
Sudah seminggu Tyo terbaring koma dirumah sakit. Selama itu pula Wienda setia menemani. Bahkan anak-anaknya dibawa juga kerumah sakit. Pihak rumah sakit tidak ada yang berani melarang Wienda membawa anak-anaknya karena rumah sakit ini milik dokter Tyo. Marvel dan Marvin menempati ruang pribadi dokter Tyo dilantai teratas supaya tidak menggangu pasien lain.
Sebenarnya Mama melarang Wienda membawa anak-anaknya tapi karena kondisi Tyo yang butuh Wienda juga anak-anak yang masih butuh mamahnya mau tidak mau Mama Dewi mengijinkan Wienda membawa sikembar.
Ceklek.
Pintu terbuka menampilkan sosok Mama mertua.
"Wien ini Mama bawa makanan kamu pasti belum makan kan, ayo makan dulu" kata Mama Dewi yang menyodorkan kotak makanan
"Nanti dulu ma, Wienda belum lapar" tolak Wienda halus
"Ini udah lewat jam makan siang gak boleh nunda lagi, nanti kamu sakit, siapa yang jaga Tyo serta putra kembarmu. Gak usah dirasakan telan saja yang penting ada yang masuk diperutmu" tegas Mama Dewi.
Mau tidak mau akhirnya Wienda makan juga. Meski tidak merasakan apa-apa. Seperti kata mamanya telan aja gak usah dirasa dan Wienda melakukannya.
"Habisin makanannya, Mama mau nengok cucu dulu" pamit Mama
"Makasih ya ma" kata Wienda
Mama Dewi hanya tersenyum tipis dan berlalu meninggalkan Wienda diruang rawat anak semata wayangnya. Sebenarnya perasaan Mama Dewi tidak kalah hancur dengan Wienda. Dulu anak pertamanya meninggal karena kecelakaan. Mama Dewi trauma melihat keadaan Tyo saat ini. Sebisa mungkin Mama menghindari berlama lama diruangan Tyo. Mama tidak mau hancur dan itu akan menambah beban pikiran Wienda.
Meski Mama terlihat kuat didepan Wienda menantunya tapi akan sangat rapuh jika dengan suaminya atau lagi sendiri. Mama lebih memilih menjaga cucu cucunya ketimbang melihat Tyo yang terbaring tak berdaya. Tidak ada orang tua yang tidak iba melihat darah dagingnya tergolek tak berdaya seperti ini. Lama Mama berdiri mematung didepan pintu ruang rawat Tyo sebelum akhirnya meninggalnya.
"Mas aku makan dulu ya" kata Wienda. Meskipun Tyo tidak sadarkan diri Wienda tetap mengajak bicara apapun. Wienda selalu cerita tentang anak-anaknya, bahkan membawa anak-anaknya untuk melihat kondisi Papanya berharap Tyo tergerak untuk segera sadar.
Siang malam Wienda ada disampingnya. Ditemani Papa Andrew Sakti bik Ulfa juga Steven bundanya yang kebetulan datang menjenguk. Mereka bergantian menemani Wienda menjaga Tyo. Mama tidak mau menunggu Tyo karena hanya akan menangis dan menangis.
Wienda sebenarnya menolak keras mereka ikut menjaga Tyo apalagi yang menjaga Sakti dan Steven. Mereka berdua yang memahami ketakutan Wienda memilih menunggu diluar ruangan. Tapi yang lebih sering menemani bik Ulfa dan juga Bunda Sandra.
Semua kebutuhan Tyo Wienda yang melakukannya. Tiap hari dia yang mengelap tubuh Tyo. Wienda tidak mengijinkan perawatan menyentuh Tyo sedikitpun kecuali urusan medis yang Wienda tidak mengerti.
__ADS_1
Tiap hari Wienda dengan telaten menyeka seluruh tubuh Tyo yang sekarang tinggal tulang dan kulit. Seminggu tidak mendapat asupan makanan membuat tubuh proporsionalnya menghilang. Wienda sendiri juga terlihat kurus. Bagaimana tidak kurus susah tidur makan gak enak pikiran melayang pasti siapa pun akan seperti Wienda.
Ditempat lain tapi masih dirumah sakit yang sama Sesha berjuang melahirkan buah cintanya dengan Sakti. Sakti sengaja tidak memberitahu siapa siapa dulu sebelum bayinya lahir karena itu hanya akan menambah beban pikiran orang-orang disekitarnya.
