
Ruang makan di kediaman Narita yang tadinya terlihat begitu tenang, kini berubah menjadi panik saat semua mendengar ucapan Ryuzaki yang bertanya kepada Aerith. Semuanya bingung kenapa Aerith tiba-tiba saja tidak ada angin tidak ada hujan malah menangis. Aerith yang tadinya menangis dalam diam dan menyembunyikan tangisannya, kini malah menangis dengan keras setelah ketahuan dia menangis.
Semuanya mencoba bertanya pada Aerith tentang apa yang terjadi padanya sehingga dia menangis. Tapi bukannya menjawab Aerith malah semakin menangis histeris karena terus-terusan ditanya oleh mereka semua.Daddy Hoshi yang melihat Aerith tidak nyaman dengan pertanyaan yang dilontarkan mereka itupun meminta semuanya untuk diam dan memberikan waktu untuk Aerith menenangkan diri.
Setelah beberapa menit berikutnya, Aerith sudah bisa mengatasi bagaimana perasaannya saat ini. Dia sudah kembali tenang bahkan sudah bisa lho tersenyum. Melihat Aerith yang sudah tenang, membuat semua mulut anggota keluarga Narita yang ada di ruangan itu gatal ingin segera bertanya pada Aerith.
" Sekarang bisa kamu ceritakan sama kami, apa yang membuat kamu menangis, Nak? " tanya daddy Hoshi terlihat begitu perhatian sekali.
" Melihat anda begitu perhatian pada ku, mengingatkan ku pada mendiang ayah yang selalu melakukan hal yang sama seperti yang anda lakukan. Aku merindukan mereka... " ujar Aerith tersenyum kecut.
Hati kecil Ryuzami terenyuh. Dia tahu jika Aerith adalah anak yatim piatu, tapi setahun ya Aerith sudah dirawat oleh paman dan bibinya ketika kedua orang tuanya meninggal dunia. Tapi apa alasan Aerith mengambil pekerjaan sebagai seorang pekerja dunia malam, itulah yang tidak Ryuzaki ketahui. Mungkin di sini dia bisa mendengar langsung ceritanya dari Aerith.
" Orang tua saya meninggal karena kecelakaan, dan saat itu saya yang masih sekolah menengah pertama dititipkan pada paman dan bibi. Bibi adalah adik dari ayah, tapi mereka tidak bisa menafkahi saya karena pekerjaan paman hanya seorang supir dan mereka punya tiga anak yang masih kecil dan sekolah.. Jadilah saya sejak itu belajar mandiri dengan sekolah sambil bekerja. Dan saya sudah lama sekali lupa tentang rasanya diperhatikan oleh orang tua... Saya... Saya.... " ucapan Aerith terpotong saat tiba-tiba daddy Hoshi memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Dalam pelukan daddy Hoshi, Aerith kembali menangis. Bahkan kini tangisannya lebih kencang dari tadi. Seolah dia tengah meluapkan semua keluh kesah yang dia tahan selama ini. Sekuat apapun Aerith, dia tetap anak perempuan yang membutuhkan sosok ayah dan ibu, terlebih ayah. Sekuat apapun dia, itu hanyalah cangkang yang dia buat untuk menutupi kelemahan yang dia miliki.
" Kau memiliki kami sekarang, jadi anggap kami keluarga mu. Kau anak ku mulai sekarang, dan jangan pernah menangis lagi karena tidak memiliki orang tua. Kami adalah orang tua mu, dan katakan pada ku jika si mulut pedas itu berani membuat mu menangis, aku akan menjahit mulutnya jika itu diperlukan... " ujar daddy Hoshi menenangkan Aerith. Tentu saja pada akhirnya Aerith tertawa ketika mendengar kalimat terakhir yang ayah mertuanya ini ucapkan.
