TYWI ( TYO WIENDA)

TYWI ( TYO WIENDA)
61


__ADS_3

Hari ini Wienda mendatangi ruang rawat Sesha. Wienda mengucapkan selamat.


"Sesha selamat ya atas kelahirannya" kata Wienda


"Terimakasih ya Wien eh kak Wienda" jawab Sesha


"Apaan sih, aku lebih suka kalo kamu manggil nama aja" kata Wienda


"Iya tapi nanti mas Tyo ngomel-ngomel ma aku"


"Maaf ya aku belum jengukin mas Tyo, malah kamu kesini"


"Gimana keadaan mas Tyo" tanya Sesha


"Gak tau Sha, keadaan mas Tyo masih sama" jawab Wienda sendu


"Sabar kak, mungkin Tuhan punya rencana lain dibalik musibah ini" kata Sesha bijak


"Amin semoga Sha" Wienda


"Eh udah makan belum tu ada makanan dari mas Sakti" kata Sesha menunjuk pada nakas berisi kotak makanan


"Udah tadi Sakti juga mampir nganterin makanan. Makasih ya buat semuanya" kata Wienda


"Kenapa mesti terimakasih kita itu saudara keluarga sudah selayaknya saling mendukung saling melengkapi" kata Sesha


"Tapi aku gak tau kalo gak ada kalian. Kalian semua memang keluarga the best, beruntung aku bisa ada diantara kalian" kata Wienda


" Kita berdua beruntung, awalnya kita terpisah tapi adanya cinta dihati kita jadi kita semua sekarang berkumpul bersama. Kamu jadi menantunya Mama Dewi sedang aku jadi anak sambung Mama Dewi. Memang Tuhan mentakdirkan kita menjadi keluarga yang awalnya bukan siapa-siapa" kata Sesha


"Bener banget kamu Sha, semua ini karena takdir" kata Wienda


"Sikembar tampan apa kabar ni kangen aku" tanya Sesha


"Makin pinter makin tampan makin aktif makin rame makin ngangenin" jawab Wienda


"Bawa kesini dong kangen aku, masih dirumah sakit kan" tanya Sesha


"Iya nanti biar Mama bawa kesini"


"Aku balik keruangan mas Tyo ya Sha, kasihan kalo lama-lama aku tinggal" kata Wienda


"Iya. Semangat" kata Sesha dengan mengangkat lengannya dan mengepalkan tangannya


Wienda mengangguk dan mengangkat dua jempolnya.


Diperjalanan kembali keruangan suaminya Wienda bertemu dengan Cikha yang lagi memeriksakan anaknya.


"Wienda" panggil Cikha


Wienda menoleh mencari sumber suara


"Cikha" kata Wienda


"Ngapain disini? Siapa yang sakit" tanya Wienda


"Ini anakku demam dari semalam. Kamu sendiri ngapain" tanya balik Cikha


"Mas Tyo sakit udah seminggu lebih dia dirawat disini" jawab Wienda sendu


"Innalillahi boleh aku jenguk" tanya Cikha


"Boleh, tapi anakmu" jawab Wienda


"Oh aku ngerti, maaf kalo gitu lain kali aku jenguk dokter Tyo" kata Cikha

__ADS_1


"Sesha juga lahiran dirumah sakit ini juga, ini aku baru dari ruangannya" kata Wienda


"Alhamdulillah Sesha udah lahiran, pengen banget Wien sebenarnya nengokin suamimu, nengokin Sesha tapi aku bawa anak" kata Cikha


"Gak papa Cik doain aja semoga semuanya lekas membaik" kata Wienda


"Cikha" panggil Johan suami Cikha


"Udah dad" tanya Cikha


"Udah ayo balik" ucap Johan


"Bentar dad, kenalin ini Wienda istrinya dokter Tyo" kata Cikha mengenalkan Wienda pada suaminya


"Johan"


"Wienda"


Mereka berjabat tangan.


"Ya udah Cik aku duluan ya semoga anakmu lekas sembuh" pamit Wienda


"Makasih Wien, begitu juga dengan dokter Tyo" kata Cikha


Wienda mengangguk


"Dokter Tyo kenapa beb" tanya Johan


"Sakit kata Wienda udah lebih dari seminggu dirawat disini" jawab Cikha


"Sakit apa" tanya Johan


"Hehehe sorry dad Cikha lupa nanya" jawab Cikha dengan nyengir kuda


Cikha dan Johan berjalan bergandengan mesra menuju parkiran.


