
Ketika Aerith tersadar dari pengaruh obat bius pasca operasi tadi, dia melihat banyak orang di dalam kamar inapnya. Satu jam yang lalu, dokter sudah memindahkan Aerith ke kamar rawat biasa. Kondisi Aerith sudah baik, masa kritis juga sudah terlewati. Sekarang yang perlu Aerih pikirkan adalah melanjutkan pengobatan.
Meski sel kanker sudah diangkat semuanya ketika Aerith menjalani operasi tadi. Tidak menutup kemungkinan jika Aerith tidak mengindahkan ucapan dokter, maka sel kanker itu bisa tumbuh lagi. Dan biasanya jika ditemui kasus seperti ini, biasanya bisa lebih parah dari yang sebelumnya. Karena itu, Aerith harus benar-benar menjaga pola hidupnya agar tidak membuah penyakitnya muncul lagi.
Hanako san meladeni Aerith dengan penuh kasih sayang. Setelah dokter memeriksa Aerith, sekarang Hanako san menyuapi Aerith dengan bubur hambar yang memang dianjurkan untuknya. Sebelumnya dokter sudah mewanti-wanti, agar jika sampai Aerith mengalami pusing atau mual, maka pihak keluarga diminta langsung menghubungi dokter jaga.
" Ayo Aerith chan... Kau harus menghabiskan makanan ini agar lekas sembuh.." Hanako san meminta Aerith untuk mau menghabiskan buburnya.
" Rasanya tidak enak bibi... Mulut ku seperti kemasukan kertas saja ketika memakan bubur ini.." Aerith menolak dengan keras. Padahal dia baru memakan beberapa sendok saja.
" Kau ingin cepat sembuh kan? Kalau ingin cepat sembuh ya kau harus mau makan.. Kalau kau tidak mau makan, maka semakin lama kau sembuh maka semakin lama juga kau tinggal di rumah sakit.." ujar Hanako san menakut-nakuti Aerith.
" Benar apa yang dikatakan oleh bibi mu Aerith.. Kalau ingin sembuh harus banyak makan dan minum obat.. Kakek tidak ingin sesuatu yang buk terjadi pada mu.. Kau tega melihat kakek sedih??" Matsuda san membantu untuk membujuk Aerith.
Rupanya dengan menggunakan sedikit acting memelas dari Matsuda san, Aerith langsung dengan bersemangat menghabiskan bubur yang dia katakan tidak enak itu. Semua tersenyum lega karena Aerith sangat mudah untuk dibujuk. Memang perlu banyak nutrisi agar membantu kondisi tubuh agar cepat pulih ketika sakit.
Setelah menghabiskan bubur yang Hanako san suapkan untuknya, Aerith memilih untuk mengistirahatkan kembali tubuhnya. Berada dalam posisi duduk terus menerus membuat kepalanya menjadi pusing. Jadi dia pun dibantu oleh Hanako san, kembali membaringkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya.
__ADS_1
Sakit kepala yang menderanya tidaklah parah, hanya saja membuatnya tidak nyaman karena sakit kepala ini cukup sulit untuk dihilangkan. Satu-satunya cara agar pusing kepalanya ini reda, Aerith memilih kembali tidur setelah meminum obatnya.
" kau sudah menyelidiki siapa mantan suami Aerith?" Matsuda san bertanya pada Soujo san.
" Cukup mengejutkan sekali apa yang berhasil saya temukan tuan.. Aerith chan menikah dengan putra ketiga keluarga Narita dan juga pernah menjalin hubungan serius dengan pria bernama Keito Maximus, yang sekarang ini tengah menjadi kandidat sebagai wali kota Kyoto." lapor Soujo san.
Hari dimana Aerith bertemu dengan Kyomi dan Kaien, Kenzo langsung melaporkan hal itu pada Matsuda san. Bentuk dari tindakan yang diambil oleh Matsuda san adalah perintah untuk menyelidiki masa lalu Aerith. Siapa yang pernah berhubungan dengannya dan siapa yang ikut andil dalam penderitaan Aerith, karena Matsuda san akan membuat perhitungan pada mereka semua.
