
Jam menunjukkan pukul 7 malam. Tamu undangan sudah mulai berdatangan. Sang pengantin juga sudah duduk di singgasananya. Mereka sangat serasi. Satu cantik dan satunya ganteng. Sesha sangat bahagia beda dengan Sakti yang terpaksa menerima ini semua karena merasa tidak enak dengan keluarganya dokter Tyo. Tapi Sakti mencoba ikhlas, mungkin Sesha jodoh yang ditakdirkan sang pencipta.
Wienda memang ikut kegedung resepsi, tapi dia hanya rebahan dikamar hotel. Sejak kehamilannya Wienda jadi malas dan suka pusing. Tyo tidak mau ambil resiko kalo meninggalkan istrinya dirumah sendiri. Tyo ikut bergabung dengan keluarganya menyambut tamu yang hadir. Tyo harus ada karena tamu yang diundang sebagian rekan bisnis Tyo.
Satu jam berlalu. Wienda bosan dikamar sendiri. Wienda memutuskan turun dan bergabung dengan suaminya. Didepan pintu kamarnya sudah ada dua bodyguard yang menjaga.
"Nona mau kemana" tanya salah satu bodyguard
"Mau kebawah bosen dikamar" jawab Wienda
"Baik mari nona"
"Kok kesini sayang" tanya Tyo lembut
"Bosen dikamar, aku juga mau liat pestanya Sesha meriah mana sama pesta kita dulu" kata Wienda
"Mau duduk apa nemani mas disini"
"Duduk dimana? Jangan jauh-jauh dari mas" Wienda bergelayut manja dilengan Tyo
"Duduk sini aja kalo gitu, temani mas nyambut tamu"
"Undangan sebanyak kita dulu"
"Iya, mungkin malah lebih"
"Hay bumil" sapa Wike adik Wienda
"Hay datang juga kamu dik" Wienda menghambur memeluk adik perempuannya
"Sama siapa" tanyanya
"Ayah bunda Wildan" jawab Wike
"Trus mereka mana"
"Tu ngobrol ma mertua kakak"
"Hay kakak ipar apa kabar" Wike menyapa Tyo
"Alhamdulillah baik, makasih ya udah mau datang" sapa balik Tyo
__ADS_1
Akhirnya Wienda malah ngobrol sama adiknya.
"Lapar gak Ke tolong dong ambil makanan kakak lapar tapi malas mau ngambil" titah Wienda
"Siap kakak, mau makan apa" tanya Wike
"Terserah apa aja boleh" jawab Wienda
Wike mengambil berbagai macam makanan dan membawanya pada kakaknya.
"Ni" Wike menyerahkan piring
"Banyak banget"
"Gak papa biar ponakan aku sehat disini kalo Mamanya makan banyak" Wike mengelus perut Wienda yang mulai membuncit
"Nduk hamil jangan terlalu banyak makan yang manis-manis" kata Bunda
"Bunda" Wienda langsung memeluk Bunda
"Gimana nduk aman kan cucu Bunda gak rewel kan" tanya Bunda
"Sekarang dah aman bun, diawal-awal Wienda sampai teler, tapi sekarang Wienda suka lapar tengah malam" cerita Wienda
Tak terasa mereka ngobrol ngalor ngidul udah 2 jam lebih.
"Sayang kamu istirahat, nanti kecapekan kasihan baby kita nanti" kata Tyo yang mengecup kening istrinya
"Bunda dan yang lain nanti nginep sini kan" tanya Wienda
"Iya udah kamu istirahat besuk dilanjut kangen kangenannya" kata bunda
"Wienda duluan ya" pamit Wienda
"Tyo antar Wienda dulu ya Ayah Bunda" pamit Tyo
"Ya istirahat lah" kata ayah
Sesampainya dikamar
"Ni yang pengantin baru kita apa mereka mas" tanya Wienda
__ADS_1
"Kenapa"
"Masa kamar kita juga dihias seperti kamar pengantin aja"
"Gak papa biar istri mas seneng kita kan belum honeymoon, itung-itung ini honeymoon kita"
"Belum honeymoon aja dah isi"
"Ya bagus dong berarti usaha kita tiap malam berhasil, gak perlu biaya lebih dah dapat disini" Tyo mengusap lembut perut istrinya
"Tapi aku tetep pengen pergi ketempat itu Capadigya"
"Isya Alloh dalam waktu dekat sebelum kamu lahiran kita kesana babymoon"
"Serius mas"
"Ya sayang"
"Makasih mas i love you"
"I love you too"
Dah ganti baju terus istirahat"
"Mas mau balik lagi kebawah"
"Enggak mas akan menemani istri mas sampai terlelap"
"Terlelap apa terlelap mas"
"Tidur sayang" Tyo mengecup kening istrinya
Wienda masuk kepelukan suaminya, mendekap erat tubuh kekar. Wienda mendusel masuk keceruk leher suaminya. Sementara pestanya sudah berakhir pengantinnya juga sudah memasuki kamarnya.
Sakti merebahkan tubuhnya. Sesha segera masuk kekamar mandi. Sebelum masuk
"Mas tolong bukain gaun aku, tanganku gak nyampek" kata Sesha
Tanpa kata Sakti beranjak dari ranjang.
"Gak mandi mas"
__ADS_1
"Mandi, kamu aja duluan, sejak kapan panggilanmu berubah"
"Sejak hari ini"