
"Sayang sebenarnya apa yang terjadi denganmu"
"Gak usah sok peduli urus aja tu mantan pacar kamu" Ketus Wienda
"Maksudnya" Tyo mengernyitkan dahi tidak mengerti
"Pikir sendiri" Wienda segera keluar dari kamar putranya dan malah masuk kekamar tamu dan membanting pintu dengan keras.
Tyo kaget melihat istrinya seperti itu. Kejadian ini baru pertama kalinya selama pernikahan mereka. Tyo bertanya tanya ada apa dengan istrinya. Pikirannya mengingat perkataannya "urus saja mantan pacarmu" apa mungkin Wienda tadi kekantor trus liat Carla.
Tyo merogoh ponselnya dan menghubungi Sakti. Satu panggilan langsung diangkat.
"Halo tuan ada apa" tanya Sakti dari seberang
"Wienda tadi kekantor" tanya Tyo balik
"Iya, tadi saya cuma melihat sekilas sebelum masuk lift" jawab Sakti
"Jam berapa dia datang"
"Sebelum makan siang"
Tyo mematikan sambungannya sepihak.
"Pasti liat Carla tadi, pantes ngamuk kayak gitu" Tyo mengulum senyum
Tok tok tok
"Sayang buka pintunya mas mau ngomong"
"Please mas bisa jelaskan, semuanya tidak seperti yang kamu lihat"
"Please buka pintunya"
"Mas akan berdiri disini sampai kamu keluar" satu menit, dua menit, lima menit tidak dibuka juga.
"Sayang pleasee buka pintunya mas ngomong"
"Kalo gak dibuka aku dobrak ni pintunya" teriak Tyo dari luar kamar.
satu dua ti,,,,,,,brug. Belum selesai menghitung pintu terbuka dan Tyo jatuh tersungkur didepan istrinya.
"Sayang maafkan mas, tadi kamu kekantor mas gak tau"
"Gimana mau tau sibuk dengan mantan" sinis Wienda
"Carla tadi kekantor mau minta maaf, sebenarnya dia mau minta maaf sama kamu tapi tidak berani takut kamu masih marah. Dia nitip maaf buat kamu" jelas Tyo
__ADS_1
"Oo jadi karena minta maaf jadi bisa berpelukan" sindir Wienda
"Maaf mas gak maksud buat meluk dia"
"Gak maksud tapi niat"
"Yang please cuma kamu yang ada dihatiku, kamu itu nafasku hidupku wanitaku cintaku detak jantungku"
"Pinter banget gombalnya"
"Mas gak gombal, mas serius kamu itu segalanya buat mas"
"Mas tau gak sih kalo hati ini sakit liat mas pelukan sama perempuan lain apalagi dia mantan mas, sakit mas hatiku sakit" Wienda terisak
"Maaf mas salah" Tyo berusaha mengecup bibir istrinya tapi Wienda menolak
"Aku mau istirahat, mending mas balik kekamar biarkan aku sendiri disini" pinta Wienda
"Yang please mas gak bisa tidur kalo gak meluk kamu" rengek Tyo
"Mas aku mohon kali ini aja biarkan Wienda sendiri"
"Baiklah tapi kalo ada apa-apa panggil mas ya"
Wienda mengangguk. Tyo kembali dengan kekamarnya lesu. Dia membolak-balikkan tubuhnya mencari posisi yang pas untuk memejamkan matanya tapi tak kunjung tertidur.
Tyo yang sudah tidak bisa menahan memutuskan menyusul istrinya. Ketika sampai depan pintu kamar tamu Tyo berdiri diluar kamar sedang Wienda berdiri didalam kamar depan pintu. Satu dua tiga. Keduanya meraih knop pintu dan memutarnya.
Wienda dan Tyo berhadapan. Tyo segera memeluk istrinya dengan erat.
"Mas minta maaf maaf maaf dan maaf"
"Wienda juga minta maaf seharusnya Wienda dengar dulu penjelasan mas"
"Mas"
"Kembali ke kamar kita ya"
"Heeh maaf"
"Iya mas juga minta maaf seharusnya mas tidak melakukan itu"
Tyo membopong istrinya ala bridal style. Wienda mengalungkan tangannya keleher suaminya. Dalem perjalanan dari kamar tamu menuju kamar utama bibir keduanya tidak terlepas. Tyo membuka pintu menggunakan kakinya.
Sesampainya dikamar Wienda dipepetkan ke dinding. Dari ciuman keduanya menuntut lebih. Tyo menyudahi ciumannya. Memandang wajah sayu istrinya.
"Mas hatiku sakit liat kamu pelukan dengan perempuan lain apalagi dia mantan pacarmu tubuh ini cuma aku yang boleh meluk yang boleh nyentuh" kata Wienda dengan terisak
__ADS_1
"Mas minta maaf ya mas salah, mas janji ini terakhir kalinya ada orang yang berani peluk mas. Tubuh ini cuma istri mas yang cantik ini yang boleh mengexploitasi"
"Mas aku cinta sama kamu, aku takut kehilanganmu jadi aku mohon tetap seperti ini jangan berubah. Aku cinta sama mas melebihi apapun"
"Terimakasih sayang mas juga cinta sama Wienda. Sekali lagi mas minta maaf ya udah bikin Wienda nangis"
"Heeh"
Wienda memulai lebih dulu menciumi leher suaminya turun kedada bahkan menjilati ****** coklat milik suaminya. Tyo yang mendapat perlakuan seperti itu tidak mau tinggal diam. Mulutnya segera menangkup buah kesukaannya. meremas lembut memelintir putingnya. Tak lupa memberi tanda tiap jengkalnya.
Tangan Wienda terus turun hingga berhenti diantara kaki Tyo. Membuka kancing celananya dan menarik resletingnya turun. Menurunkan celananya hingga menyisakan Cd-nya saja.
Tangan Tyo sudah masuk diantara kaki istrinya. Mengocok pelan dengan jari tangannya. Wienda mendesah membuat Tyo semakin semangat. Tangan Wienda tak mau kalah dia juga melakukan hal yang sama pada suaminya.
"Mas..... dah gak tahan"
Tyo mengangkat satu kaki istrinya menyampirkan pada lengan kokohnya. Tyo segera memasuki istrinya. Hentakan Tyo mampu membuat Wienda terlonjak.
"Enak banget ahh.......mas"
"Faster mas"
"Ahhhh...... Wienda keluar mas"
Tyo menghentikan sejenak memberikan kesempatan istrinya menikmati pelepasannya. Setelahnya memacu kembali dengan ritme yang lebih cepat.
"Mas aku dah gak kuat mas capek ahhh......"
"Tahan bentar sayang, kita sama-sama"
"Mas juga dah mau keluar"
Sekali hentakan keras Tyo menyemburkan cairan hangat memenuhi rahim istrinya. Wienda tersenyum hangat dan mempererat pelukannya.
"Emmmmmm ........"
Tyo mengentakkan sekali lagi untuk menyelesaikan. Kaki Wienda rasanya seperti jelly tidak berotot.
"Mas capek banget kakiku lemes"
"Terimakasih sayang mas puas banget" Tyo mengecup kening istrinya
"Heeh Wienda juga puas banget"
Tyo mengangkat istrinya dan merebahkan diranjang. Menarik selimut menutupi hingga leher. Tak lupa keduanya saling berpelukan meski peluh membanjiri tubuh keduanya.
Mereka tertidur dengan senyum semringah wajah berbinar bahagia. Lenyap sudah semua amarah kina yang ada hanya bahagia.
__ADS_1