Trapped My Cruel Lecturer

Trapped My Cruel Lecturer
Hadiah terindah


__ADS_3

Kawasan pemakaman di Kyoto, hari ini ramai didatangi kolega maupun teman dari Keito Maximus. Pria yang semasa hidupnya terkenal sangat ambisius dalam mengejar apa yang dia impikan, serta pantang menyerah, kini tinggallah kenangan. Semua terlihat bersedih mengantarkan kepergian pria hebat ini.


Air mata Aerith belum surut sejak kemarin. Rasanya sebanyak apapun dia menangis, kesedihannya tidak akan pernah menghilang. Meski terkesan keras dan kejam, tapi Max adalah pria penyayang. Aerith adalah contoh nyata berapa pria ini begitu menyayanginya sampai terlihat begitu menderita karena kepergian Aerith saat itu.


Aerith sungguh kehilangan sosok pria ini, bahkan ketika dia berpisah dengan Ryuzaki pun, dia tidak merasakan kehilangan sedalam kehilangan Max, pria yang telah menjadikan Aerith wanita yang bahagia karena diangkat derajatnya. Entah bagaimana baik dan buruknya hubungan mereka semasa Max masih hidup, tapi bagi Aerith, kedatangan Max dalam hidupnya bagaikan oasis di padang gurun.


" Sudah Aerith, jangan menangis terus.. Lihatlah mata mu sudah bengkak begitu.. " Nanako berusaha menghibur Aerith. Semalam dia dihubungi oleh Irei san, yang mengabarkan tentang meninggalnya Max dan juga kedatangan Aerith ke Kyoto.


" Aku merasa bersalah pada nya, Nanako.. Aku tidak tahu, bahwa kepergian ku begitu menyiksa dirinya. Andai aku tahu, mungkin aku akan lebih memilih mengatakan tentang apa yang sebenarnya terjadi daripada diam dan pergi.. " curahan hati Aerith.


" Ini sudah takdir... Jika Max san melihat mu menangis seperti ini dari atas sana, dia akan sangat sedih. " Nanako berusaha menghibur temannya ini.


Sungguh Aerith tidak bisa menghentikan tangisan nya. Rasanya terlalu sakit sekali melihat pria yang pernah mengisi hidupnya itu kini telah tiada. Ingatan Aerith jatuh ke waktu dimana dia dan Max berbincang untuk terakhir kalinya sebelum Max meninggal. Aerith tidak menyangka, bahwa Max memendam begitu besar rasa cinta untuknya.


" ***Senang aku bisa melihat mu... baby... Tapi ada apa dengan rambut mu, dan pakaian itu.. " Max begitu bersemangat berbincang dengan Aerith. Tidak lagi dia pedulikan sakit yang mendera tubuhnya.

__ADS_1


" Maaf dad.. Saat itu aku memilih pergi... Dan untuk ini.. " Aerith menyentuh topi yang dia kenakan untuk menutupi kepalanya yang tidak lagi memiliki rambut, " Aku baru saja menjalani operasi pengangkatan tumor di bagian otak, dad.. " Aerith berusaha tersenyum, meski dia sangat sedih saat ini.


" Ya Tuhan... Kenapa malangnya nasib mu? Maafkan aku tidak mampu menjaga mu... Maafkan aku baby.. " Max menangis.


" Tidak dad... Jangan menangis karena itu melukai hati ku... Aku sayang daddy, aku pergi bukan karena membenci daddy atau karena marah pada daddy atas apa yang menimpa ku.. Aku pergi karena aku takut kehadiran ku hanya menghalangi mimpi daddy.. Hanya itu dad... Tolong jangan merasa bersalah.. " pinta Aerith tulus.


" Terima kasih... Hari ini aku sangat bahagia sekali karena kau ada disini... I Love you, baby... Aku akan selalu mencintai mu, meski aku tidak lagi bisa bersama mu nanti.. "


" Jangan katakan itu dad... Jangan katakan daddy akan meninggalkan ku.. Daddy akan sembuh.. daddy pasti sembuh... " raung Aerith memeluk tubuh lemah Max.


