
" Istri anda tidak lagi boleh tertekan atau mengalami kekerasan fisik dan mental, karena jika itu terjadi maka anda tidak hanya akan kehilangan calon bayi anda tapi juga istri anda. Saya sarankan, kedepannya jangan membuat istri anda memiliki emosi yang berlebihan, baik itu senang maupun sedih. Usahakan agar dia tetap stabil... "
Seperti itulah kiranya dokter mengatakan pada Ryuzaki sebelum dokter tadi benar-benar pergi dari ruang rawat Aerith. Karena ketidakmampuannya, hampir saja Ryuzaki kehilangan kedua orang yang begitu berarti di hidupnya. Dan itu membuatnya sangat sedih hingga rasanya begitu sesak di dada. Tahu jika dia telah lalai menjaga wanita yang kini berstatuskan istrinya.
Hari ini, Aerith sudah diperbolehkan pulang, dan Ryuzaki menjadi overprotective padanya. Tentu saja perbuatan Ryuzaki saat ini adalah reaksi dari ucapan dokter padanya waktu itu dan bentuk rasa bersalah nya pada Aerith. Meski terkesan aneh, tapi Aerith senang karena Ryuzaki menjadi lebih perhatian padanya. Bahkan rencananya, sampo kondisi Aerith kuat untuk beraktifitas, mereka akan tinggal di kediaman Narita.
Tahu kenapa Aerith begitu senang, karena jika berada di sekitar keluarga Narita, maka dia dan Ryuzaki akan terlihat mesra, itulah yang paling Aerith tunggu. Sebenarnya bodoh jika sampai Aerith jatuh cinta pada pria yang berstatuskan suaminya itu. Karena bukannya masa depan yang bahagia yang nanti akan dia dapatkan, tapi adalah sebuah hubungan yang berakhir dengan saling menyakiti. Tapi bagi Aerith, tidak akan ada kesempatan seperti ini, jadi sebisa mungkin harus dia manfaatkan.
" Ryuzaki san... Aku ingin ke kamar mandi.. " Aerith memanggil suaminya yang saat ini tengah duduk di meja kerja yang ada di dalam kamarnya. Ternyata tata kamar di kondo dan di rumah ini sama persis, Aerith baru sadar hari ini.
" Hm.. " Ryuzaki bangkit dari duduknya dan mengendong Aerith masuk ke kamar mandi. Mendudukkan istrinya di kloset kemudian dia keluar dari sana. Jika berada terus di sana sudah pasti benteng kokoh yang dia bangun agar bisa menahan diri tidak menyerang istrinya.
Sedikit lebih lama dari biasanya, Ryuzaki jadi sedikit panik pun langsung menggedor pintu kamar mandi. Dia takut jika Aerith sampai terjatuh atau mengalami kesulitan entah apa itu. Pasalnya sejak dokter mengatakan tentang kondisi Aerith saat itu, Ryuzaki jadi parno sendiri.
" Aerith chan... Kau baik-baik saja? Kenapa lama sekali? " teriak Ryuzaki dari luar kamar mandi.
__ADS_1
" Aku sakit perut... " teriak Aerith.
" Oke.. " hanya itu yang bisa dikatakan oleh Ryuzaki. Mau bagaimana lagi jika memang sakit perut. Meski kakinya pegal menunggu di depan pintu kamar mandi seperti orang kurang kerjaan, tapi sekali lagi Ryuzaki sekarang jadi orang yang parnoan.
Setelah selesai dengan semua keperluan Aerith, Ryuzaki kembali berkutat dengan pekerjaannya. Buat hati akan menggantikan Satoru san, kini terpaksa Satoru san menggantikan Ryuzaki untuk mengajar. Entah berapa lama nanti dia akan off mengajar di kampu, karena Ryuzaki sendiri tidak tenang meninggalkan Aerith sendiri tidak ada di dekatnya.
Selesai dengan pekerjaannya, Ryuzaki melihat sang istri rupanya sudah terlelap. Lucu sekali melihat istrinya ini tertidur dengan mulut yang sedikit terbuka, tiba-tiba saja, dia mendapatkan sebuah ide yang pasti akan menarik. Tangannya bergerak sangat aktif sekali, sambil sesekali melihat wajah sangat istri.
Pppppfffftttt....
Ryuzaki berusaha menahan tawanya agar tidak menyembur karena melihat pemandangan yang luar biasa di depannya ini. Dalam hati Ryuzaki meminta maaf karena sudah melakukan tindakan yang diluar nalar itu..
Huuuuaaaaaahahahahahahahahahaha...
Anggota keluarga Narita yang duduk di ruang tamu dibuat terpingkal-pingkal ketika melihat Aerith yang keluar dari kamar digendong oleh Ryuzaki. Rasanya Aerith tidak melakukan hal lucu, tapi semua orang menatapnya dan tertawa begitu keras sekali. Aerith merasa ada yang aneh pun menengok ke kanan dan ke kiri, tapi tidak ada yang aneh dengan apa yang ada di sekitarnya.
__ADS_1
" Apa ada yang salah? " tanya Aerith terlihat semakin bingung.
" Tidak ada.. Biarkan saja mereka, beban pekerjaan membuat mereka jadi gila.. " sahut Ryuzaki menjawab pertanyaan Aerith membuat kedua pria yang tengah terbahak itu langsung menutup mulut mereka dan memandang kesal ke arah Ryuzaki.
" Kau belum mandi ya? Mandi dulu saja,, dan lihat di sana apa yang membuat kami ter... pppffftt... tawa... Hahahahaha.. " tawa Kaien kembali menyembur sampai sang istri memukulnya karena menurutnya tawa itu keterlaluan.
" Oh benar juga.. Aku memang belum mandi.. " hehehe.. " Aerith masih tetap percaya diri karena dia memang tidak tahu apa yang sudah terjadi padanya selama tidur siang tadi.
Aerith pun meminta pelayanan menyediakan air mandi untuknya. Dia tentunya akan mandi dibantu oleh Kyomi, yang kembali menjadi perawat dadakan keluarga Narita setelah dulu menjadi perawat pribadi Kaien yang pernah sempat buta.
Di dalam kamar mandi, sejak tadi Kyomi terus berusaha menahan tawanya. Dia sebenarnya tidak enak pada Aerith jika berkata jujur, karena pasti suami istri itu akan bertengkar hebat. Lebih Kyomi tidak percaya jika tingkah usil Ryuzaki tidak berubah meski sudah menikah sekalipun. Sekarang, istrinya saja sudah menjadi bahan untuk diusili olehnya. Sungguh terlalu sekali anak satu ini, sudah paling bungsu, umur jiga sudah hampir kepala tiga, tapi kelakuannya jangan ditanya. Tidak kalah dengan anak sekolah dasar.
" Sebenarnya apa yang sejak tadi kalian tertawakan sih? " Aerith yang jengah akhirnya bertanya juga.
" Sebentar ya... " Kyomi pergi keluar kamar mandi dan kembali dengan membawa sebuah kaca ya g cukup besar.
__ADS_1
Kyomi memberikan kaca itu pada Aerith yang sduah berendam didalam bathup. Awalnya Aerith sama sekali tidak tahu tapi setelah dia melihat bagaimana wajahnya di dalam kaca, sungguh rasanya Aerith ingin sekali membunuh suaminya.
" Sialan.... RYUZAKI SAN..... " teriakan Aerith menggema di seluruh penjuru kediaman Narita. Dan seseorang yang menjadi dalangnya, justru tertawa ngakak di pojokan.