
Wajah Ryuzaki merah padam karena kesal, sungguh istrinya ini pandai sekali membuatnya kesal setengah mati. Setelah merayunya dengan gerakan yang sensual, apa semua tahu apa yang dia inginkan. Ternyata dia hanya ingin bermain sebuah game yang tadi dibawakan oleh Nanako untuk mengusir bosan di rumah sakit. Ryuzaki benar-benar dibuat malu dengan pikirannya yang menjurus ke sebuah hal yang enak-enak. Tapi dalam sekejap, istrinya menghancurkan angannya itu.
" Ayolah Ryuzaki san... Kenapa kau terlihat bad mood begitu? " rengek Aerith uang tidak ditanggapi dengan baik saat bermain dengan Ryuzaki.
" Ini permainan anak-anak, dan kenapa kau memaksa ku memainkan permainan ini? Apalagi dengan... dengan... rayuan mu tadi.. " diakhir kalian suara Ryuzaki terdengar sangat pelan.
" Hehehehe... Anggap saja ini keinginan ajak kita, kenapa kau perhitungan sekali sih.. " kata ' anak kita ' berhasil membuat hati Ryuzaki menjadi begitu hangat. Inikah rasanya menantikan saat dimana seorang pria dewasa akan dipanggil ayah. Sungguh luar biasa sekali.
" Baiklah.. " ucap Ryuzaki pasrah.
Sekarang bukan hanya kesal dan malu, tapi Ryuzaki benar-benar emosi. Dia yang jenius dalam segala hal dikalahkan oleh permainan anak-anak yang menyebalkan didepannya ini. Ryuzaki marah dan pergi masuk ke kamar mandi mendinginkan kepalanya daripada membentak Aerith dan bisa mempengaruhi mood ibu hamil.
Bayangkan saja, selama satu jam permainan ini dimainkan, Ryuzaki tidak sekalipun bisa memenangkan permainan ini. Dia selalu kalah dengan Aerith, hal itu membuatnya begitu malu dan marah. Permainan anak-anak ini akan menjadi tabu di rumahnya nanti, dia tidak akan membiarkan anak dan istrinya memainkan permainan ini dan kembali mempermalukannya.
Di luar Aerith sudah tidak lagi bisa menahan kekehannya ketika melihat wajah suaminya merah padam karena malu dan emosi. Sungguh Aerith bukan sengaja mempermalukan sang suami. Dia juga tidak menyangka jika suaminya tidak bisa bermain permainan yang hampir semua anak bisa memainkannya. Sungguh apa yang dikerjakan oleh suaminya ini ketika masih kecil, kenapa permainan seperti itu saja tidak bisa.
" Kenapa dia lama sekali di kamar mandi? Ya ampun,, bagaimana dia bisa tidak memahami permainan anak-anak seperti ini.. Hahahaha.. Wajahnya lucu sekali,, hahahaha.... emptt.. " Aerith langsung menghentikan tawanya ketika dia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka.
Ryuzaki muncul dan menatap tajam Aerith, karena dia tahu betul dan mendengar jika istrinya ini terus menertawakannya. Ryuzaki pun tidak ingin membahas hal memalukan ini lagi, pun akhirnya diam saja. Jika dia menegur sang istri karena masih saja menertawakannya, sudah barang pasti masalah ini akan terus diungkit oleh istrinya yang menyebalkan itu.
__ADS_1
" Apa kau ingin makan sesuatu? " tanya Ryuzaki pada Aerith. Dia mengambil jas miliknya dan memakainya.
" Aku masih kenyang makan dimsum tadi.. Memangnya kau mau kemana? "
" Mencari makan.. Karena itu aku tanya kau ingin makan sesuatu, aku akan sekalian membelikannya untuk mu.. "
" Tidak bisa kan delivery saja? Aku tidak ingin kau pergi keluar dan meninggalkan aku sendiri di sini. Sungguh aku akan sangat kesepian.. " Aerith terlihat menundukkan kepalanya karena takut Ryuzaki akan marah karena ucapannya.
