
Sungguh tidak pernah Aerith sangka, dirinya akan melihat sosok yang selama ini tidak pernah dia sangka akan menemuinya disini. Terakhir kali pertemuan mereka terjadi, semuanya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Aerith merasa bersalah pada sosok yang kini ada di depannya dan tersenyum padanya.
Aerith mendekat dan langsung menyambut uluran tangan sosok ini, kemudian Aerith memeluknya. Rindu, jelas pasti karena sosok ini pernah menjadi seseorang yang dia anggap sebagai pengganti orang tuanya. Bulan, nyonya besar Narita, datang untuk menemui Aerith setelah mendengar kisah pilu mantan menantunya ini dari putra keduanya dan juga Nanako, teman baik Aerith.
" Apa yang membawa nyonya kemari? " tanya Aerith setelah mempersilahkan Bulan dan asisten pribadinya masuk. Matsuda san memilih untuk ke perkebunan dan membiarkan cucunya berbincang dengan wanita yang dia ketahui adalah mantan mertua dari Aerith.
" Nyonya? Apa kau marah pada mommy, karena tidak berbuat apapun saat anak nakal itu memperlakukan mu dengan buruk? " tanya Bulan yang sebenarnya kecewa dipanggil nyonya oleh Aerith.
" Tidak... Bagaimana saya bisa marah pada anda, padahal sayalah yang bersalah. Bukankah itu namanya saya tidak tahu diri.. " ucap Aerith tidak ingin Bulan salah paham.
" Hihihi... Jangan bersikap seolah kau tidak pernah dekat dengan ku, nak.. Sungguh itu melukai hati ku.. Aku diam saat itu bukan karena aku tidak mau membela mu, tapi itu semua terlalu mendadak.. Kami tidak bisa mengatakan kau benar atau bersalah sebelum menyelidiki kebenarannya. Dan kenapa kau langsung pergi, padahal mommy dan daddy belum mengatakan apapun..? " ujar Bulan.
" Maaf... Saat itu, di rumah sakit, asisten daddy Max datang menjemput ku.. Jadilah aku langsung pergi ke tempat daddy Max. Hanya semalam setelah itu aku pergi.. Aku tidak bisa menimbulkan lebih banyak lagi masalah bagi keluarga Narita dan juga daddy Max, jika aku tetap di sana... Maafkan aku, karena keegoisan ku membuat semua orang menderita dan terluka.. " Bulan langsung memeluk Aerith yang tengah menangis.
__ADS_1
Hatinya tidak tega membenci seseorang yang begitu menginginkan memiliki keluarga. Tidak salah Aerith dia lebih memilih pulang ke tempat Max kala itu, karena baginya mungkin tempat Max adalah tempat yang bisa menenangkan dan melindunginya. Ryuzaki saja yang keterlaluan langsung menghadapi semuanya dengan emosi sehingga membuat semua keluarga Narita bingung harus mengambil langkah apa saat itu.
Bulan terus mengusap punggung Aerith yang bergetar. Merasa diri juga bersalah karena telah membuat Aerith menghadapi semuanya sendiri padahal awal pernikahan Ryuzaki dengan Aerith sudah dikatakan Narita adalah keluarga Aerith. Tapi nyatanya, Narita terlebih dahulu meninggalkan Aerith saat itu. Bulan dan Hoshi menjadi salah satu yang ikut andil dalam derita Aerith karena tidak bisa menepati ucapan mereka sebagai orang tua.
" Maaf... Rasanya sesak sekali di dada.. Mengingat kejadian itu membuat aku merasa bersalah pada semuanya, terutama Ryuzaki san dan daddy Max.. Mereka berdua berakhir dengan derita karena ku.. Andai saja saat itu aku tidak selemah ini, mungkin... mungkin saat ini... daddy Max masih hidup dan... Ryuzaki san tidak akan menderita karena ulah ku... Maafkan aku... Maafkan aku... " Aerith menunduk karena merasa dirinya harus meminta maaf. Untuk memulai hidup yang baru, dia harus melepaskan beban di masa lalu agar tidak menjadi batu sandungan di masa depan.
