
Tidak ada yang bisa mengalahkan pemandangan ketika kita melihat seseorang yang kita cintai bisa tertawa dan tersenyum tanpa beban. Rasanya, pemandangan itu mengalahkan ribuan pemandangan indah yang ada di dunia ini. Karena itulah yang Ryuzaki rasakan saat ini. Menatap seseorang yang beberapa waktu ini menjadi pusat pikirannya. Ryuzaki akhirnya memberanikan dirinya mendatangi Aerith, meski hanya memandang dari jarak yang jauh.
Semalam, begitu mendapatkan keputusan dari Rena, Ryuzaki langsung bertolak menuju ke Shizuoka. Memang tidak membutuhkan waktu sampai satu hari untuk sampai, dan pagi ini dia langsung mendatangi perkebunan teh, tempat dimana Aerith berada.
" Indah... " gumam Ryuzaki menatap Aerith yang berdiri diterpa sinar matahari pagi di perkebunan teh. Sepertinya wanita yang dicintai Ryuzaki itu tengah membantu pada pekerja memanen daun teh.
" Anda tidak ke sana tuan? " tanya asisten pribadi Ryuzaki.
" Untuk sekarang tidak.. Memang bukan aku yang membuat keributan saat itu, tapi yang menorehkan luka paling dalam untuk nya adalah aku.. Menurut mu, apa dia akan baik-baik saja melihat ku saat ini? " Ryuzaki mengalihkan pandangannya, menatap asisten pribadinya.
" Jika saya jadi nona Aerith, tentu saya akan menampar Anda, tuan.. Menurut saya, saat kejadian itu, Anda sangat keterlaluan.. " ujar Akio, jujur.
" Ck.. Kau ingin aku pecat, Ha? " Ryuzaki berkacak pinggang menatap sinis asisten pribadinya ini.
" Saya bicara jujur tuan, karena memang saat itu Anda keterlaluan.. Dan lagi, perlu saya ingatkan bahwa yang berhak memecat saya adalah tuan besar Narita.. " Akio tersenyum miring, mengejek tuannya.
Terkesan kurang ajar sekali asisten pribadi Ryuzaki ini. Tapi bagi keduanya ini sudah biasa karena Tomoru Akio adalah teman sekolah Ryuzaki dari masih SMP hingga sekarang. Wajar saya hubungan mereka sangat dekat. Bahkan dengan beraninya Akio akan memukul Ryuzaki jika tuan mudanya ini bersikap keterlaluan atau lepas kendali.
Ryuzaki sendiri tidak bisa berbuat banyak pada sikap Akio yang tidak ada rasa hormat nya sama sekali dengannya. Selain karena mereka sudah berteman lama, Akio itu adalah kesayangan daddy nya karena terkenal kompeten sejak awal masuk dan mendaftar sebagai tangan kanan di keluarga Narita. Alhasil, Ryuzaki hanya bisa menahan kesal, dan jika ingin membalas, maka dia akan mengerjai Akio.
" Kirimkan hadiah untuknya.. Misalkan saja bunga, atau beberapa benda yang menjadi kesukaan seorang wanita! " ujar Ryuzaki memerintah.
__ADS_1
" Apa? Anda tahu sendiri karena terus menerus mengurus kehidupan Anda, saya jadi tidak punya kekasih sampai sekarang.. Jadi jangan Anda kira saya tahu apa yang menjadi kesukaan seorang wanita.. " Akio menjawab.
" Heh... Bilang saja kau tidak laku, kenapa menyalahkan aku?" kesal Ryuzaki langsung berlalu dari sana. Dia lebih memilih pergi ke toko perlengkapan wanita dan membeli sendiri, daripada mempercayakan masalahnya dengan pria amatir tentang wanita. Bisa-bisa dirinya dipermalukan nanti.
Aerith masih menjalani kegiatannya sehari-hari dengan mempelajari masalah perkebunan milik Matsuda san. Dibantu oleh Soujo san dan Matsuda san sendiri, Aerith mulai mempelajari satu per satu hal yang perlu di ketahui tentang perkebunan. Untuk sementara memang hal ini yang bisa Aerith lakukan sebelum dia kembali kuliah setelah kondisi fisiknya sekuat dulu lagi. Rambutnya juga masih belum tumbuh, membuatnya menunda keinginan kuliah sampai dirinya benar siap baik fisik maupun tekadnya.
