... Menyentuh mu.. " Ryuzaki mendesis di samping telinga Aerith, membuat tubuh wanita ini meremang seketika.
Aerith tidak menyangka akan ada adegan seperti ini dalam rumah tangganya dengan Ryuzaki. Jika pertama kali mereka melakukan itu karena Ryuzaki dalam pengaruh obat. Tapi kini, secara sadar suaminya itu meminta agar mereka kembali mengulang kejadian malam itu. Jantung Aerith jadi berdebar karena hal itu.
" Boleh kah? " tanya Ryuzaki mendekatkan bibirnya dengan bibir Aerith, tapi kemudian dia menghentikan bibirnya tepat di depan bibir Aerith terpaut beberapa mili saja.
" Lakukan.. Jika itu bisa membuat Anda merasa senang.. " ucap Aerith memberikan izin.
__ADS_1
" Aku melakukannya bukan hanya untuk membuat diri ku senang, tapi aku ingin kau juga senang.. Bukankah ini memang tanggung jawab suami dan istri.. "
Aerith terpaku sejenak mendengar ucapan Ryuzaki, tapi sedetik kemudian dia terkejut karena sesuatu yang lembab dan basah telah menyentuh bibirnya...