
Javier mengacak rambutnya kasar karena melihat johana yang tidak ingin menemui siapa pun setelah siuman, dia menolak menemui siapapun selain mertuanya dan siena..
Satria mengusap pelan bahu javier yang berdiri menyandarkan kepalanya ketembok..
" Pergilah selesaikan pekerjaanmu, aku akan bicara dengannya "
ucap satria yang mendapat tatapan lemas dari adiknya, namun melihat tatapan teguh satria, javier pun mengusap kasar wajahnya dengan pasrah, dan berlalu keruang kerjanya melangkah dengan gontai..
satria memutar gagang pintu, dan saat pintu terbuka, tampak johana duduk bersandar, sambil memejamkan matanya..
Satria berdehem, karena dia tahu kalau johana sebenarnya tidak tertidur, dia sengaja menghindari mereka..
" jika ingin menghukum, hukum saja aku, jangan vier, dia tak tahu apa2 jo.?"
ucapan satria ini sukses membuat bulir2 bening dipipinya merembes..
Tak dipungkiri, hatinya bahagia menemukan kenyataan kalau orang yang dicintainya masih hidup, tapi hatinya bimbang dan bingung, sikap apa yang harus dia ambil, andai saja kenyatan ini terjadi saat wajah johanda masih wajah yang dikenalnya, mungkin dia adalah orang paling bahagia didunia ini..
Namun kini berbeda, wajah yang paling dikenalnya itu, hilang ditelan oleh garis wajah asing yang kini tinggal dihadapannya..
" Jo, banyak hal yang ingin kakak bagi kepadamu, entah itu kenyataan jika aku adalah kakak kandungmu, atau kenyataan bahwa wajahku telah berbeda dari sebelumnya, namun aku tidak tahu, harus memulai semua cerita ini dari mana, aku hanya berharap kau tidak melimpahkan semua kesalahan ini kepada javier, karena dia benar2 tidak tahu apa2 "
FLASH BACK ON..
Johanda sadar setelah kritis selama satu minggu disebuah rumah sakit, dia membuka matanya untuk pertama kali dan menyadari tempat yang begitu asing disekelilingnya..
__ADS_1
dia berusaha memaksa ingatannya, dan dia mengingat seluruh peristiwa kecelakaan itu..
" Haanaa..hhhhh"
ucap johanda terbata, mengingat adiknya..
dia juga berusaha untuk bangun namun semua tubuhnya langsung merasakan sakit yang tidak bisa dia kendalikan..
Ketika itu terdengar suara pintu terbuka dan tampaklah seorang pria baruh baya masuk dengan plastik kresek ditangannya..
" Tuan, kau sudah sadar.."
ucap pria itu menghampiri johanda dan memencet tombol darurat yang menghadirkan dokter dan beberapa perawat didalam ruangan itu..
" Syukurlah, dia telah melewati masa kritisnya "
" terima kasih dokter, saya akan menyampaikan berita ini kepada tuan danu terlebih dahulu, untuk proses selanjutnya "
ucap pria itu yang diangguki oleh dokter tersebut kemudian pergi dan menyisakan johanda dan pria tinggi itu berdua didalam ruangan yang ternyata adalah kamar VVIP no 1 yang ada dirumah sakit tersebut..
" Tuaan.. teeri..ma kasih, karena suuu..daah.. menoo..longku "
ucap johanda terbata, menahan rasa sakit disekujur tubuhnya yang ternyata mengalami luka bakar ditubuh bagian belakang hingga melepuhkan hampir sebelah kulit wajahnya..
" Tuan, bukan aku yang telah menolongmu, tapi tuanku, tuan mengutusku untuk menjagamu dan kini beliau sedang menuju kemari, karena mendengar kau telah sadar dari koma "
__ADS_1
lelaki itu tersenyum tepat ketika pintu dibuka dari luar dan tampaklah seorang pria paruh baya yang sangat berwibawa dengan kharisma luar biasa yang terpancar dari wajahnya yang tampan meski mungkin usianya telah mencapai hampir setengah abad..
Pria itu mendekat kearah johanda, dan tersenyum kearahnya..
" Syukurlah kau sudah sadar boys "
ucap pria itu sambil tersenyum simpul, membuat lengkungan indah dibibirnya yang ditumbuhi beberapa rambut halus yang rapi..
Johanda bagaikan mendapat kekuatan melihat sosok yang berkharisma didepannya ini..
" Terima.. kasiih.. tuan..?"
ucap johan masih terbata..
" Hhmm.. tidak masalah boys, asalkan kau sudah siuman, apa kau punya keluarga yang bisa dihubungi.?"
ucapan pria itu sontak membuat johanda menunduk lemah, dia bukan tidak ingat siapa keluarganya namun jika dia kembali dan muncul sekarang, mungkin pria jahat itu, tidak akan melepaskan keluarganya, apa lagi mengingat kondisinya yang masih sangat lemah, belum lagi luka bakar ditubuhnya membuat johanda benar2 tidak berdaya karenanya..
Melihat binar sedih dimata johanda, pria itu mengerti dan kemudian menghela nafasnya..
" Boys, Luka bakar ini cukup serius, bahkan hampir menyapu seluruh wajahmu, aku sudah membincarakan jadwal operasi dengan dokter terbaik dikota ini untuk menyembuhkanmu, jadi aku hanya ingin agar ketika lukamu mengering dan sembuh, akan ada keluarga yang bisa menemanimu menjalani operasi kerontruksi wajah nantinya "
ucap pria itu lirih sambil menatap pria muda didepannya ini dengan iba..
" Aku tidak punya siapa2 tuan.."
__ADS_1
ucap johanda lancar memalingkan wajahnya kearah berlawanan untuk menahan bulir air mata yang sudah tumpah dimatanya..