
Lima hari Aerith dirawat di rumah sakit, hanya Nanako saja yang menemaninya. Bahkan sejak kemarin, Nanako tidak datang karena ketahuan masih berhubungan dengannya oleh kedua orang tua Nanako. Sungguh Aerith tidak tersinggung dengan bagaimana kedua orang tua Nanako memperlakukannya karena memang seperti itulah dirinya.
Suster mengabarkan bahwa hari ini Aerith boleh pulang, sekaligus mengantarkan tamu yang katanya adalah pengacara dari Ryuzaki, suaminya. Aerith tersenyum kecut, belum juga keluar dari rumah sakit tapi suaminya sudah mengirimkan pengacara untuk mengurus perceraian mereka.
" Bukan salah nya.. Dari awal memang aku yang salah.. " gumam Aerith.
Seorang pengacara pria yang usianya tidak jauh beda dari ayah mertua Aerith, masuk ke kamar rawat inap Aerith dan membungkuk memberikan hormat. Bagaimana pun, wanita ini masih nyonya muda ketiga keluarga Narita, jadi pengacara ini masih harus menghargainya.
" Nyonya... "
" Maaf tuan... Tapi jika anda memanggil saya seperti itu, anda hanya melukai sisa harga diri yang saya miliki... Panggil saja Aerith.. " Aerith tersenyum menatap pria di depannya yang sepertinya merasa tidak enak.
" Baiklah... Aerith, anda pasti tahu maksud kedatangan saya kali ini... Dan ini, adalah surat gugatan dari tuan muda.. Anda bisa baca poin-poin disini.. Tuan muda sendiri yang membuatnya.. " pengacara bernama Sheijo itu menyerahkan map yang dipegangnya pada Aerith.
Aerith menerima dan langsung membaca semua poin yang ditulis oleh Ryuzaki. Tidak banyak, hanya saja semuanya itu justru menambah luka baru untuk Aerith. Poin utamanya adalah untuk sampai kapan pun Aerith tidak boleh mengatakan bahwa dirinya adalah mantan istri dari tuan muda Narita. Kemudian, Aerith tidak boleh menemui siapapun anggota keluarga Narita seterusnya, tutup mulut tentang semua keluarga Narita. Dan yang paling menyakitkan Aerith adalah dia harus enyah dari hadapan Ryuzaki selamanya. Artinya Aerith harus meninggalkan kampus tempatnya menimba ilmu.
" Jika anda menyetujui silahkan anda tanda tangani.. Jika tidak silahkan lingkari poin mana yang anda dirasa keberatan, saya akan menyampaikan semua itu pada tuan muda.. " ucap Sheijo san begitu melihat Aerith meletakan berkas yang tadi dibacanya.
" Tidak apa Sheijo san, saya menyetujui semuanya.. Dimana saya harus tanda tangan? " tanya Aerith. Percuma juga dia melawan, hanya akan semakin membuatnya terluka karena tidak segera pergi dari ladang ranjau yang sekarang dia pijaki.
" Disini... Dan ini dari tuan besar untuk Anda. Kompensasi dari keluarga Narita untuk Anda.. " Sheijo san menyerahkan sebuah cek pada Aerith tentu saja Aerith menolaknya.
__ADS_1
" Tidak tuan.. Saya tidak menginginkan hal itu.. " ucap Aerith menyerahkan kembali cek yang nominalnya sangat fantastis.
" Ini dari tuan besar.. Dan beliau mengatakan Anda harus menerimanya karena itu dari beliau.. " ucap Sheijo san.
" Tolong Terima, jika tidak saya yang akan mendapatkan masalah.. " Sheijo san menambahkan.
" Terima kasih.. " ucap Aerith menunduk sambil menangis. Ternyata ayah mertuanya masih peduli dengannya meski dia telah menipu mereka.
Sesudah mendapatkan tanda tangan dari Aerith, pengacara Ryuzaki segera meninggalkan tempat itu untuk mendaftarkan perceraian ini. Sungguh sangat disayangkan, padahal umur pernikahan mereka baru sebiji jagung, tapi harus kandas karena memang diawali dengan sebuah kesalahan.
Aerith kembali melamun setelah semuanya selesai, dia tidak tahu harus bagaimana. Di tangannya terdapat cek dari Hoshi san, apakah dia harus mempergunakannya. Tapi jika memang dia menggunakan hal itu, Aerith sungguh tidak ingin dianggap sebagai wanita murahan yang mendapatkan bayaran seperti ini. Meski dia memang murahan.