Setelah acara mengharukan tadi berakhir, kini Ryuzaki dan Aerith sudah berada di dalam kamar milik Ryuzaki. Keduanya sama-sama canggung, apalagi Ryuzaki kembali mengingat apa yang dia lihat semalam, yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak karena membayangkannya. Jadilah keduanya sekarang hanya diam, yang satu duduk di sofa kamar yang satu duduk di ranjang.
Ryuzaki ingin mengusir rasa canggung ini, namun dia bingung harus membahas apa dengan Aerith. Dia tahu bagaimana hidup Aerith selama ini dari penyelidikan yang dia lakukan. Tapi, Ryuzaki yakin bahwa dia pasti masih melewatkan sesuatu dalam hidup Aerith. Apalagi melihat bagaimana tadi dia menangis hanya karena perhatian kecil dari daddy Hoshi.
" Maaf Ryuzaki san.. Tadi aku berlebihan.. Tapi sungguh aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Tadi aku menangis karena benar perasaan ku sedang.... "
Tentu saja Aerith mengangguk, jika itu hanya sebuah pertanyaan dia juga tidak akan menolak untuk menjawabnya.
" Kenapa kau memilih menjadi seorang wanita yang bekerja di dunia malam? Apa hanya karena uang? " Ryuzaki menatap mata Aerith. Dia sangat penasaran dengan itu setelah melihat Aerith menangis tadi.
__ADS_1
" Tentu saja karena uang,, apalagi yang bisa saya harap kan dari pekerjaan itu jika bukan karena uang. Sayangnya itu semua bukan karena saya haus uang, tapi membutuhkan uang.. Paman saya menolak membiayai sekolah saya ketika saya lulus SMP, beliau mengatakan tidak memiliki biaya untuk sekolah saya. Karena saya bodoh, saya jadi tidak bisa dapat beasiswa.. Hehehehe.. " Aerith nyengir kuda. Meski di dalam hatinya dia miris tapi dia tidak ingin itu terlihat oleh mata Ryuzaki. Dia tidak ingin dikasihani atas kemalangan yang menimpanya sejak kedua orang tuanya meninggal.
" Tapi kenapa begitu? Bukankah pasti ada asuransi dari kejadian kecelakaan kedua orang tua mu kan? " Ryuzaki terheran-heran.
" Tentu saja ada.. Tapi saya tidak pernah menerimanya. Saya tidak tahu berapa jumlahnya dan kemana uang itu, yang saya tahu ketika mereka menolah membiayai sekolah saya. Maka saat itu saya keluar dari rumah dan bertemu dengan bos saya di sebuah club malam elite. " cerita Aerith mengingat kejadian malam itu.
Flashback.
Malam hari yang begitu dingin karena saat itu tengah musim dingin. Aerith keluar dari rumah pamannya karena tidak lagi diharapkan disana dan tidak ada yang bisa dia dapatkan disana. Entah bagaimana nanti Aerith hidup, dia hanya ingin keluar dari sana sebelum pamannya menjadikan dirinya pelampiasan nafsu *** nya.
Aerith duduk di sebuah ruko toko yang tutup mengistirahatkan kakinya yang lelah karena berjalan jauh. Saat itulah bertemu dengan Mami Starla, seorang pemilik club yang biasa didatangi pria hidung belang dan tante girang untuk mencari kepuasan. Melihat Aerith, Mami Starla merasa kasian dan menawarinya pekerjaan.
" Ikut saja dengan ku, bekerja ikut aku, maka kau tidak akan lagi kesusahan memikirkan tentang uang dan sekolah mu.. Apa kau tertarik? " tanya mami Starla.
__ADS_1
Sebuah pertanyaan yang membuat Aerith bimbang saat itu, tapi siapa yang bisa menolongnya lagi selain orang di depannya ini. Apakah Aerith harus menerimanya, dan kenapa harus memilih jalan ini padahal dia tahu ini adalah jalan terhina yang pasti akan membuat dirinya hidup dalam cemoohan orang. Tapi hanya ini yang bisa membawa kesejahteraan baginya, karena dia hanya bisa menghasilkan uang dari pekerjaan ini*....