" Sebelum kita menikah kau juga hidup sendiri, kenapa sekarang manja sekali? "
" Karena tidak punya siapa-siapa, jadi aku pun tidak mengharapkan akan ada yang menemani ku.. Tapi setelah menikah, aku merasa aku memiliki mu, jadi aku tidak ingin ditinggalkan sendiri.. Hehe,, aku konyol ya?? " Aerith mendongak menatap Ryuzaki dengan cengiran tapi dari matanya terlibat dia sedang bersedih.
" Kau benar-benar tidak ingin makan apapun? " Aerith mengangguk, " Baik,, awas saja jika kau nanti ngiler melihat makanan ku.. " ucap Ryuzaki tersenyum mengejek.
" Memangnya kau akan beli dimana? "
" Aku meminta mommy agar meminta Koki rumah untuk memasak dan nanti mengantar kemari.. "
" Aku mau... Aku mau... Croissant,, aku ingin itu dengan isi daging campur sayur.. Ya... Ya... " Aerith terlihat begitu bersemangat berucap sampai dia tidak sadar setengah berteriak.
__ADS_1
" Mommy dengar sendiri kan keinginan menantu mommy,, bisa secepatnya dibuatkan dan diantar.. Aku tidak mau dia badmood mom.. " ucap Ryuzaki fokus pada ponselnya. Aerith langsung menutup mulutnya malu karena suaranya yang setengah berteriak tadi rupanya terdengar oleh mertuanya.
" Oke.. Aku tunggu.. Thanks mom.. " Ryuzaki mengakhiri panggilan.
Aerith memberengut kesal karena telah ketahuan bersikap bar-bar di depan ibu mertua. Hal itu terlihat oleh Ryuzaki yang akhirnya kini ganti menertawai Aerith yang terlihat lucu dengan ekspresi macam itu. Aerith tentunya tambah kesal karena pria ini malah justru menertawakannya dan bukan menghiburnya. Resiko menikahi dosen kejam, jadi ya bisa dibilang harus siap mental bila sifat suaminya yang asli keluar.
Tidak ada obrolan setelah kejadian dimana Aerith malu saat Ryuzaki menelepon mommy Bulan. Keduanya kini sibuk dengan ponsel mereka. Aerith sibuk bertukar pesan dengan Nanako yang terkadang dia terkekeh sendiri sambil melihat ponsel. Ryuzaki sedang serius menatap ponsel miliknya untuk memeriksa pekerjaannya.
Keduanya larut dalam kegiatan mereka sendiri namun semua itu buyar ketika dokter kandungan yang merawat Aerith masuk untuk memeriksa kondisi kandungan Aerith.
" Janinnya sehat,, tapi mommy nya harus bed rest dulu selama seminggu ini. Tidak boleh stress, tidak boleh banyak berjalan, usahakan seperlunya saja. Makan makanan bergizi dan susu ibu hamil, serta minum obat ya.. " pesan dari dokter kandungan Aerith.
" Kapan istri saya bisa pulang dok? " Ryuzaki bertanya.
" Lusa, jika kondisi nyonya muda sudah tidak sepucat sekarang.. Saat ini, jelas beliau akan kesulitan jika berada di kediaman tanpa pengawasan dari dokter.. " jawab dokter.
" Terima kasih dok.. " Ryuzaki membungkuk memberi hormat. Kemudian mengantarkan dokter itu ke pintu.
Saat dipintu, dokter itu terlihat mengatakan sesuatu pada Ryuzaki. Dari ranjang Aerith bisa melihat pembicaraan itu tapi tidak bisa mendengar. Sepertinya sangat serius sekali, dan jujur Aerith penasaran. Apakah ada hal buruk pada kandungannya? Tapi dokter tadi mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
__ADS_1
Ryuzaki kembali masuk namun raut wajahnya terlihat beda dari tadi. Aerith bertanya pun dia dengan senyum terpaksa mengatakan tidak ada masalah yang serius. Tapi tanpa Aerith ketahui, saat ini Ryuzaki tengah merasa gundah dan sedih kalau mendengar apa yang dokter tadi ucapkan. Dia merasa sebagai suami yang tidak berguna sampai menempatkan anak dan istrinya dalam bahaya begini.