Trapped My Cruel Lecturer

Trapped My Cruel Lecturer
Ketahuan


__ADS_3

Aerith berdiri di depan sebuah rumah, menatap tajam ke arah rumah itu seolah dengan tatapannya ini dia bisa menghancurkan rumah ini. Sungguh rasa di dalam dadanya amat sangat kesal sekali saat mengetahui sumber ketidaknyamanannya selama beberapa hari ini adalah seseorang yang tinggal di rumah ini.


Berulang kali Aerith mengetuk maupun membunyikan bel rumah ini, namun hingga sudah sepuluh menit Aerith berdiri di depan, pintu rumah ini tidak kunjung dibuka oleh pemiliknya. Kesabaran Aerith yang akhir-akhir ini hanya setipis benang pun akhirnya jebol sudah karena tidak lagi bisa menahan kekesalannya.


" Ryu san... Buka pintunya atau aku akan mendobraknya.. !!! Aku tahu kau ada di dalam.." Aerith berteriak sambil mengencangkan gedorannya pada pintu rumah milik Ryuzaki ini.


" Ryu san.. Jika dalam hitungan ketiga kau masih tidak mu membuka pintu ini.. Lihat saja, aku akan menghilang dari depan mu selamanya... Kau tahu sekarang aku mampu melakukan apa yang aku ucapkan barusan.." Aerith pun terpaksa melontarkan ancaman karena sepertinya pria yang beberapa bulan lalu adalah suaminya itu sedang takut ketahuan.


" ****.." pintu pun terbuka diiringi umpatan dari seseorang yang membuka pintunya.


" AAARRRGGGHHHH..." Ryuzaki langsung memekik kesakitan saat telinganya dijewer oleh Aerith dengan keras karena wanita ini tengah ksal padanya.


" Lepas Aerith chan... Sakit.." Ryuzaki pun dengan terpaksa menghempaskan tangan Aerith yang menjewer telinganya karena terus terang saja telinganya sudah sangat panas saat ini.


" Bagus... Siapa yang mengajari mu melakukan ini semu? Rumah kakek ku penuh dengan semua barang yang seharusnya tidak memenuhi rumah kakek ku.." sentak Aerith menatap sengit Ryuzaki.


" Aku melakukannya agar kau mau menerima maaf ku Aerith chan.. Aku ingin kau tahu ketulusan hati ku dari semua hadiah yang aku berikan pada mu.. Aku...sungguh merasa bersalah pada mu... Maafkan aku.." ucap Ryuzaki menunduk dalam tidak berani menatap mata Aerith. Mata yang selalu sukses membuat pertahanannya luluh lantah.


Aerith menghela nafas merasa kesal dan jengah dengan tindakan aneh yang dilakukan mantan suaminya. Sebenarnya tanpa semua yang Ryuzaki kirimkan untuknya, asalkan Ryuzaki meminta maaf dengan tulus, Aerith pasti memaafkannya karena Aerith pun turut membuat salah dalam masalah kemarin. Malahan dialah dalang dibalik semua permasalahan itu.

__ADS_1


" Jika itu niatan kamu, kenapa kamu memberikan itu semua secara berlebihan? Ketulusan bukan dilihat dari seberapa banyak dan semahal apa barang yang kamu berikan pada orang yang ingin kamu dapatkan maafnya.. Ketulusan itu terlihat ketika kamu mau merendahkan diri mu untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah kamu lakukan.. " ujar Aerith akhirnya mengenyampingkan rasa kesalnya.


" Aku tahu.. Tapi luka yang aku torehkan untuk mu adalah luka yang paling besar dan dalam.. Apakah bisa dimaafkan hanya dengan aku datang pada mu dan meminta maaf?" ucap Ryuzaki terlihat lemah.


HUFT...


" Ryu san.. Bagaimana mungkin aku tidak memaafkan kamu, jika sebenarnya semua masalah berasal dari ku? Karena aku kita semua menderita, karena keegoisan ku dan juga ketidaksabaran ku, kamu dan keluarga kamu menjadi korban.." ucap Aerith menunduk. Menyembunyikan air mata yang sebentar lagi akan menetes. Sungguh Aerith tidak ingin terlihat lemah di depan semua orang terutama di depan Ryuzaki.


Ryuzaki yang paham betul jika Aerith pasti tengah menangis saat ini langsung menarik wanita yang statusnya sebagai mantan istrinya itu kedalam pelukannya. Rasanya dirinya terlalu kejam jika acuh dengan kondisi Aerith saat ini. Dan Ryuzaki bukan orang yang tega melihat orang yang pernah mengisi harinya ini menangis sekarang ini.