Ada beberapa hal yang tidak Aerith mengerti tentang mekanisme pabrik yang mengelola daun teh yang dipetik oleh pekerja. Bukan masalah keuangan yang Aerith tidak mengerti, tapi tentang proses dari daun teh yang baru dipetik, sampai teh siap dipasarkan. Sebenarnya Aerith tidak harus mengetahui hal itu, tapi karena Aerith ingin benar-benar totalitas mengelola perkebunan ini, maka dia ingin mempelajari semuanya.
Kini saatnya Aerith untuk beristirahat, setelah tadi melihat sendiri mulai dari pekerja memetik daun teh sampai ke bagian pabrik yang mengelola daun teh hingga siap dipasarkan. Kini sudah waktunya dia makan siang, karena jadwal dia minum obat dan juga perutnya yang sudah lapar.
" Selamat siang.. Ada kiriman.. " teriak kurir dari luar pabrik.
Tidak ada yang menyahuti dari sekian banyak orang yang ada di dalam pabrik. Semuanya saling menatap bingung karena tidak ada yang memesan makanan. Aerith sendiri juga heran, kenapa bisa kurir datang mengantar makanan jika tidak ada yang memesan. Apakah kurir ini salah kirim, begitu pikirnya.
" Nona Aerith, kurir itu mengatakan pesanan makanan ini atas nama Anda dan alamatnya di pabrik ini. " ucap salah seorang pekerja.
" Aku? Tapi aku tidak pesan.. " Aerith memasang wajah bingung.
" Lebih baik nona keluar dulu dan lihat.. " ujar pegawai lainnya.
Aerith pun keluar dari pabrik dan betapa terkejutnya dirinya, kurir makanan itu mengantarkan makanan dengan mobil. Sudah ada banyak kotak makanan dan seseorang dari kurir itu maju untuk menemui Aerith.
__ADS_1
" Dengan Aerith san? " tanya kurir.
" Benar pak.. Tapi maaf saya tidak memesan ini.. Apakah anda tidak salah kirim? " tanya Aerith bingung.
" Benar dengan Hirano Aerith dari pabrik Xx? " Aerith mengangguk karena itu benar.
" Jika benar maka saya pun tidak salah mengirimkan ini, nona.. Anda terima saja, setelahnya coba tanya kan pada saudara atau orang-orang yang bekerja di sini, siapa tahu memang ada yang memesannya.." ucap kurir itu.
" Saya permisi dulu nona.. Selamat menikmati." kurir itu pun pamit pergi.
Aerith masih saja terheran, siapa yang memakai namanya untuk memesan ini semua. Apalagi Aerith tidak perlu keluar uang meski dia yang namanya tercantum di bagian pemesan. Aerith pun berpikir jika ini semua adalah kerjaan Matsuda san. Nanti saja setelah dia sampai di rumah dia akan bertanya pada sang kakek. Karena Matsuda san sudah lebih dulu pulang karena kelelahan.
" Terima kasih nona Aerith.. Masakan di resto ini terkenal memang sangat enak sekali.." ucap para pekerja yang tengah menyantap makanan siang mereka.
" Iya paman.. Selamat menikmati.." Aerith pun pamit untuk ke ruangannya.
Namun, belum juga langkah kaki Aerith meninggalkan tempatnya berada saat ini, seorang kurir datang dan kembali mencari dirinya. Kali ini yang datang adalah sebuket bunga mawar merah dan pink. Disinilah, Aerith mencurigai jika apa yang terjadi ini jelas ulah dari orang yang mengenalnya. Tapi siapa?
" Tidak mungkin dia kan? Bukankah dia sudah pergi ke Inggris.. Nanako tidak mungkin salah." gumam Aerith terheran-heran.
" Tapi, siapa lagi kalau bukan orang itu.. Dia sudah batal menikah, dan setahu ku dia sudah sendiri saat ini... Eh... Aerith.. Kenapa kau bodoh sekali dengan beranggapan bahwa ini semua dari nya.. Memangnya siapa diri mu sehingga orang itu masih menganggap mu istimewa setelah semua yang dia alami.." Aerith memukul kepalanya karena dengan PD nya berpikir bahwa Ryuzakilah yang mengirimkan ini semua untuknya.
__ADS_1