
Bora berlari ke arah Al dan memegang tangan Al..
"Al...?? " panggil Bora dengan pelan..
Al menoleh ke Bora dan merangkul istrinya itu..
"apa yang harus aku lakukan ke mereka sayang..?
mereka urusanmu.. kalau ketiga Pria tadi urusanku karna sudah berani mengataimu didepanku..!! "
Bora tertegun mendengar kata-kata Al yang sangat menghormatinya..
"kamu sangat menghormatiku Al..?? " tanya Bora..
"pertanyaan macam apa itu sayang..? tentu saja aku menghormatimu.. kamu istriku.. tidak boleh ada yang berani menginjak harga diri mu....!! aku bahkan tak pernah merendahkanmu apa menurutmu aku bisa membiarkan manusia busuk itu mencela mu..? " Al menunjuk 3 Pria yang sudah terkapar dengan darah di selangkang*n mereka.
Bora terharu mendengar kata-kata Al, ia memang tak salah memilih suami. Al memang sangat menakjubkan sebelum bora tau Al pria yang sangat kaya Bora sudah jatuh cinta dengan Al yang bisa membesarkan putranya dengan baik bahkan menjadi pelindung bayangan Bora.
"kalau begitu botakin saja rambut mereka semua supaya aku tertawa. !" pinta Bora menunjuk ke 7 pria yang masih bersimpuh ke arah Al
mereka mendongakkan kepala melihat Bora tapi segera menunduk terlalu takut menatap Al..
"jika itu maumu sayang sepertinya bukan ide buruk..!! " senyum tipis Al.
"tapi nggak ada gunting Al.. gimana dong..?? " tanya Bora
"s.. saya punya Nona...!" jawab salah satu dari perampok itu mengeluarkan gunting dari saku belakang celananya..
"siapa yang gunting sayang..?? aku atau kamu..?? " tanya Al.
"kamu aja Al.. aku mau menonton. !!" jawab Bora..
sebenarnya para perampok itu memiliki rambut yang panjang dan tak rela memotong rambut kebanggaan mereka. tapi bisa apa mereka kalau masih mau hidup harus menuruti permintaan Sepasang suami istri menakutkan ini kan?
Al menggunting semua rambut para perampok itu dengan asal-asalan sebelah botak, atas botak bawah botak dan banyak lagi dengan begitu mereka akan membotakkan kepala mereka kan? karna terlalu memalukan gundul dibagian tertentu.
"ahahahahahaahhh..." Bora tertawa lepas melihat semua para perampok itu yang di gunduli asal oleh suaminya..
mereka hanya menundukkan wajah tak berani menatap pasangan itu..
"hhuh.. baiklah.. kalian aku lepaskan karna sudah membuat istriku tertawa ...!! " senyum tipis Al
mereka menunduk hormat lalu berlarian memasuki hutan disekitar mereka..
"udah tertawanya..?? " tanya Al lembut menghapus air mata Bora yang jatuh..
Bora terlalu berlebihan tertawa hingga air matanya jatuh..
"udah.. ya Tuhan.. Al perutku sakit sekali..!! " keluh Bora memegang perutnya yang sakit..
Al terkekeh,, "ayo kita pulang...! "
__ADS_1
"tapi mereka bagaimana..? " tanya Bora menunjuk ketiga pria yang Al bunuh itu..
"biarkan saja.. ayo sayang. .!!" ajak Al menarik pinggang kecil Bora ke arah motor mereka..
Sementara Bora menatap mereka bertiga..
"apa kamu akan membunuh orang yang melecehkanku Al..?? " tanya Bora dengan serius..
"iya sayang.. itu sangat menyakitiku..! sudah pasti aku akan membunuhnya. " jawab Al naik ke motornya dan memakai helmnya..
Bora tersenyum haru ia tak menyangka akan menemukan Pria yang sangat mengasihinya. Bora memang belum pernah bertemu Pria yang baik, menghargai perempuan.
Zaman sekarang harga diri wanita tak ada nilainya, para pria hidung belang yang memiliki banyak uang bisa membeli tubuh wanita manapun..
"ayo naik.. sudah jam 10 ...!!" ujar Al melihat jam tangannya..
Bora dengan cepat memakai helmnya di aspal dan naik ke motor Al. Bora langsung memeluk Suaminya dengan erat. Al mengelus lengan Bora yang memeluknya.
.
.