Max langsung menyambut pelukan Aerith dengan senang hati. Pelukan terakhir, dan pelukan yang paling hangat yang pernah dia rasakan. Max membisikan sesuatu di telinga Aerith, kemudian tangannya yang memeluk Aerith langsung terjatuh.... Max meninggal dalam pelukan wanita yang dia cintai***.


Irei san langsung meminta tanda tangan Aerith ketika pengacara Max datang untuk membacakan surat wasiatnya, beberapa jam yang lalu. Setelah itu, Aerith memilih untuk masuk ke kamarnya dan beristirahat. Peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, membuat dirinya lelah, baik lelah mental dan fisiknya.


" Aerith chan.. " panggil Irei san yang entah sejak kapan berada di dalam kamar Aerith.

__ADS_1


" Ya? Apakah ada yang bisa aku bantu? " tanya Aerith.


" Tidak ada.. Kenapa tidak berbaring saja? Bukankah kau masih dalam masa pemulihan? " Irei san langsung membawa kursi roda Aerith ke dekat ranjang, dan membantu Aerith untuk berbaring di sana.


" Terima kasih ya... Sudah datang begitu mendengar kabar tentang musibah yang tuan alami.. Aku tidak pernah menyangka, bahwa kau akan kemari setelah lama pergi.. " Irei san berucap tulus.


" Maaf kan aku, telah banyak merepotkan kalian semua karena mencari ku.. Tapi Irei san, boleh aku bertanya tentang sesuatu? " Aerith menatap asisten mendiang Max ini dengan tatapan mata yang menyiratkan keingintahuan begitu besar.


" Tanyakan apapun yang membuat mu penasaran.. Aku pasti akan menjawab semuanya.. " Irei san ikut naik ke ranjang.


" Kenapa semua harta daddy diberikan pada ku? Bukankah dia masih memiliki putra? " tanya Aerith yang sangat penasaran sejak tadi.


" Tooru san, bukan anak kandung tuan.. Ketika menikah dengan Hanabi san, kondisinya beliau sudah mengandung dua bulan.. Tuan, menerima pernikahan itu karena itu merupakan permintaan terakhir dari ibunya.. Jadilah dia menikah, tapi tidak pernah menyentuh istrinya itu hingga beberapa minggu lalu mereka resmi bercerai... Satu-satunya yang menjadi kebahagiaan tuan adalah ketika dia bersama mu. Karena saat itu aku melihat tuan bebas mengekspresikan dirinya sendiri. Tidak seperti ketika bersama istrinya yang bagai terkurung dalam sangkar.. " cerita Irei san panjang lebar.


Aerith menangis mendengar cerita dari asisten sugar daddy nya itu. Tidak pernah terpikirkan olehnya, bahwa Max menjalani hidup yang sangat berat sejak dia masih muda. Perjalanan hidup Max sangat berat, sama seperti yang Aerith jalani meski dalam konteks yang berbeda. Dan keduanya sama-sama mendapatkan penghiburan ketika mereka bertemu satu sama lain.

__ADS_1


Aerith terus mendengarkan cerita dari Irei san tentang Max yang jujur saja, sisi yang Irei ceritakan ini tidak pernah Aerith ketahui. Masa-masa muda Max yang terbuang sia-sia hanya untuk mengejar karier karena dia sudah terlanjur kecewa dengan cinta. Lalu bagaimana perubahan sikap dan sifat Max ketika ada Aerith di dalam hidupnya. Hingga Aerith menarik satu kesimpulan yang mendasari semua itu. Max adalah pria yang keras karena pengalaman hidupnya yang berat. Tidak pandai mengekspresikan rasa sayangnya karena dia tidak tahu bagaimana cara menyayangi seseorang yang baik.


" Terima kasih hadir dalam hidup ku.. Kau adalah hadiah terindah yang Tuhan hadiahkan untuk hidup ku yang membosankan ini... I love you, Aerith.. I Love..... You... "


__ADS_2