Trapped My Cruel Lecturer

Trapped My Cruel Lecturer
Stadium awal


__ADS_3

Hari-hari Aerith terasa begitu indah sejak dia tinggal di desa ini. Selain adanya Matsuda san dan juga keluarga Hajime yang baik padanya, warga sekitar juga sangat baik pada Aerith. Keseharian nya dia gunakan untuk ke kebun teh milik Matsuda san, memetik teh bersama ibu-ibu pekerja. Juga sesekali pergi ke pabrik pengolahan teh yang dipetik tadi menjadi siap dipasarkan. Pengalaman yang belum pernah Aerith rasakan seumur hidupnya, dan dia bahagia karena itu.


Tapi sepertinya takdir berkata lain, pagi ini Aerith berangkat ke rumah sakit dengan Kenzo. Menurut Kenzo, hasil pemeriksaan Aerith sudah keluar. Aerith menjadi khawatir akan sesuatu saat melihat wajah Kenzo terlihat tidak baik-baik saja. Pikiran Aerith jadi kemana-mana, takut dia dia memiliki penyakit kronis yang mengancam nyawanya.


Begitu sampai di rumah sakit, Aerith diarahkan oleh Kenzo menuju ke bagian yang bertuliskan Neurologi, kemudian semakin masuk ke dalam dan Aerith diantar untuk ke bagian Neurosurgeon yang dikenal dengan sebutan bedah saraf. Aerith tidak tahu apa artinya, tapi melihat wajah serius Kenzo rasanya Aerith jadi sangat ketakutan sekali saat ini.


" Suster... Kami ingin bertemu dengan prof. Nakano.. " ucap Kenzo pada seorang suster jaga.


" Silahkan dok, prof Nakano sudah menunggu kedatangan anda. " suster tadi mempersilahkan Aerith dan Kenzo untuk masuk ke dalam.


" Selamat pagi, Nakano san.. " sapa Kanzo yang langsung membungkukkan badan memberi sapaan pada seseorang yang jelas lebih senior darinya.


" Apa ini yang bernama Hirano san? " tanya Nakano san.


" Iy... iya... dok... " Aerith membungkuk.


" Silahkan duduk, mari kita bicarakan ini dengan tenang.. Apa yang saya pegang ini adalah hasil pemeriksaan kondisi Hirano san.. Dan dari sini saya bisa mengatakan dan menyimpulkan bahwa dari tes MRI, ada gumpalan daging di bagian otak kanan Anda, yang mana kami sering menyebutnya dengan tumor.. "

__ADS_1


Degh..


Aerith melotot tidak percaya, bagaimana bisa dia memiliki tumor di kepalanya sedangkan dia saja selama ini tidak merasakannya. Tapi ucapan Nakano san berikutnya membuat Aerith lemas dan tenang disaat yang bersamaan.


" Anda bisa tenang Hirano san.. Kondisi Anda masih stadium awal dimana semua masih bisa disembuhkan asalkan Anda mengikuti pengobatan dengan baik dan mematuhi semua ucapan saya.. Jadi jangan pesimis dahulu, karena Anda memiliki sekitar tujuh puluh enam persen untuk sembuh.. " ucap Nakano san. Kenzo pun bisa bernafas lega saat ini.


" Apa yang harus Aerith chan lakukan sebagai langkah pengobatan untuk kesembuhannya, Nakano san? " tanya Kanzo tidak sabaran.


" Tenang.. Segala sesuatu harus dipikirkan dengan tenang dan dikerjakan dengan tenang. Jika kita tidak tenang, maka hanya akan membuat semuanya menjadi serba berantakan.. " Kenzo pun mengangguk.


" Dari hasil pemeriksaan ini bisa dikatakan tumor otak yang Anda derita masih stadium awal. Pengobatan yang bisa dilakukan adalah dengan operasi. Operasi memang sangat dianjurkan untuk pasien stadium awal karena pada saat ini, sel tumor itu masih belum berubah menjadi ganas.. Jadi saya sarankan, mulai hari ini Anda melakukan rawat inap, dan menjalani segala persiapan sebelum operasi.. " ucap Nakano san membuat Aerith sangat terkejut.


" Lebih cepat lebih baik nona.. Karena jika tumor otak yang masih jinak ini tidak segera diangkat, maka bisa dipastikan sel tumor ini akan semakin berkembang dan menjadi tumor ganas. Saat itu, pengobatan untuk Anda jauh lebih menyakitkan dari pada yang sekarang.. " Nakano san menjelaskan.


GLUG..


Aerith menelan ludahnya susah payah, ada saja cobaan yang menerpanya. Mungkinkah dosanya dimasa lalu sangat banyak sehingga kini dia mulai menerima akibat dari perbuatannya. Baru saja dia keguguran, lalu bercerai dari suaminya, diancam oleh istri dan anak Max, laku sekarang dia harus menderita penyakit tumor otak.

__ADS_1


" Silahkan dipikirkan lebih dahulu, Anda juga bisa memberi tahu pihak keluarga.. " ucap Nakano san.


Kenzo dan Aerith pun pamit untuk keluar dari ruangan dokter spesialis bedah saraf itu. Aerith masih diam membisu karena terlalu terkejut dengan apa yang tengah dia alami saat ini. Hari ini juga dia harus dirawat dan dia bersiap untuk melakukan operasi. Kini yang menjadi beban Aerith adalah biaya pengobatannya. Untuk hidup saja dia menumpang pada Matsuda san, lalu sekarang tidak mungkin dia meminta Matsuda san untuk membiayai pengobatannya.


" Jangan terlalu menjadikan masalah ini sebagai beban. Yang terpenting segera jalani pengobatan agar kau pun tidak lagi harus merasakan sakit karena tumor itu. " ucap Kenzo menepuk pundak Aerith.


" Tapi, bagaimana dengan biayanya? Kau tahu sendiri aku tidak memiliki apapun yang bisa digunakan untuk membiayai pengobatan ku.. " akhirnya Aerith mengatakan keresahan hatinya.


" Jika itu yang menjadi masalahnya, tenang saja, kau bisa mengajukan keringanan pada pihak rumah sakit. Aku akan membantu mu untuk mendapatkan keringanan itu. Jadi sekarang, ayo aku antar kau ke bagian yang mengurusi rawat inap.!! " ajak Kenzo.


" Tunggu kak... Aku takut semuanya tidak berjalan sebagai mana semestinya.. Aku tidak mau menjadi beban.. "


" Lalu keinginan mu adalah menikmati rasa sakit mu hingga pada akhirnya kau akan meregang nyawa? Jangan konyol.. Kasus mu ini lebih ringan dibandingkan orang-orang yang bahkan tidak tahu mereka sakit dan berakhir mereka mengetahui penyakitnya sebelum mereka mati.. Kau masih beruntung tahu sejak awal sehingga bisa segera mendapatkan pengobatan.. "


" Tapi kak... "


" Aerith chan.. "

__ADS_1


Aerith langsung membelalakan matanya ketika melihat siapa yang tengah memanggilnya. Suara yang sudah lama dia tidak dengar, kini pemilik suara itu sudah berdiri tidak jauh dari posisi Aerith duduk. Apalagi ini? Apakah dunia terlalu sempit sehingga dia bertemu dengan orang ini lagi, disini..


__ADS_2