
Aerith terus menikmati kehidupannya yang dinilai sekarang jauh lebih baik dari yang dulu. Untuk urusan makan dan juga keperluan lainnya, kini Aerith sama sekali tidak dipusingkan dengan hal itu. Ryuzaki memberinya uang bulanan, dan itu lain dengan uang bulanan dapur. Khusus untuk Aerith, uang itu bisa dibelikan apapun yang dia inginkan. Jika habis, tinggal meminta pada Ryuzaki lagi.
Sayangnya, Aerith bukan wanita yang selalu meributkan urusan kewanitaan seperti make up, ke salon, perawatan dari ujung rambut ke ujung kaki, shopping barang branded. Dia bukan tipe wanita pengikut fashion. Jadi menurut Aerith uang bulanan dari Ryuzaki sangatlah banyak. Dia pun menabungnya untuk hari tua, andai kata mereka bercerai, Aerith punya uang untuk pegangan hidup.
Karena bosan di rumah, Aerith diajak bibi Ino untuk pergi ke pasar guna membeli beberapa bahan makanan mereka yang habis. Tentunya pasar yang dimaksud di sini bukan pasar yang becek dan berdebu, melainkan pasar yang ada di mall. Dasar bibi Ino saja yang menyebut mall adalah pasar.
" Nyonya nggak ada pengen beli apa-apa gitu? " tanya bibi Ino berjalan di samping Aerith dengan mendorong troli belanjaan mereka.
" Nggak tahu ya bi, kita keliling aja deh, siapa tahu nemu yang pengen.. " ajak Aerith.
Jarak lima meter dari Aerith ada dua pengawal. pribadi yang sengaja Ryuzaki perintahkan secara diam-diam membuntuti istrinya itu. Dari jarak seperti itu, Aerith tidak akan tahu, tapi keamanannya tetap terjaga. Sungguh tiap hari isi kepala Ryuzaki hanya ketakutan jika Aerith kesusahan kala dia tidak ada di sampingnya.
" Bik, apa nggak apa ya aku keluar begini.. Nanti Ryuzaki san marah pada ku lagi.. " ujar Aerith sedikit khawatir
" Beres pokoknya nyonya.. Kalau sama bibi nggak usah takut, dijamin aman.. " ujar bibi Ino yang paham kecemasan Aerith.
" Oke.. Bik, habis belanja makan di food court yuk.. Aku lagi kepingin makan sama sushi dan sashimi bik.. " ajak Aerith.
" Kalau begitu kita cepet selesaiin belanjanya nyonya muda.. Biar lekas makan.. " seru bibi Ino.
__ADS_1
" Bik.. Kan sudah aku bilang jangan panggil nyonya muda begitu.. Nggak suka bik.. Nggak nyaman dengernya.. " protes Aerith terlihat seperti anak kecil yang tengah ngambek.
" Iya deh.. Panggilnya Ae aja ya.. " ujar bibi Ino mengalah.
" Hm.. Sama seperti ibu aku, beliau manggilnya juga Ae.. Ao ae.. " ujar Aerith.
" Kok Ao Ae sih? Kan nggak ada nama depan Ao nya.. " tanya bibi merasa aneh.
" Nama ayah aku Aokira.. Dan menurut ibu, wajah aku mirip sekali dengan ayah, jadi di panggil Ao Ae.." Aerith terlihat sedikit sedih jika mengingat kedua orang tuanya.
" Mereka pasti bangga punya anak secantik kamu.. Bibi aja pengen punya anak cantik, tapi nggak mungkin kan bibi sama suami jelek, kalau anaknya cantik perlu dicurigai itu anaknya siapa.. "
Acara belanja sudah selesai, kini berganti dengan acara makan siang. Aerith memesan apa saja yang dia inginkan, tentu saja kartu ajaib milik Ryuzaki yang nanti akan membayarnya. Tak perlu membawa suami kalau kartu ajaib sudah ditangan, mau belanja apapun tinggal gesek. Begitulah seru Aerith saat dia berbelanja dengan bibi Ino tadi.
