
Hari terus berganti. Kini usia kandungan Wienda sudah memasuki bulan ke 8. Wienda udah mulai pinggang sering sakit, kaki bengkak perut kram seperti yang biasa bumil rasakan.
"Mas tiba-tiba aku kepengin makan soup ayam buatan Mama" kata Wienda pada suaminya
"Kita ketempat mama aja sekarang" kata Tyo
"Boleh"
"Mas telpon Mama bentar"
Via telpon.
Tyo (Ma assalamualaikum)
Mama (Wa'alaikum salam ada apa Yo)
Tyo (Wienda pengen makan soup ayam buatan Mama, apa Mama bisa buatkan untuk menantu Mama yang super duper cantik dan manja)
Mama (Kamu itu, Mama buatkan. Kalian kesini apa nanti diantar)
Tyo (Kita yang kerumah Mama)
Mama (Ya Mama tunggu)
Tyo (Assalamualaikum Mama cantik)
Mama (Wa'alaikum salam modusnya)
Via telpon berakhir.
"Gimana" Wienda
"Sip, kita meluncur sekarang" Tyo
"Aku begini dah cantik belum" Wienda
"Sayang mau pakai baju apapun istri mas selalu cantik" Tyo
"Serius. Awas kalo bohong gak dapet jatah" Wienda
"Serius sayang, kamu itu cantiknya dari sini jadi apapun yang melekat ditubuhmu pasti pas dan mempesona " Tyo menunjuk dada Wienda
"Ayo berangkat " Tyo menuntun istrinya menuju lift dirumah yang selama ini jarang digunakan karena lebih memilih naik turun tangga
"Aku kedapur dulu. twins mana" Wienda celingukan mencari keberadaannya putra kembarnya
"Kayaknya udah masuk mobil duluan" Tyo
"Tunggu aku mau ambil es cream dikulkas dulu" Wienda berjalan menuju dapur.
Selera makan Wienda sangat berbeda dikehamilannya yang sekarang. Kehamilannya yang pertama hanya mau makan makanan tertentu. Sekarang semua jenis makanan dilahap bahkan yang dulunya belum pernah makan pun sekarang tar ragu untuk memakannya.
"Mau" bukannya menjawab Wienda malah tanya balik.
"Terimakasih kamu aja yang makan " Tyo
"Mama mau" kata twins begitu Wienda masuk mobil dan menenteng beberapa buah es cream
"Ini satu satu ya jangan habisin nanti dedek mau lagi" kata Wienda mengusap perutnya.
"Iya Mama " jawab Marvin
Panji segera meluncur kerumah Nyonya besarnya begitu semua sudah masuk mobil. Ternyata dirumah mama ada Sesha juga.
"Assalamualaikum Mama" ucap Wienda begitu memasuki rumah Mama mertuanya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam" jawab Mama
"Maaf ma Wienda ngrepotin Mama terus" kata Wienda merasa tidak enak.
"Jangan sungkan butuh apapun atau mau apapun bilang sama Mama kalo suamimu tidak mampu memenuhi" kata Mama Dewi
"Mama " protes Tyo dikatakan tidak mampu oleh Mamanya
"Kenapa " jawab mama cuek
"Tyo itu mampu 100 persen untuk memenuhi semua keinginan istriku" bela Tyo
"Mama tau itu, maksud Mama kalo istrimu itu pengen sesuatu yang tidak bisa kamu beli atau kamu buat cuma Mama yang bisa seperti ini. Kan banyak tu soup ayam diluar sana tapi maunya buatan Mama. Begitu lo dokter Tyo yang terbaik" kekeh Mama
"Tau aja kalo ini dokter terbaik" bangga Tyo
"Udah jadi belum ma soupnya" tanya Wienda yang udah gak sabar
"Udah ni, ayo dimakan mumpung masih anget. Makan yang banyak biar cucuku sehat" kata Mama dengan mengelus perut buncit menantunya.
"Oma" panggil Marvel
"E cucu Oma yang ganteng, mau makan seperti Mama " tanya Oma
Marvel mengangguk
"Adikmu mana" tanya Oma
"Tu" tunjuk Marvel kearah Marvin dan Sakha yang sedang main dengan Sesha
"Sini Mama suapin" kata Wienda menyuruh putranya Marvel duduk dekat dengannya
"No, mau cama Oma" tolak Marvel
"Udah gak papa, lanjutin aja kamu makan biar Marvel sama Mama" kata Mama Dewi yang menggendong Marvel dan mengambilkan makanan.
