
Sesuai dengan janjinya kemarin kalo weekend ini Tyo membawa istrinya serta putra kembarnya berkunjung kerumah Bunda. Tyo dengan istrinya dan putranya menaiki satu mobil dengan Panji yang jadi sopirnya. Sedang dua pengasuh sikembar berada dimobil lain bersama beberapa bodyguard yang dibawa.
Mereka melewati 3 jam perjalanan. Begitu sampai dirumah Bunda mereka disambut oleh ayah dan Bunda. Mereka tinggal berdua karena kedua adik Wienda sedang menempuh pendidikan diluar kota.
"Bunda Wienda kangen" kata Wienda dan langsung memeluk bundanya
"Bunda juga kangen sayang" Bunda
"Sama ayah gak kangen ni" goda ayah
"Ayah ya pastilah kangen" manja Wienda
"Udah jadi Mama manjanya masih aja"
"Nak Tyo apa kabar, sabar ya ngadapin kekakuan ajaib Wienda kadang manjanya kelewatan" kata bunda
"Iya bunda aku dah biasa dengan kemanjaannya Wienda, aku seneng kok Bun bisa memanjakannya" kata Tyo
"Makasih suami" kata Wienda
"Ayah" Tyo menyalami ayah mertuanya
"Kalian pada istirahat pasti capek dijalan, bunda dah siapkan makanan suruh tu anak buahmu makan nak kasihan mereka" kata bunda
"Iya bunda" jawab Tyo
Wienda bercengkrama dengan orang tuanya. Sedangkan Tyo memilih tidur dengan kedua buah hatinya. Sebenarnya Tyo juga tidak tidur karena tanpa pelukan istrinya Tyo tidak bisa memejamkan matanya. Begitu pula Wienda tanpa pelukan suaminya Wienda juga kesusahan memejamkan matanya. Keduanya saling membutuhkan satu sama lain.
Wienda hendak menuju kamar menyusul suami serta putra kembarnya. Baru saja melangkah suara tangis sikembar sudah nyaring terdengar. Wienda bergegas menghampiri mereka. Marvel sudah berada digendongan Tyo sedang Marvin masih merengek dikasur. Maklum Tyo tidak bisa menggendong keduanya bersamaan beda dengan Wienda yang sudah mahir menggendong keduanya bersamaan.
"Sayang Papa gak gendong adik uh sini sama Mama" Wienda mengambil Marvin yang madih menangis dikasur.
Segera Wienda memberi asi pada Marvin bergantian dengan Marvel. Kini Marvin yang digendong Tyo
"Vel sisakan buat Papa ya jangan rakus papa juga mau" kata Tyo pada putranya Marvel
"Mas ini anakmu lo masa gak mau ngalah" tegur Tyo
"Ini punya mas, Marvel sama Marvin cuma minta isinya doang sementara" jawab Tyo
"Dah tau minta sementara kenapa protes" kata Wienda
"Aish sayang mas kan juga pengen sekarang" kata Tyo
__ADS_1
"Pengen apa" Wienda
"Pengen makan kamu, ditungguin dari tadi gak nongol-nongol" sewot Tyo
"Hahaha dari tadi nungguin to, kenapa gak manggil kalo nunggu" Wienda
"Ya kali didepanya mertua masa mau geret kamu kekamar tur bercinta kan gak lucu, ya kamu aja punya telepati gak sama mas" dengus Tyo
"Maaf, setelah kembar tenang mas busa kok sepuasnya" Wienda
"Serius" Tyo
"Iya apasih yang enggak buat mas" Wienda
"Sini dpnya dulu" Tyo
"Dpnya apaan sih" Wienda
"Cium dulu" Tyo
"Ish " Wienda
Keduanya berciuman meski keduanya tengah memangku putranya masing-masing.
Tok tok tok
"Masuk tidak dikunci" jawab Wienda
"Tadi sikembar nangis kenapa" tanya bunda
"Ini Bun minta mimik" jawab Wienda
"Sini sama nenek sayang" bunda mengambil Marvin dari pangkuan Wienda
"Nitip ya Bun" kata Wienda
"Sekalian panggil suster Bun biar ngambil Marvel" tambah Wienda
" Sini biar bunda bawa sekalian. Silahkan kalian istirahat" bunda pergi meninggalkan anak dan menantunya
Tyo langsung menyerobot bibir tipis istrinya. Wienda mah pasrah aja gak akan ada yang bisa nolak mendapat serangan mendadak suaminya yang diliputi hasrat yang sudah diubun ubun.
Tyo menyudahi ciumannya, berjalan kearah pintu dan menguncinya. Tyo segera melepaskan pakaiannya begitu juga Wienda. Tanpa banyak bicara keduanya memulai kegiatan disore hari. Satu jam mereka bertempur hingga sekarang keduanya terkapar kelelahan memejamkan mata saling mendekap erat menempel menjadi satu. Tidak peduli dengan lengketnya keringat. Tidak peduli dengan celoteh putra diluar seakan dunia milik berdua melanglang menjelajahi alam mimpi.
__ADS_1
Tok tok tok pintu diketuk Bunda
"Wien makan malam dulu, dari siang kalian belum makan" panggil bunda
Wienda menggeliat mengucek ucek matanya melihat jam diatas meja rias. Matanya melotot sempurna sudah jam 8 malam. Wienda segera mengenakan pakaiannya dan keluar menemui bundanya.
"Ya Bun ada apa" tanya Wienda dengan muka bantal
"Ya ampun Wienda kamu tidur dari sore sampai malam, kamu gak sholat" tanya Bunda
"Belum Bun" jawab Wienda
"Astaghfirullah Wienda buruan sholat dan makan malam mana suamimu" tanya bunda
"Masih tidur, Bunda sama ayah makan malam duluan nanti kita nyusul" kata Wienda
"Ya udah" Bunda mengintip dalam kamar putrinya
"Pantesan gak bangun habis perang ternyata" kata bunda dengan mengulum senyum
Wienda cuma cengar-cengir mendengar ucapan bundanya yang seratus persen benar. Wienda segera masuk kamar dan membangunkan suaminya.
"Mas bangun mas udah malam"
"Mas Tyo bangun mandi sana" Wienda menggoyang-goyangkan tangan Tyo suaminya.
"Em jam berapa yang" tanya Tyo yang enggan membuka mata
"Jam 8 lebih" jawab Wienda
"Ayo tidur lagi masih sore ini, mas masih capek" kata Tyo
"Ditunggu makan malam sama ayah dan Bunda" kata Wienda
"Astaga lupa kalo dirumah mertua" kekeh Tyo
"Makanya buruan bangun cuci muka gak usah mandi" kata Wienda
"Habis makan malam mas minta lagi ya" Tyo menjawil dagu Wienda
"Ish mas katanya capek" Wienda
"Capek tapi bikin nagih" Tyo
__ADS_1
"Ayo kasihan mereka nungguin kita" Wienda menarik tangan suaminya