.
setibanya di Kota.
Bora melebarkan matanya saat Al membawa motornya ke jalan perumahan elit..
"kamu akan tau sayang." bisik Al
Bora celingak-celinguk melihat rumah kawasan elit ini, harga rumah di sini 2 kali lipat dari harga apartemennya sudah dipastikan rumah kawasan elit ini milik pengusaha ternama yang penghasilannya melebihi gaji para artis seperti mereka..
"Al ini Rumah milik tuan Bagas kan? kenapa kesini..? " tanya Bora dengan gelisah.
"ini rumah temanku sayang.. raja disini..!! " jawab Al dengan enteng..
"teman..? temanmu tuan Bagas..? " tanya Bora dengan ekspresi terkejutnya
benar saja satpam yang sudah mengenal Al langsung membuka lebar gerbang masuk rumah Bagas. Bora meneguk salivanya bersusah payah dan makin kaget aja saat para pelayan rumah Bagas berbaris rapi menyambut Al..
"siapa Al sebenarnya..? kenapa bisa mengenal CEO AL Group..? bukankah tuan Bagas tak pernah mau dekat dengan siapapun lalu bagaimana dia bisa berteman dengan suamiku? dan juga kenapa Al bisa membeli cincin berlian itu dengan mudah..? " benak Bora bertanya-tanya
para pelayan tak berkata apapun hanya menunduk 90° ke Al dan Bora saat berjalan melewati mereka..
"dimana Bagas..? " tanya Al
"bermain basket dibelakang tuan..!! " jawab pelayan rumah bagas dengan sopan..
Al pun menarik tangan Bora berjalan ke arah belakang rumah Bagas bisa bora tebak Al sangat hafal setiap sudut rumah ini seolah rumah ini milik Al saja..
"Papa...?? mama...? " panggil Raja langsung menjatuhkan bola basketnya dan berlari ke arah Al dan Bora..
__ADS_1
"uuhh...!! anak papa yang mandiri...!! " puji Al menggendong Raja dengan bangga..
Raja mengecup pipi Bora hingga si empunya tersenyum manis dan mengelus punggung Raja.
Bagas juga berjalan ke arah mereka ,, "kapan kalian sampai..? " tanya Bagas dengan bahasa santai bukan formal.
"baru aja." jawab Al tak kalah santai..
Bora yang canggung diantara mereka sebab bora tau siapa Bagas..
"nggak perlu canggung Bora.. aku sahabat baik Al.. aku harap kamu bisa bersikap biasa saja saat hanya ada kita berempat..!! " ujar Bagas dengan tenang..
Bora tersenyum kaku dan mengangguk pelan.
"yeee. Mama sama Papa udah menikah kan..?? " tanya Raja dengan senang
"ya... ! dari mana kamu tau son..? " tanya Al menguji kepintaran anaknya itu..
"Cincin mama dan papa sudah membuktikannya.. hehehe...!! " nyengir Kuda Raja..
bora tersenyum,, "Raja sangat pintar ya..? "
"mama harus datang ya saat ambil raport raja minggu depan..? " pinta Raja memelas..
Al tersenyum begitu juga Bora,, "tentu saja Son...!! " jawab Al sedangkan Bora mengangguk
Bora belum terbiasa dengan Bagas yang merupakan boss besar perusahaan Raksasa AL Group..
.
.
Kini Bora duduk manis di kursi tunggu ruangan basket Bagas. bora menonton aksi permainan basket Al, Raja dan Bagas..
"aku nggak nyangka Al berteman baik dengan Tu.. eh.. Bagas... tunggu.. apa iklan itu juga atas permintaan Al..? nggak mungkin.. Bagas nggak mungkin mau diperintah emangnya siapa Al..? dia bukan pemilik AL Group..? "
namun sibuk dengan pemikirannya Bora jadi terbelalak
"AL Group dan nama Al juga..? apa artinya Al pemilik sesungguhnya AL Group..? " gumam Bora dengan mata melotot tak percaya..
Bora mengingat mundur kekayaan Al yang sebelumnya membuat rumah di hutan raja yang pemiliknya misterius..
"hutan Raja dari nama Raja..? " gumamnya lagi.
"AL Group juga sama dengan nama Al..? "
belum lagi cincin berlian yang dibeli Al yang mencapai 969 Milyar . mulut Bora terbuka lebar saat ini..
.
.
__ADS_1