TYWI ( TYO WIENDA)

TYWI ( TYO WIENDA)
Ketemu


__ADS_3

Pagi ini ini Tyo telah rapi dengan setelannya. Tyo mau kerumah sakit seperti biasa.


"Mas, aku ikut kerumah sakit ya" tanya Wienda


"Gak bosen nungguin mas kerja" tanya balik suaminya


"Bosen gak bosen mau gimana lagi, dirumah juga gak ada kegiatan. Kalo ikut mas kan bisa gangguin mas nanti " jawab Wienda


"Ya ampun sayangku, mas itu kerja kalo digangguin kasihan pasien mas" kata Tyo memberi pengertian


"Pokoknya Wienda ikut kerumah sakit. Titik" kata Wienda tidak mau ada penolakan


"Iya sayang ayok siap-siap " Tyo mengalah. Berdebat dengan istrinya tidak akan menghasilkan apapun yang ada istrinya marah dan urusannya bakan panjang kali lebar kali tinggi. Volume banget kan.


Tyo memilihkan dress untuk istrinya. Wienda sih terima aja apapun pilihan suaminya.


"Pakai ini. Sikembar dibawa gak" tanyanya sambil menyerahkan dress pilihannya pada istrinya.


"Enggak kalo ikut tambah ganggu " jawab Wienda


"Buruan mas mau tengok kembar dulu" kata Tyo pergi meninggalkan istrinya.


Wienda segera bersiap. Wienda juga memasukkan baju ganti serta camilannya kedalam paper bag. Wienda keluar kamar dengan elegan meski hanya dengan make-up tipis. Kecantikan Wienda terpancar dari dalam hati bukan karena make-up.


Wienda menuju meja makan. Mau sarapan dulu sebelum berangkat. Kebetulan Mama sama Papanya nginep, jadi sekarang dimeja makan sudah ada mertuanya.


"Cantik banget mau kemana sayang" tanya Mama Dewi


"Mau ikut mas Tyo kerumah sakit Ma" jawab Wienda


"O suamimu mana" tanya lagi Mama


"Nengokin kembar" jawab Wienda


"Kalo gitu kembar Mama bawa ya" ijin Mama


"Iya Terimakasih ma mau bantu jagain kembar" kata Wienda


"Kembar kan cucunya Mama jadi ya gak masalah dong" kata Mama Dewi


"Pagi semua" sapa Tyo yang duduk disebelah istrinya sebelumnya kecupan hangat mendarat dikening Wienda.

__ADS_1


Meski pernikahan Wienda udah memasuki tahun ketiga tapi Tyo tetap memperlakukan istrinya dengan mesra meski dihadapan kedua orang tuanya. Bahkan didepan mertuanya pun Tyo tidak canggung menunjukkan kemesraannya.


Wienda mengambilkan makanan untuk suaminya. Tyo menerima tanpa protes. Apapun yang diberikan istrinya pasti dimakan. Seakan keduanya tau ini makanan kesukaan apa bukan, jadi sudah pasti kalo salah satu dari mereka tidak menyukai makanan tersebut tidak akan dimasak.


Seusai sarapan pergi mengikuti suaminya. Mama mertua membawa kedua cucunya untuk dibawa pulang kerumahnya. Taulah betapa rempongnya bepergian dengan sikembar. Semuanya dobel.


Sesampainya di rumah sakit Tyo turun dari mobilnya dengan menggandeng istrinya. Wienda mengikuti suaminya dengan senyum. Karena seluruh pegawai rumah sakit tau kedatangan mereka jadi mereka menyapa dengan ramah dan sopan.


Sesampainya dilorong mereka bertemu dengan orang yang terduga. Wienda bertemu dengan sosok yang selama ini mengintai kediamannya. Wienda berdiri memaku melihat sosok tersebut ada didepan matanya.


Tyo yang dari tadi menggenggam tangan ikut terhenti. Tyo menatap istrinya.


"Ada apa sayang" tanya Tyo lembut


"Mas" Wienda mengeratkan pegangannya


"Sayang kenapa. Wajahmu pucat, kamu capek jalan? Sini mas gendong kalo capek" Tyo mendekat hendak mengankat istrinya tapi ditolak istrinya.


"Ada orang yang semalam kita bahas" kata Wienda


"Mana" Tyo mengedarkan pandangannya dan didepan sekitar 20 meter ada sosok berdiri mematung menyaksikan kedua pasangan suami istri tersebut.


"Dia" kata Tyo


"Tenang ada mas" jawab Tyo


Tyo berjalan santai mengampit pinggang istrinya dan menelpon Panji untuk segera masuk.