Baru saja Aerith ingin istirahat setelah lelah memikirkan nasibnya. Terlihat ada seseorang yang masuk ke ruangannya dan berapa terkejutnya dirinya melihat seorang wanita yang dia tahu identitasnya. Aerith sendiri cukup bingung kenapa wanita ini bisa ada di sini. Kemudian Aerith ingat jika keberadaan dirinya di rumah sakit ini adalah karena ulah anak dari pria ini.
" Jika anda kesini hanya untuk bicara omong kosong, sungguh saya mohon Anda untuk pergi.. Saya lelah dan saya ingin beristirahat. " ucap Aerith mengusir.
" Tinggalkan suami ku, maka hidup ku akan tenang.. Putra ku juga tidak akan kembali mencari mu... Bukankah itu mudah? "
" Tanpa Anda minta memang saya ingin meninggalkan beliau.. Sebentar lagi karir beliau akan naik, saya tidak ingin jadi batu sandungan untuknya suatu hari nanti.. "
" Baik.. Aku pegang kata-kata mu,, lihat saja apa yang bisa aku lakukan jika kau tidak membuktikan ucapan mu.. " ujar wanita itu kemudian langsung pergi dari sana.
__ADS_1
Sore harinya ketika terbangun, Aerith terkejut melihat sosok yang sangat dikenalnya. Mata Aerith mengedar ke seluruh ruangan ini, dan dia pun bisa bernafas lega karena tidak menemukan pria itu. Bisa gawat semuanya jika ada yang melihat pria itu disini bersama dengan Aerith.
" Dia menunggu mu di apartemen milik mu... Aku dimintanya untuk menjemput mu.. Lekas ganti pakaian mu.. " ujar wanita itu.
" Terima kasih Naya san.. " ucap Aerith membungkuk memberi hormat.
" Aish... cepatlah, dia bisa marah jika kita lama.. " ucap Naya san.
Wanita ini adalah asisten pribadi Max, sugar daddy Aerith. Memang tidak banyak yang tahu tentang keberadaan wanita ini karena dia mengurusi masalah pribadinya termasuk hubungannya dengan Aerith. Selama ini wanita inilah juga yang baik padanya tanpa memandang siapa dirinya dan apa pekerjaannya. Wanita ini selalu baik padanya.
Benar seperti apa yang Naya san ucapkan, sugar daddy Aerith benar-benar menunggu Aerith di apartemen yang menjadi hadiah pertama karena Aerith mempersembahkan virgin nya untuk pria ini. Max langsung menghampiri Aerith dan memeluk sugar baby nya ini. Sungguh, andai dia bertemu Aerith lebih dulu dibanding dengan istrinya, dia pasti akan menjadikan Aerith sebagai wanitanya tanpa bersembunyi seperti ini.
" Kerja bagus, baby... Kau yang terbaik.. " gumam Max ditelinga Aerith.
" Daddy... " Aerith pun langsung menangis dalam pelukan Max. Rasanya air mata dan kesedihan yang dia tahan selama beberapa hari ini bisa dia lampiaskan semuanya dalam dekapan hangat pria yang telah memberinya kehidupan yang layak selama ini.
Aerith tidak pernah membenci Max meski terkadang pria ini sangat kasar. Bagi Aerith pria ini adalah seseorang yang menjadi malaikat penyelamat nya. Jika saja dia tidak bertemu dengan Max, sudah bisa dipastikan derajatnya tidak akan pernah bisa dinaikan. Pria ini berjasa besar padanya. Dan andai saja hubungan mereka tidak serumit ini, Aerith pun tidak akan pernah melepaskan pria ini dari genggamannya.
" Maafkan daddy ya tidak ada di samping mu.. Daddy sibuk sekali.. Baby.. dengarkan aku,, aku ada acara di luar selama beberapa hari.. Besok pagi aku berangkat, bisakah kau menunggu ku dan kita selesaikan semua masalah mu? " pinta Max.
" Hm.. Aku akan menunggu kepulangan daddy.. " ucap Aerith mengangguk mantap.
__ADS_1
" Good Girl... " Max mengecup kening Aerith dan mengajak Aerith untuk beristirahat. Malam ini mereka kembali tidur bersama setelah sekian lama tidur sendiri. Aerith merasa tenang dalam pelukan pria ini, tapi Aerith sadar tidak akan selamanya dia bisa seperti ini.
" Sorry daddy... And thank you so much, for everything... "