Sesha berjuang didampingi Sakti yang setia berada disisinya.
"Mas sakit" rintih Sesha
"Tahan sayang kamu pasti bisa" kata Sakti memberi semangat pada istrinya.
"Mas jangan tinggalin aku" rengek Sesha
"Tidak mas akan ada disampingmu selamanya. Kita akan melewati ini semua bersama sama" Sakti menggenggam tangan Sesha
Sakti tidak peduli meski dokter berkali kali minta Sakti keluar dari ruang bersalin tapi Sakti tidak bergeming sedikitpun. Pihak rumah sakit tidak ada yang tau kalo Sakti keluarga dokter Tyo.
"Saya ini adik dari dokter Tyo. Mama Dewi dan Papa Andrew itu orang tua istri saya orang tuanya Sesha, jadi kalo kalian semua masih ingin kerja disini gak usah banyak tingkah" geram Sakti pada dokter yang memaksa dirinya keluar.
"Maaf tuan maaf saya tidak tau" kata dokter dengan muka pusatnya.
Memang saat pesta pernikahan Sakti dan Sesha tidak mengundang pihak rumah sakit karena dirasa tidak ada hubungannya.
Tiga jam Sakti berada diruangan itu. Muka kusut rambut acak-acakan penampilan berantakan sama sekali tidak mencerminkan kalo dirinya seorang CEO diperusahaan besar.
Setelah penantian panjang yang menguras energi juga pikiran dan emosi akhirnya bayi mungil mereka lahir dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Sakti ikut meneteskan air matanya mendengar tangis pertama putranya.
Bayi mungil dengan bobot 2900 gram dan panjang 52 cm itu menjadi kado terindah untuk pasangan Sakti Sesha. Satu tahun lebih mereka menanti adanya tangisan bayi. Dan sekarang tangisan tersebut hadir diantara keduanya.
"Ini tuan bayinya laki-laki tampan" kata perawat dan menyerahkan pada Sakti. Sementara dokter masih memproses Sesha, memberi jahitan pada lukanya. Setelah bayi diadzani oleh Sakti bayi diberikan pada Sesha untuk diberi IMD ( Inisiasi Menyusu Dini).
Bayi pintarnya langsung mencari sumber kehidupannya begitu ditaruh didada Sesha. Bibirnya mangap mangap mencari putingnya. Sesha terharu melihat malaikat kecilnya menyusu pada dirinya. Hati Sakti menghangat melihat dua orang yang sangat disayanginya. Sakti merogoh ponselnya dan memfoto kegiatan ibu dan anak ini dan mengirimkan pada keluarganya.
__ADS_1
Setelah foto terkirim berbondong bondong ucapan selamat serta omelan karena tidak mengabari sebelumnya, terutama dari Mama Dewi yang omelannya dari A sampai Z. Melihat respon begitu antusias dari keluarganya Sakti hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Ceklek
"Dasar anak kurang ajar" omel Mama Dewi begitu masuk ruangan Sesha dan memukul Sakti menggunakan tas tangannya.
"Maaf ma kita cuma gak mau menambah pikiran Mama" kata Sesha
"Dasar bodo, kalian benar-benar" kata Mama
"Papa dah tau belum" tanya lagi Mama
"Belum ma ini baru mau ngabari" jawab Sakti
"Kabari suruh kesini sekarang juga dan suruh Papa bawa makanan. Mama lapar" kata Mama Dewi
" Iya ma" kata Sakti
Tak lama kemudian bik Ulfa masuk
"Kenapa tidak ada yang ngabari ibu sebelumnya" tanya bik Ulfa
"Maaf bu " kata Sakti
"Jadi bibik juga gak dikasih tau, dasar kalian" kata Mama Dewi
"Maafin kita ma, ibu kita cuma gak mau nambahin beban pikiran kalian aja" kata Sesha
"Sudah apapun itu semua baik-baik saja kan" tanya ibu
"Alhamdulillah bu semua proses persalinan Sesha lancar dan lihatlah cucu ibu tampan seperti Papanya" jawab Sakti dengan percaya diri yang tinggi
__ADS_1
"Mana gantengan mana sama sikembar" kata Mama menggoda