" Tak apa... Semua orang pernah bersalah, jadi jangan membebankan semuanya pada diri mu sendiri.. Berbagilah, karena bukan hanya suka yang perlu dibagi dengan sesama, tapi juga duka.. " Bulan berusaha menghibur hari Aerith. Membesarkan hati Aerith yang telah lemah karena masalah yang datang bertubi-tubi menghampiri hidupnya.
" Terima kasih karena anda mau memaafkan saya.. Terima kasih, sekali lagi Terima kasih.. " Bulan mengangguk.
Bulan merasa iba pada Aerith, setelah mendapatkan musibah yang diakibatkan oleh pria tidak bertanggung jawab, kemudian kehilangan calon anaknya, pergi tanpa sanak saudara di sekitarnya, kehilangan sosok yang berpengaruh pada kehidupannya dan terakhir harus menderita penyakit yang mengancam nyawanya. Jika pepatah mengatakan, sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah kata yang cocok untuk situasi Aerith.
" Sekarang sudah tidak apa, nyonya.. Aku sudah tidak lagi kemo, dan hanya mengonsumsi obat dari dokter saja.. Rambut ini... Juga akan segera tumbuh dan kembali indah seperti dulu.. Jangan menatap ku seperti itu, aku sungguh tidak ingin dikasihani.. " ucap Aerith setengah merengek.
__ADS_1
" Hahaha... Aku suka semangat mu Aerith.. Suatu saat nanti, kau akan lebih sukses dari ketiga putra ku.. Lihat saja nanti.. " puji Bulan tulus dari hati.
" Anda bisa saja.. Aku ini apalah, sampai bisa mengungguli ketiga tuan muda Narita.. Bisa bermanfaat demi orang lain saja aku, sudah sangat senang nyonya.. Setidaknya aku berarti bagi orang lain.. Seperti kata daddy Max, bahwa aku harus hidup untuk bagiannya juga.. " Aerith tersenyum.
" Bagus nak.. Jika itu bisa membuat mu bersemangat, maka berjuanglah untuk bahagia dengan cara apapun... " Aerith mengangguk.
Bulan ingin menceritakan tentang pemberitaan yang sedang booming tentang putra ketiganya. Tapi Aerith justru menolak untuk mendengar pembahasan itu dengan alasan dia tidak lagi ingin mengetahui apapun tentang kehidupan Ryuzaki. Bukan marah atau kecewa, karena disini Aerith lah yang bersalah. Hanya dirinya yang memang sudah menyadari siapa dirinya dan siapa Ryuzaki.
Aerith tidak ingin mengharapkan sesuatu yang sudah memiliki pemilik tetap nya. Dia tidak ingin kembali merasakan perasaan sama seperti ketika bersama dengan Max. Aerith ingin hidup netral meraih mimpinya, dengan mensukseskan hidupnya menjadi wanita karir yang mandiri. Dia akan mewujudkan janjinya pada Max dan pada dirinya sendiri. Untuk jodoh dan maut, Aerith pasrahkan semuanya pada yang diatas karena itu dia tidak ingin peduli dengan kehidupan mantan suaminya.
" Hidup itu satu kali, nyonya.. Di masa lalu aku banyak mengalami penyesalan dalam hidup ku.. jadi di masa mendatang aku tidak ingin membuat banyak sekali penyesalan. Aku harus hidup dengan baik, Tuhan memiliki porsi sendiri dalam hidup ku dan kini aku ingin menikmatinya.. "
Bulan tersenyum melihat ketegaran hati Aerith. Dia pun tidak akan ikut campur lagi dalam usaha putra nya dalam mendekatkan kembali hubungan mereka yang sudah sempat karam itu. Bulan sangat menyukai versi Aerith yang sekarang. Sungguh nampak sebagai wanita yang berpendirian kuat dan itu keren sekali.
__ADS_1
" Aku akan berada di belakang mu untuk mendukung semua yang menjadi keputusan mu... Aerith chan.. "