"Tenang ini tempat umum tidak mungkin dia berbuat jahat ditempat umum" kata menenangkan


"Tapi mas" Wienda menjeda ucapannya


"Ada mas ada pengawal juga, jangan dipikirkan. Kalo kamu stress kasihan baby kita yang disini ikut stress" kata Tyo dengan mengelus perut istrinya yang sudah mulai menonjol.


Panji beserta beberapa anak buahnya udah ada dibelakang Tyo.


"Tuan" sapa Panji sopan


"Orang itu ada disini, awasi gerak geriknya, jangan sampai kecolongan" kata Tyo


"Baik tuan" kata Sakti

__ADS_1


"Kalian berdua ikut saya" kata Tyo


"Baik tuan" jawab bodyguard yang lain


"Mas kenapa hidup aku nggak bisa tenang, gak sulit kan mas kalo cuma mau hidup tenang. Banyak aja gangguannya " keluh Wienda


"Sabar sayang semuanya akan baik-baik saja " kata Tyo


Dua orang bodyguard menjaga didepan pintu ruangan dokter Tyo, ruangan dokter kepala. Tyo mengantisipasi semuanya. Panji mengerahkan anak buahnya lebih banyak untuk berjaga dirumah sakit serta memantau target. Panji tidak mau gegabah dia harus mencari situasi yang pas untuk mengunci targetnya.


Target tidak menyadari kalo dirinya memicu pergerakan dari pemilik rumah sakit. Target dengan santainya hanya duduk-duduk saja diarea rumah sakit. Memantau Wienda apakah perempuan yang dicintainya dari dulu itu bisa diajak bicara.


"Sayang mas ada pasien yang harus mas periksa, didepan udah ada Panji yang berjaga didepan pintu. Kalo butuh apa-apa telpon mas atau Panji jangan keluar dari ruangan mas ini" pesan Tyo


Wienda mengangguk "Jangan lama-lama perginya " jawab Wienda


"Iya cuma ada 2 pasien " kata Tyo


Sebenarnya Tyo tidak mengunjungi pasiennya. Tyo pergi dengan beberapa bodyguard untuk melihat target. Sebelumnya Panji telah memberitahu kalo target udah ditangkap dan dibawa kemarkas.


Sebelum Tyo pergi Tyo minta Panji yang menjaga istrinya. Tyo datang kemarkas didampingi beberapa bodyguard. Tyo masuk dan mendapati seorang pria dengan tubuh tegapnya duduk dengan tangan terikat kebelakang dikursi kayu.


"To the point aja sebenernya mau li apa dengan mengintai keluargaku" tanya Tyo


"Aku cuma pengen ketemu Wienda. Wanita yang bertahun-tahun aku cinta dan aku tunggu ternyata malah pergi meninggalkan aku dan sudah menikah dengan laki-laki lain" jawab Zaki tenang


"Kalo cuma mau ketemu kenapa meski menakutinya" tanya Tyo


"Maaf kalo kemunculanku membuat takut" jawab Zaki


"Sebenarnya lo itu ada hubungan apa dengan istriku" tanya Tyo


"Aku menyukai Wienda dari dia smp, tapi karena aku tidak mengatakannya jadi Wienda tidak tau. Aku justru pergi jauh merantau berharap kembalinya dari rantauan aku bisa memiliki Wienda tapi ternyata terlambat" jawab Zaki dengan menunduk


"Seharusnya kalo lo beneran cinta sama Wienda lo ikhlasin Wienda bahagia dengan kehidupannya. Bukannya datang trus membuatnya ketakutan. Lo tau tiap hari dia gelisah gak bisa makan gaj bisa tidur bahkan sampai drop katena rasa takutnya diancam dimata matai"Bentak Tyo


"Maaf bang aku gak bermaksud, sebenarnya aku cuma mau ketemu Wienda dan berbicara saja, tapi mungkin caraku salah" sesal Zaki


"Gue akan bebasin lo dari sini. Pergi jauh dari hidup kami dan jangan pernah muncul dihadapan kami apalagi didepan Wienda " kata Tyo


"Baik bang, tapi ijinkan aku ketemu dan bicara dengan Wienda untuk yang terakhir kalinya" pinta Zaki

__ADS_1


"Gue gak janji tapi gue usahakan" kata Tyo dan pergi gitu aja ninggali Zaki.


Tyo bergegas kembali kerumah sakit. Tyo gak mau Wienda ketakutan sendiri. Tyo harus menjadi pengayom untuk keluarganya dan menjadi orang pertama yang dibutuhkan apalagi untuk istrinya.


__ADS_2