Kepergian wanita ini meninggalkan semuanya karena melindungi dia dan keluarganya. Nama baik keluarganya hampir saja terancam akan dicemarkan orang yang tidak bertanggung jawab. Dan dengan kepergian Aerith saat itu, nama baik keluarga Narita terselamatkan. Akan sangat tidak tahu diri jika sampai sekarang Ryuzaki masih menyalahkan Aerith atas apa yang terjadi. Nyatanya, dia telah menjadi pahlawan tanpa tanda jasa.


" Aerith chan.. Terima kasih, telah mengabaikan kondisi mu dan masa depan mu hanya demi menjaga nama baik keluarga ku dan kau pergi saat itu.. Maafkan aku telah dibutakan karena sakit hati dan kecewa sehingga secara sengaja atau tidak aku telah menyakiti mu." ucap Ryuzaki sambil tangannya terus membelai punggung Aeirth.


Tidak ada yang bicara, baik itu Ryuzaki ataupun Aerith. Keduanya sama-sama diam karena tidak tahu harus bicara dari mana setelah tadi Aerith menangis dalam pelukan Ryuzaki, dan dia juga mengucapkan maaf pada Aerith. Kalau orang lain melihat keduanya saat ini, sudah pasti mereka akan menertawakan. Tadi saja pelukan sambil nangis-nangis, tapi sekarang sama-sama malu seperti ABG baru jatuh cinta saja.


" Ehem... " Ryuzaki berdehem untuk memecah kecanggungan di antara keduanya.


" Aerith chan.. Ada yang ingin aku katakan pada mu.. " ucap Ryuzaki lirih. Kemana Ryuzaki yang kalau bicara dulu selalu berteriak pada Aerith.

__ADS_1


" Ya? Silahkan.. " Aerith merasa canggung.


" Tentang kita? Apakah kau sama sekali tidak pernah terlintas di dalam pikiran mu, untuk kita.... " ucapan Ryuzaki menggantung di udara. Bingung juga untuk melanjutkan, dan lebih merasa tidak enak karena terkesan tidak tahu diri sekali.


" Tentang kita kenapa Ryu san? Jika kamu tidak menginginkan aku untuk muncul di hadapan mu lagi, tinggal kamu saja yang tidak usah kemari.. " ujar Aerith.


" Bukan.. Bukan begitu maksud ku.. Aku... aku... emmm... ingin kita... kembali.. " mata Aerith melotot kaget mendengar ungkapan perasaan Ryuzaki padanya.


Kembali? Adalah kata yang memiliki banyak sekali arti. Salah satunya adalah keduanya kembali menjalani biduk rumah tangga. Tapi Aerith jujur saja ragu untuk melakukan itu. Takut kembali terluka sama seperti beberapa bulan yang lalu. Tapi, Aerith sebenarnya masih menyimpan rasa cintanya untuk Ryuzaki. Kerena menurut Aerith, kisah cintanya dengan Ryuzaki adalah cerita paling indah dalam hidupnya.


Bingung harus menjawab apa karena dirinya masih bimbang, Aerith pun mengatakan ingin fokus pada pekerjaan terlebih dahulu, tapi tidak bisa dia pungkiri dia begitu bahagia atas ungkapan Ryuzaki kali ini. Mungkinkah hubungan keduanya bisa diperbaiki? Atau setidaknya cinta dari Ryuzaki untuknya yang pernah tumbuh itu, kembali dia dapatkan.


Aerith pun memutuskan untuk meminta waktu agar bisa memikirkan semuanya dengan matang tanpa tergesa-gesa. Ryuzaki pun mengiyakan karena pada dasarnya memang tidak mudah bagi Aerith yang pernah terluka karena bisa langsung dengan mudahnya menjawab.


" Baik.. Aku berikan kamu waktu sampai besok lusa.. " ucap Ryuzaki.


" Kenapa lusa? Mana bisa secepat itu aku berpikirnya.. " protes Aerith.


" Karena lusa, jika kau tidak menjawab maka aku akan pergi ke Inggris.. Tapi jika kau mengiyakan ajakan ku untuk menikah lagi, maka lusa akan menjadi awal perjalanan bulan madu... kita.. " Aerith tersipu malu mendengar ucapan Ryuzaki.

__ADS_1


__ADS_2