
Bunda aulia menggenggam tangan johana dan membawanya duduk disofa, dia memeluk putrinya sekali lagi dengan tangisan haru..
Johana menyeka air mata ibunya, wajah dinginnya menjadi berubah hangat dan dia tersenyum,
" Bundaaa.. "
ucap johana lirih..
" aku kangen banget sama bunda "
" bunda juga kangen sama kamu nak "
ucap bundanya senang..
Johana mengedarkan pandangannya dan dia melihat ayahnya yang berdiri didepan kaca jendela ruangan itu, sambil membelakanginya,
Johana seketika langsung tegang, dia menatap ibunya yang juga menatapnya dengan sayu..
" Bun, Johana sudah bertemu bunda sekarang.? jadi johana akan pamit pulang, "
johana merogoh tasnya..
" Bunda ini kartu nama butik tempat johana kerja, Kalau bunda rindu johana lagi, bunda bisa sering datang kesana "
Johana akan beranjak dari duduknya ketika ibunya menahannya..
" Hana, kau tidak ingin menyapa ayahmu "
Johana seketika menjadi terdiam, dia menatap wajah bundanya dengan tatapan lirih..
" Maaf bunda, johana harus kembali kebutik "
ucap johana pelan lalu melepaskan genggaman ibunya dan berdiri, dia memeluk ibunya sekali lagi dan berjalan pergi meninggalkan ibunya yang terisak melihat kekerasan hati anak dan suaminya..
" Ahana..."
Suara panggilan itu menghentikan johana yang hampir meraih gagang pintu keluar, dia membatu seketika mendengar panggilan nama yang sudah hampir 10 tahun dia lupakan..
Johana berbalik dan melihat ayahnya masih berdiri membelakanginya..
johana menatap kepada ibunya yang tertegun dengan tatapan tak percaya sama dengan johana..
" Ahana.."
panggil farhan lagi tanpa menoleh..
__ADS_1
" apa kau tidak rindu dengan ayah "
Farhan berbalik tampak deraian air mata sudah tumpah membasahi kedua pipinya membuat anak dan istrinya tersentak, Farhan menangis..
Johana berjalan menghampiri ayahnya dengan langkah yang berat, seolah ada sebuah rantai yang membelenggu kakinya saat berjalan kehadapan ayahnya, dia menatap lekat wajah ayahnya yang menatapnya dengan sayang, Johana tak sadar menaikan tangannya dan menyeka air mata dipipi ayahnya dengan tangan bergetar, dia tak pernah melihat ayahnya menangis dengan tatapan seperti itu sejak kakaknya meninggal, karena dia tahu dalam kamus kakeknya menangis adalah tanda kelemahan apa lagi dilakukan oleh seorang pria..
Ayah farhan langsung menangkap tangan putrinya dan menggenggamnya dengan erat, dia meraih johana perlahan lalu memeluknya dengan erat sambil terisak..
" Maaf.. maafkan ayah, maafkan ayah sudah membuatmu menderita, maafkan ayah ahana.. ayah minta maaf "
ucap ayah farhan terbata membuat seketika tubuh johana merasa panas, dia tak bisa berkata2 selain memeluk ayahnya dengan erat, dia memeluk ayahnya dengan rakus, rasa hampa setelah 10 tahun lamanya membuat johana bergetar dia hanya ingin menumpahkan semua air mata yang ditahannya selama ini, bila ini mimpi dia tidak ingin bangun, bila Tuhan mengambil nyawanya setelah ini dia tidak akan pernah menyesalinya karena mimpinya menjadi nyata, ayahnya kembali memeluknya seperti dulu..
Johana melepaskan pelukan ayahnya lalu menatap ayahnya dengan haru..
" aayaahh.. apa.. apa ayah tidak marah lagi pada johana "
johana berkata dengan pelan karena suaranya tercekat, dia benar2 merasa kalau ini adalah mimpi..
" Hana, ayah sudah tahu yang sebenarnya, kalau kau bukan penyebab semua ini "
ucap ayahnya lirih..
" apa maksud ayah.?"
Ayahnya menceritakan semua tentang bukti misterius yang membuat ayah dan kakeknya mencari tahu dan ternyata seseorang yang bernama beni adalah dalang dari semua ini namun mereka tidak bisa melacak keberadaan orang ini, jadi sampai sekarang mereka tak bisa tahu apa motif beni melakukan semua kejahatan ini..
Jonana memeluk erat ayahnya lagi, dia menangis hingga matanya merah..
ayahnya menangkupkan tangannya kewajah johana dengan sayang,
" ahana, ayo kita kembali kerumah, kakek dan juga nenek sangat merindukanmu,"
ucap ayahnya lirih..
" apa kakek tidak benci johana lagi.?"
" Tidak sayang, bahkan kakek tak pernah berani kedepan ahana walaupun sudah tahu keberadaan ahana, karena merasa sangat bersalah menghukum cucu kesayangan'nya.."
ucap ayahnya penuh semangat..
" Maaf ayah, hana masih ada beberapa urusan yang belum selesai, bisakah ahana tidak pulang dulu kepuri bunga "
tawar johana dan dia menundukan kepalanya..
" apa kau masih marah pada ayah dan bunda nak "
__ADS_1
ucap ibunya menyela ucapan mereka..
" tidak bunda, aku sangat bahagia, tapiii ada beberapa urusan yang belum bisa aku beritahukan kepada ayah dan bunda "
" tentang apa "
ucap ayahnya menatap johana yang masih tertunduk dengan sedih..
" Ayah, maaf aku mengecewakanmu lagi,, aku tak bisa mengatakannya sekarang "
tunduk johana..
" Baiklah.. sekarang.. ayah biarkan kamu pergi tapi nanti kamu harus kembali kepada kami lagi, "
Johana mengangguk dan tersenyum, dia memeluk ayah dan bundanya bersamaan..
" Bunda, ayah lapar.."
ucap ayah johana disela pelukan mereka, lalu mereka memutuskan untuk makan bersama diruangan itu, bunda johana pergi bertemu dengan koki kantin untuk terjun langsung memasak untuk anak dan suaminya dengan antusias dan gembira..
Sepeninggal ibunya johana terus bersandar dipundak ayahnya, dia ingin menikmati masa2 yang telah hilang bersama ayahnya hingga dia terkejut dengan pertanyaan dari ayahnya..
" Bagaimana kabar mereka.? Apa mereka berdua baik2 saja "
ucap ayahnya sambil menatap ahana yang terkejut bukan main..
" Ayah sudah tahu.?"
johana memberanikan diri untuk bertanya..
" tentu saja ayah tahu apa yang membuatmu berat kembali kerumah, kamu tidak ingin kakek tahu keberadaan mereka berdua bukan.?"
johana tak berani menjawab, dia hanya menunduk..
" Maafkan aku ayah, aku memang pantas dibenci, karena selalu mengecewakan ayah dan bunda"
" sssttt.. "
ayahnya menghentikan ucapan johana, dia lalu memeluk johana dengan erat..
" Itu semua salah ayah hana, harusnya ayah tak meninggalkanmu sendirian, Menyesalpun sudah tak berguna, tapi ayah bangga padamu, karena kamu telah berjuang sendirian untuk mereka berdua, kamu memang anak ayah yang kuat, kamu memang nona dari keluarga farhadi,"
ucap ayahnya sambil tersenyum..
Johana memeluk ayahnya lalu ibunya datang sambil mendorong troli makan siang mereka dan mereka makan bersama dengan rasa bahagia..
__ADS_1