"Sayang makannya pakai apa. Ini ada daging ada udang kesukaan Opa ada ayam kesukaan kamu" tanya Oma Dewi
"Ayam goyeng Oma" jawab Marvel dengan cadel
"Cucu Oma makin endut, bentar lagi Oma gak kuat ni gendong" kata Oma yang menyuapi cucunya dengan bahagia
"Yo kamu suapin tu si Marvin, ini Marvel lahab banget maemnya" kata Mama Dewi
"Iya ma" jawab Tyo
"Bawa sini mas biar Wienda suapin, tu Sesha suruh makan juga" kata Wienda
"Iya" Tyo
"Ayok Marvin ikut Papa kita makan dulu, Sha ikut makan sana" kata Tyo
"Mas Sakti kok belum jemput aku sih" bukannya menjawab malah ngomong sendiri.
"Makan dulu setelah perut kenyang Sakti nongol" Tyo
"Nanti suamiku kelaparan dong" Sesha
"Ayo makan gak usah mikirin Sakti. Yang kamu pikirin paling juga gak mikirin kamu, Sakti sekarang sibuk meeting dengan klien dari Malaysia" Tyo
"Kaya gak ada waktu aja" Sesha
"Emang gak ada waktu. Malam ini juga klien itu balik kenegaranya karena besuk anaknya mau menikah" Tyo
"Diundang ga mas" Sesha
__ADS_1
"Kalo itu mas gak tau " Tyo
"Assalamualaikum " ucap Sakti
"Wa'alaikumsalam panjang umur, belum selesai yang diomongin udah nongol" Tyo
"Ngomongin apa " Sakti mendekati istrinya dan seperti biasa ritual pertemuan antara suami istri, setelahnya mengambil putranya dan menggendong serta menghujani dengan ciuman.
"Buruan" teriak Wienda dari dalam
"Ayo keburu Nyonya bumil marah" Tyo
"Takut " Sesha
"Pasti, kalo dah ngamuk semua mah lewat" Tyo
"Kalo kamu takut juga gak mas sama aku" Sesha menatap suaminya
"Takut tapi cinta" jawab Sakti santai
"Mas gak ada romantis romantisnya jadi suami" Sesha
Tanpa diduga Sakti mencium bibir Sesha didepan semua orang.
"Kalo udah gak tahan buruan kekamar, kasih anak kebaby sitternya" Tyo
Wajah Sesha blusing memerah malu sekaligus seneng mendapatkan serangan mendadak dari suaminya yang jarang didapatkan ditempat umum.
"Ciye ciye yang lebih merah merona" goda Wienda
"Apaan sih" Sesha
"Udah pada makan dulu biar nanti tenaganya pool" kata Papa Andrew yang dari tadi hanya menyimak
"Papa" teriak Sesha
"Udah ayo makan" Mama menengahi
"Ahk" Tyo menyuapkan makanan kemulut mungil putranya
"Ahk" kini Wienda yang menyuapkan makanan kemulut suaminya
"Makasih sayang" Tyo menerimanya dengan senang
Kegiatan makan malam mereka yang kebetulan berkumpul itu berakhir dan melanjutkan berkumpul diruang tamu.
"Ini si Steven kemana sih, udah beberapa hari ini gak pernah kerumah" kata Mama
"Gak tau" jawab Tyo
"Katanya ke Jogja ada urusan kerjaan, tapi kerjaan apa aku juga bingung soalnya setahuku gak ada kerja sama dengan orang Jogja " jawab Papa Andrew
"Jangan jangan cuma alasannya doang pa" Sesha
"Maksudnya" Papa Andrew
"Alasan kerja tapi sebenarnya bukan, mungkin cuma pacaran sama anak Jogja gitu" Sesha
"Bisa jadi, semoga benar dapat pacar disana biar Papa bisa tenang gak mikirin tu anak yang belum ada yang urus" Papa Andrew
"Papa jangan lebay deh. dia aja pernah tinggal diluar negeri dan baik-baik saja, sekarang pun seperti itu" Tyo
"Semoga saja tapi feelingku mengatakan tidak" batin Wienda
"Semoga Amiin ya Allah" Mama Dewi
__ADS_1