Di tempat yang sama dengan Aerith makan, seseorang nampak terkejut ketika melihat Aerith ada di tempat makan yang sama dengannya. Seseorang ini langsung menatap Aerith dengan tatapan penuh kebencian. Rasanya dia ingin melenyapkan Aerith sekarang juga. Nafsu makannya langsung menghilang ketika melihat Aerith ada di sana, tapi dia tetap bertahan karena ingin mengawasi apa yang tengah Aerith lakukan di sana.
Orang ini bahkan mendekat ke tempat duduk Aerith, namun tidak menarik perhatian agar tidak ada yang mencurigainya tengah mendekati Aerith.Dia dengan seksama mendengarkan obrolan Aerith dengan seorang wanita tua yang sepertinya adalah pembantu dari Aerith.
" Apa ayah menyediakan pembantu untuknya? Enak sekali, tinggal buka kaki saja sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.. Sialan.. " gumam orang itu.
__ADS_1
" Ae,, kenapa tidak mencoba mengajak tuan muda saja untuk makan disini.. Bukankah ini sudah jam makan siang, siapa tahu tuan muda sudah selesai mengajar.. " ujar bibi Ino.
" Benar juga ya bi,, coba aku kirimkan pesan padanya dulu.. Siapa tahu dia mau datang kemari.. " Aerith mengeluarkan ponsel miliknya dan lekas mengirim pesan pada Ryuzaki.
Gerak-gerik Aerith dan ucapan dari keduanya benar-benar diperhatikan oleh seseorang yang sudah mirip penguntit ini. Anehnya siapa tuan muda yang dimaksud disini. Orang ini yakin itu bukanlah ayahnya karena tidak mungkin ayahnya dipanggil tuan muda. Jelas ini pasti orang lain yang dimaksud. Merasa akan mendapatkan sebuah petunjuk yang bisa menjatuhkan ayahnya. Pria ini pun mengaktifkan video di ponselnya untuk merekam kejadian ini.
******
Ryuzaki yang mendapat kan pesan ajakan makan siang oleh Aerith langsung putar arah menuju mall yang dimaksud Aerith. Padahal Ryuzaki sudah hampir sampai ke kondo miliknya, tapi demi ajakan Aerith, dia langsung menuju ke tempat itu. Dia ingat bahwa ajakan makan siang yang dulu gagal karena ada Rena. Kini dia ingin menebus itu semua dengan makan siang kali ini.
Melihat Aerith tersenyum ketika bercanda dengan bibi Ino, membuat hati Ryuzaki tenang rasanya. Dia sedang mengusahakan yang terbaik untuk membuat wanita ini bahagia, karena bagaimana pun dia telah menganggap Aerith sebagai salah satu keluarganya. Entah bagaimana ending dari pernikahan mereka, Ryuzaki akan tetap memaksa Aerith tinggal disisinya.
Apa yang dikatakn oleh daddy Hoshi benar adanya, Aerith sebatang kara di dunia ini. Yang dia miliki hanyalah Ryuzaki saja saat ini, tentu dengan calon anak mereka. Jadi jika sampai pada akhirnya perpisahan adalah pilihan terbaik keduanya, Aerith akan tetap menjadi bagian dari keluarga Narita. Dan itu berlaku selamanya.
" Ryuzaki san... " panggil Aerith dengan tangan melambai ke arah Ryuzaki.
Ryuzaki mengangguk dan lekas menghampiri kursi Aerith. Dia tidak merasa ada yang mencurigakan padahal ada seseorang yang tengah merekam kejadian ini, dan orang ini sangat terkejut melihat sosok Ryuzaki ada di sana. Apalagi ketika Ryuzaki melabuhkan kecupan di pipi Aerith. Semuanya itu terekam dengan jelas di kamera ponselnya.
" Bingo.. " gumam orang itu.
__ADS_1