TYWI ( TYO WIENDA)

TYWI ( TYO WIENDA)
Cikha melahirkan


__ADS_3

Saat ini Cikha tengah mengusap usap lembut perut buncitnya. Sudah sejam lebih ada rasa sakit diperutnya. Cikha gelisah membolak-balikkan tubuhnya mencari posisi yang nyaman tapi tidak didapatkan. Rasa sakitnya semakin sering dengan durasinya bertambah lama.


Daddy Johan yang memperhatikan Cikha merasa ada sesuatu.


"Cik kamu kenapa" tanya Daddy Johan


"Perut Cikha sakit dad" lirih Cikha


"Apa udah waktunya lahiran. kita kerumah sakit sekarang." Johan panik


Johan berteriak memanggil art. Bibik datang dengan tergopoh-gopoh.


"Ada apa tuan" tanya bibik


"Siapkan keperluan Cikha, Cikha mau melahirkan" kata Johan


"Baik tuan" bibik segera memasukkan beberapa baju Cikha juga perlengkapan bayi


"Masing-masing 3 pasang aja bik yang dibawa" kata Cikha


"Iya non" bibik


"Ganti baju dulu" Johan menyerahkan baju ganti


Cikha menerima dan berjalan kearah kamar mandi.


"Mau kemana? Ganti sini aja, sini aku bantu" kata Johan


"Tapi dad" Cikha


Tanpa kata Johan mengangkat baju Cikha dan lepas melalui kepala.


"Dad" protes Cikha


"Apa" Johan


"Malu" Cikha


"Gaya lo malu, tiap malam Daddy telanjangi Ok ok aja" canda Johan


"Ish Daddy ada bibik" Cikha


"Bibik gak liat, kalo pun lihat juga gak papa kan sama" Johan


"Daddy au," rintih Cikha


"Sakit" Daddy mengelus perut Cikha


"Ayo" Daddy Johan menuntun Cikha menuju mobil


"Pak kerumah sakit" titah Johan pada sopir


"Siap tuan" kata sisopir yang sebelumnya telah membukakan pintu majikannya.

__ADS_1


"Dad sakit" rintih Cikha


"Sabar sayang sebentar lagi sampai" Johan


"Pak buruan tambah kecepatan" Johan


"Baik tuan" sopir


Butuh waktu 20 menit untuk sampai rumah sakit. Daddy Johan segera mengangkat Cikha dan teriak memanggil petugas jaga. Dua perawat datang menghampiri dengan membawa brankar. Cikha segera direbahkan dibrankar dan perawat mendorong menuju ruang bersalin.


Sedari rumah tadi tangan Cikha dan Johan saling mengaitkan. Tidak mau lepas dalam keadaan apapun. Johan setia menemani Cikha melewati masa-masa sulitnya.


"Dad sakit banget ini" rintih Cikha


"Sabar sayang kamu pasti bisa demi anak kita" kata Johan


Berkali-kali Cikha meringis kesakitan. Dokter memeriksa jalan lahir.


"Ini udah bukaan 9 siapkan semua" kata dokter.


Dokter memberi interupsi pada Cikha dimana saat harus mengejan. Cikha mengikuti kata dokter. Johan terus berada disamping Cikha. Sesekali mengusap keringat yang membasahi kening Cikha.


Cikha sudah hampir menyerah. Ini usaha terakhir kalinya jika usahanya gagal mengeluarkan bayinya Cikha sudah pasrah dengan takdirnya. Setelah berjuang mengejan dengan sisa sisa tenaga akhirnya suara tangis sikecil memenuhi ruangan. Johan menciumi seluruh wajah Cikha.


"Terimakasih sayang kamu udah berjuang demi buah hati kita" kata Johan


Wajah Cikha pucat pasi Johan meneriaki dokter yang tidak cepat melakukan tindakan.


"Cepat lakukan sesuatu pada istri saya" bentak Johan pada dokter


"Sayang Daddy tunggu diluar ya, kamu harus bertahan demi putra kita kamu bisa" Johan mencium kening Cikha sebelum keluar.


Johan mondar-mandir didepan ruang bersalin. Pikirannya kacau tidak ada keluarga yang bisa dihubungi. Keluarga Cikha sudah tidak mau berhubungan dengannya sejak Cikha hamil. Menghubungi istri pertamanya juga tidak mungkin. Jika keduanya bertemu pasti terjadi perang.


Hampir satu jam Johan mondar-mandir sampai dokter keluar dari ruang bersalin Johan memberondong dengan berbagai pertanyaan.