Pikiran Wienda semakin kalut. Takut akan terjadi sesuatu pada suaminya. Bibirnya terus mengucapkan doa. Air matanya juga terus mengalir.


"Ya Allah selamatkan suami hamba ya Allah"


"Beri mas Tyo kesempatan untuk menjaga kami ya Allah"


"Maafkan semua kesalahannya"


"Berikan mas Tyo kesembuhan ya Allah"


Itu sebagai doa Wienda dan masih banyak lagi.


Pintu ruangan dibuka, dokter keluar.


"Dokter gimana keadaan mas Tyo" tanya Wienda


"Semua sudah kembali normal Nyonya" jawab dokter


"Dokter gak usah bohong sama saya" kata Wienda


"Tidak Nyonya, saya tidak berani bohong ini menyangkut nyawa seseorang" kata dokter


"Kalo dokter gal bohong kenapa sampai sekarang mas Tyo belum sadar juga" kata Wienda


"Maaf Nyonya kalo itu diluar kuasa kita para dokter, kita hanya mampu berusaha sedangkan hasilnya yang menentukan yang maha kuasa, perbanyak doa dan sabar" kata dokter


Lagi-lagi dokter tidak bisa memastikan keadaan suaminya. Wienda terus saka menangis melihat suaminya tergolek tak berdaya.


"Mas"

__ADS_1


"Wienda kangen mas"


"Katanya mas mau ngajak kita liburan"


"Kembar sekarang dah bisa jalan mas"


"Mas Tyo gak mau lihat"


"Mas"


"Kapan mas Tyo bangun, gak capek apa tidur terus"


"Sesha udah lahiran lo mas, anaknya cowok juga"


"Mas" Wienda terus mengoceh meski tidak ada respon dari suaminya. Karena kecapekan menangis Wienda terlelap dengan sendirinya dengan tangan menggenggam erat tangan suaminya.


Pagi hari Wienda bangun dengan badan pegel pegel karena posisi tidurnya yang duduk.


"Uh badanku sakit semua" keluh Wienda


Tok tok tok


"Masuk" kata Wienda dari dalam


"Maaf Nyonya ini sikembar rewel pengen sama Nyonya" kata salah satu baby sitter


"Ya udah sini" kata Wienda dengan menepuk kedua pahanya


Sikembar langsung duduk dipangkuan Wienda


" Maafin Mama ya, Mama lupa semalam gak nengokin kalian. Papa semalam kritis lagi jadi Mama takut ninggal Papa sendirian" kata Wienda memberi pengertian pada putranya


Baby sitter yang mendengar pun meneteskan air mata. Begitu berat cobaan yang harus dihadapi Nyonya nya. Suaminya sakit tak tahu kapan sadarnya, sedang putranya butuh banget perhatian dari kedua orang tuanya.


Meskipun berlimpah kasih sayang dari oma dan opanya tapi tetap membutuhkan kasih sayang dari Papa dan Mamanya.


"Pa....pa....pa..pa" kata Marvel sambil menepuk nepuk pipi Tyo Papanya


"Marvel kangen sama Papa ya" kata Wienda


"Pa pa pa pa pa" jawab Marvel


Seperti itu memang ucapan Marvel karena memang usianya yang baru setahun.


Mendengar celotehannya putra kembarnya Tyo meneteskan air mata. Meski anggota tubuh lainnya belum bisa berfungsi tapi setidaknya ada respon dari Tyo.


"Mbak tolong panggilkan dokter" kata Wienda


Sebenarnya ada tombol didekat ranjang Tyo tapi yang namanya panik semua itu terlupakan.


Dokter beserta suster bergegas masuk dan menyuruh semuanya keluar termasuk Wienda. Itu sudah menjadi prosedur dokter. Wienda duduk dibangku depan ruangan dengan memangku Marvel sementara Marvin ikut baby sitter.


Mama yang baru datang ikut duduk disamping Wienda dan mengambil alih Marvin dari baby sitter.


"Ada apa Wien" tanya Mama


"Mas Tyo tadi meneteskan air mata ma" kata Wienda


"Terus apa kata dokter" tanya Mama


"Belum tau masih diperiksa" jawab Wienda


"Semoga ini kabar baik buat kita" kata Mama


"Semoga ma" jawab Wienda

__ADS_1


Semua duduk dengan pikiran masing-masing.


__ADS_2