
Johana dan aldi telah sampai keApartemen javier,
aldi memasukan sandi apartemen javier, begitu pintu terbuka aldi menyilahkan johana untuk masuk..
" Faro, masuklah.. aku akan pulang mengurusi beberapa berkas kantor yang belum selesai "
saat aldi akan pergi dia kemudian kembali..
" Faro,"
ucap aldi dan faro menoleh..
" Maafkan aku karena membuatmu kembali keposisi yang sulit lagi, kau mungkin sangat menyesal "
ucap aldi penuh sesal..
" terima kasih kak, aku tak pernah menyesalinya, baik itu sekarang, ataupun 6 tahun yang lalu, semua itu karena alasan pribadiku sendiri, bukan salah kalian "
ucap johana tersenyum, membuat aldi bernafas lega dan menutup pintu apartemen..
Johana berjalan perlahan menghampiri kamar javier yang sudah ditunjuk oleh aldi, dia merasa gugup dan mondar mandir dibelakang pintu, Meyakinkan dirinya, lalu perlahan memutar gagang pintu, begitu pintu terbuka tampak javier yang berbaring dengan pose tengkurap kebantal, johana, menaruh tasnya keatas nakas dan dengan takut2 dia naik keatas kasur, mengusap punggung javier dengan sayang..
" Kak avi, apa yang terjadi,.? kenapa orang2 itu selalu menjebakmu "
tangan johana yang mengusap punggung javier bergetar..
Tiba2 javier terbangun menyadari ada yang mengusap punggungnya..
" aldi sudah aku bilang kalau aku tidak .?"
dia mengangkat tangan yang dia kira tangan aldi dan akan menghempaskannya ketika dia terpaku karena melihat orang yang duduk disampingnya adalah johana..
javier menggelengkan kepalanya, dia berpikir apa kah dia sedang bermimpi karena sudah mabuk, bukankah dia hanya meminum setengah gelas yang langsung direbut oleh aldi, javier memukul kepalanya ringan..
" apakah aku bermimpi lagi "
saat dia akan memukul kepalanya kembali johana menghentikannya, dia menggenggam tangan javier yang sukses membuat javier membatu..
" kak avi, ini faro, kak avi tidak sedang bermimpi "
ucap faro lirih..
" kau benar2 faro.."
__ADS_1
ucap javier lalu mengusap sayang pipi johana..
lalu memeluk johana dengan erat, johana mengusap bahu javier dengan perlahan..
" Apa masih terasa panas,.?"
tanya johana yang tidak digubris oleh javier, karena dia sedang menikmati harum tubuh faro dari ceruk leher wanita kesayangannya ini..
" Kak avi, kenapa menjadi ceroboh seperti ini, bagaimana kalau aku tidak ada disini, kenapa menolak semua orang "
ucap johana yang membuat javier bingung akan arah kata2nya, tapi kemudian dia berpikir..
Mungkinkah yang faro maksud karena aku terus menerus mencarinya hingga mengabaikan orang lain yang menyukaiku..
" karena yang aku inginkan adalah dirimu "
jawab javier..
" apa aku sepenting itu dihatimu kak "
ucap faro semakin lirih..
" Bukan hanya penting faro, kau segalanya bagiku "
Mereka bertatapan lama sekali, Johana mendekatkan wajahnya kepada javier, lalu mengecup bibir javier singkat, namun javier menahan tengkuk jonana hingga bibir mereka saling ******* satu sama lain..
javier menempelkan kening mereka dan menarik faro kembali kepelukannya..
" Jangan pergi lagi faro, aku hampir membeku karena merindukanmu, kau boleh marah dan memakiku karena menodaimu tapi aku tak akan sanggup jika kau pergi menghilang lagi "
ucap javier lirih..
" kak, semua itu bukan salahmu, aku yang menginginkannya, aku tak pernah menyesalinya kak "
" kalau tidak menyesal, Lalu mengapa kau pergi.?"
ucap javier menatap mata johana yang menunduk..
" aku.. aku.."
johana berkata dengan gugup, membuat javier memeluknya lagi..
" Jangan katakan jika kau tidak ingin mengatakannya, tapi jika kau sudah siap membaginya nanti aku akan menjadi orang pertama yang siap mendengarmu "
__ADS_1
ucap javier sambil mengusap kepala johana..
Johana lalu menghela nafasnya..
" Kak aku pergi karena aku mengalami depresi, sebuah peristiwa kecelakaan menewaskan bibi dan kakakku, semua itu salahku kak, aku yang menjadi penyebab mereka berdua meninggal "
ucap johana yang menangis tertahan membuat javier menggeleng sendu sambil mengusap air mata johana..
" jadi karena itu kau selalu mengalami mimpi buruk"
ucap javier yang membuat johana bingung..
" kakak tahu, aku selalu mengalami mimpi buruk.?"
tanya johana..
" hhm"
angguk javier..
" kak avi, apa tubuhmu masih terasa panas, siapa yang sudah berniat jahat selalu menjebakmu meminum obat asmara.? apa ada orang lain yang ingin melihatmu jatuh.?"
tanya johana heran karena dia melihat kalau javier masih duduk dengan santai ketimbang 6 tahun yang lalu..
" Obat asmara "
ucap javier mengerutkan keningnya pertanda bingung, namun lagi2 dia mengira kalau johana masih membahas masalah 6 tahun yang lalu..
" aku sudah menemukan orang jahat itu dan dia sudah dihukum"
ucap javier memeluk johana yang mengangguk mengerti..
Johana menatap mata javier, dia berpikir dalam hati pasti javier ragu memulai semua ini karena dia selalu berpikiran waras walaupun bara itu terus mendesaknya.. johana memberanikan diri mengusap leher javier, jari2 lentiknya menelusuri kancing2 baju javier lalu melepaskannya, kemudian dia melepaskan kancingnya blousenya sendiri, tiba2 javier menghentikan aksinya dan menatapnya dengan nanar, membuat johana tersenyum..
" kak, aku tahu kau sudah menderita menahan hasratmu karena obat terkutuk itu, bahkan kau menolak 2 wanita yang dibawa oleh kak aldi untukmu, tapi kak, bagaimana kalau kak aldi tidak bisa menemukanku hari ini,.? apa kau lebih rela mati menahan hasratmu.?"
Javier seakan terguncang mendengar kata2 johana, dia belum bisa mencerna dengan baik apa yang dikatakan johana, dia memang bingung dengan kehadiran johana diapartemennya, johana bahkan tahu sandi untuk masuk kedalam apartemen itu..
" Apa aldi yang mencarimu dan membawamu kesini "
ucap javier menatap johana serius..
" Jangan marah kepadanya, aku yang memutuskan untuk ikut dia datang kesini "
__ADS_1