"Tuan tenang sekarang Nyonya Cikha sudah stabil keadaannya, kita tunggu beliau sadar dan akan segera dipindahkan keruang rawat" kata dokter


"Terimakasih dok" ucap Johan


"Sama-sama tuan kalo gitu saya permisi" pamit dokter


"Silahkan" Johan


Johan segera memasuki ruang rawat Cikha. Cikha masih tergolek lemas. Belum mau membuka mata. Cikha kehabisan tenaga.


"Bangun sayang, putra kita butuh kamu Mommynya, dia ganteng seperti Daddy hidungnya mancung seperti hidungmu Cik" ucap Johan.


Johan yang juga kecapekan tertidur dengan tangan masih menggenggam tangan Cikha dan jadilah tangan Cikha sebagai bantal. Cikha membuka mata sekitar jam 4 pagi. Tangannya terasa kebas. Cikha mengusap lembut rambut Daddy yang tertidur duduk disamping Cikha. Hati Cikha menghangat. Setidaknya suaminya ada disaat dia dalam kondisi seperti ini.


"Daddy bangun" Cikha menggoyang-goyangkan kepala daddy-nya


"Cikha kamu dah bangun sayang" tanya Daddy

__ADS_1


"Udah kok Daddy tidur disini" Cikha


"Daddy nungguin kamu sadar sayang, Daddy malah ketiduran disini" Johan


"Anterin Cikha ketoilet dada"pinta Cikha


Daddy Johan langsung membopong tubuh mungil istrinya. Johan mendudukkan Cikha dikloset. Mambantu Cikha menurunkan ****** ******** bahkan tidak ragu menceboki Cikha


"Dad Cikha bisa sendiri" Cikha


"Gak papa Daddy mau kok" Johan


"Gak jijik dad lihat Cikha seperti ini" Cikha


"Kenapa harus jijik, kita menikah bukan menerima pas bagusnya aja pas enaknya aja yang seperti ini pun harus diterima, Daddy cinta sama Cikha, jadi Cikha jangan sungkan kalo butuh apa-apa ngomong aja" Jahan


"Makasih dad udah baik ma Cikha" Cikha


"Udah kewajiban Daddy udah jadi tanggungjawanya Daddy" Johan


"Dad Cikha mau ngomong tapi Daddy jangan marah ya" kata Cikha


"Mau ngomong apa" Johan penasaran


"Cikha udah melahirkan, alasan Daddy nikahi Cikha karena Cikha hamil, sekarang udah gak ada lagi alasan kita bersama. Cikha mau kita pisah biar Daddy bisa kembali pada istrinya Daddy" ucap Cikha dengan kepala menunduk


"Kamu juga istrinya Daddy" jawab Johan


"Maksudnya Cikha istrinya Daddy Nyonya Rina"


"Selama ini Cikha jadi orang ketiga dalam rumah tangga Daddy"


"Sebenarnya Cikha gak mau berada dalam posisi ini tapi Cikha bisa apa, meskipun Cikha menolak keras tudingan itu tapi pada kenyataannya memang Cikha seorang pelakor"


"Jadi Cikha mau mengakhiri semuanya, biarkan Cikha bahagia dengan putra Cikha. Cikha tidak akan menuntut apapun dari perpisahan kita, Cikha sudah iklas menerima takdir Cikha" Cikha berkata dengan lelehan air mata


"Kenapa kamu ingin pisah dari Daddy Cik apa kamu menyesal menikah dengan Daddy" Johan


"Enggak sama sekali, tapi Cikha mau hidup Cikha tenang" Cikha


"Selama ini kamu gak bahagia Cik hidup dengan Daddy" kata Johan sendu


"Bahagia dad, tapi" Cikha


"Tapi apa Cikha" Johan


"Cikha tidak mau ribut-ribut lagi dengan nyonya Rina tiap-tiap ketemu dia selalu maki-maki Cikha dan jujur Cikha sakit hati dan Daddy tau juga tidak pernah membela Cikha sekalipun jadi lebih baik Cikha mengalah dan pergi dari kehidupan kalian" Cikha


"Kalo masalahnya itu Daddy minta maaf Cik selama ini Daddy terlalu takut sama Rina karena saking cintanya Daddy sama dia, tapi Daddy janji Daddy akan berubah" Johan


"Maka dari itu dad Cikha tidak mau lebih sakit hati lagi melihat perlakuan Daddy lebih baik Cikha pergi" Cikha


"Enggak Daddy tidak akan mengijinkan kamu ninggalin Daddy, kamu itu milik Daddy Cikha jadi selamanya akan tetap berada disamping Daddy menemani Daddy hingga Daddy menutup mata"Johan dengan erat memeluk Cikha

__ADS_1


"Gak taulah dad biar waktu yang menjawab" Cikha memejamkan matanya


__ADS_2