" Apa yang menyebabkan perceraian antara Aerith dan juga putra ketiga keluarga Narita?" Matsuda san masih menatap lurus ke depan dimana terlihat Aerith tengah tertidur pulas setelah meminum obat.
" Aerith chan melakukan kerjasama dengan temannya untuk menjebak seorang pria dengan maksud untuk menutupi kehamilannya dengan pria bernama Keito maximus itu. Dan entah bagaimana ceritanya, tuan muda ketiga keluarga Naritalah yang terjebak dalam rencana itu.." Soujo san menjeda sejenak untuk mengambil nafas.
" Tuan, apa yang akan kita lakukan?" tanya Soujo san menantikan keputusan yang akan diambil oleh tuannya mengenai cucu perempuannya.
" Buat mereka semua yang mencari Aerith tidak bisa mendapatkan petunjuk apapun.. Cucu ku tidak membutuhkan lelaki pecundang seperti kedua orang itu.." Matsuda san terlihat marah.
" Baik tuan.. " Soujo san mengangguk paham.
__ADS_1
***************
Seorang pria tidak henti-hentinya menatap foto dari seseorang yang begitu dia sayang sejak awal pertemuan mereka. Dulu saja dia berusaha mengelak dengan perasaannya, tapi kini dia menyesal karena tidak menggenggam tangan dari seseorang yang dia sayangi itu ketika dia memiliki kesempatan untuk melakukannya.
Max, menjalani hari-hari penuh dengan penyesalan karena baru kini dia sadari bahwa dia tidak bisa hidup tanpa Aerith. Baru beberapa bulan mereka tidak bertemu, tapi Max sudah sangat tidak lagi mampu menahan rasa rindu dihatinya. Rasanya begitu sesak, dan dia enggan untuk melanjutkan hidupnya tanpa Aerith di sisinya.
Max gagal dalam putaran terakhir pemilihan walikota Kyoto, karena dirinya mengundurkan diri. Alasannya tidak dijelaskan, hanya Max yang kala itu diwakilkan oleh asisten pribadinya mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena pengunduran dirinya dari pencalonan walikota.
Kala itu, yang ada dipikiran Max hanya menginginkan Aerith untuk bersamanya. Bahkan dia mengajukan gugatan cerai dengan sang istri, karena tidak memiliki keinginan untuk bersama dengan wanita yang selama lebih dari dua puluh tahun menemaninya itu. Max hanya menginginkan Aerith kembali ke sisinya, apapun yang terjadi.
" Apa sekarang kau baik-baik saja? Sudah aku katakan aku tidak apa jika kau kembali pada ku, tapi kenapa pada akhirnya kau meninggalkan aku, baby.. " gumam Max menatap sendu foto Aerith.
" Apa yang membuat mu pergi? Apakah mantan suami mu yang memaksa mu untuk pergi? Perlukah aku membuat perhitungan dengannya demi kau? " ? Max tidak berhenti meracau, padahal dia tidak mabuk saat ini.
" Tuan.. " asisten Max datang. Namun kelihatannya Max sama sekali tidak menggubris kehadiran asistennya itu.
" Saya sudah mendapatkan penyebab kepergian nona Aerith.. " Max langsung menatap asistennya menuntut penjelasan.
__ADS_1
Kata demi kata yang diucapkan oleh asistennya kali ini, mampu membuat seluruh darah di tubuh Max mendidih. Tangannya terkepal erat, dan matanya menyala marah. Dada Max naik turun, sambil dirinya memasang telinganya untuk mendengar setiap kata yang diucapkan oleh asistennya itu.
" SIALAN.... SERET DIA KEMARI.... SERET MEREKA KEMARI.. SEKARANG JUGA!!!!! "