
Dua minggu sudah berlalu dari hari dimana lamaran Tyo diterima oleh Wienda. Dan hari ini Tyo dan Wienda akan melangsungkan ijab qobul. Ijab qobul dilakukan dikediaman orang tuanya Wienda.
"Wienda cantik banget deh, jadi iri liat lo" kata Sesha sahabatnya Wienda
"Dari lahir dah cantik cuy" sombong Wienda
"Pd" sambung Cikha
"Fakta" tambah Wienda
"Cantikan juga gue" kata Cikha
"Cantik sih tapi jones mulu" kekeh Sesha
Hahaha mereka tertawa bersama.
"Ralat, bukan jones tapi single. Dan single itu pilihan catat itu" sangkal Cikha
"Serah deh Cik, yang jelas gue laku duluan" kata Wienda penuh percaya diri
"Kalo itu emang kita akui tapi bukan berarti kita gak laku, bener gak Cik" tanya Sesha pada Cikha
"Bener banget" Cikha mengacungkan jempolnya
"Semoga setelah gue lo berdua segera nyusul, jadi kita ngumpulnya tambah rame apalagi kalo dah pada punya buntut" kata Wienda
"Buntut, apaan Wien" tanya Sesha
"Anak" jawab Wienda
"Hahaha bener bener bener" sambung Cikha
__ADS_1
"Wienda yuk turun , mempelai pria dah datang" panggil tantenya Wienda
"Dah mau dimulai ya tan" tanya Wienda
"Iya, semua dah siap" kata tante
Wienda didampingi dua sahabatnya turun menuju tempat akad. Disana Tyo dengan gagah dan tampan sudah duduk didepan ayah Budi dan penghulu. Disebelahnya Om Indra. Wienda berjalan menuju tempat kosong disamping Tyo. Meskipun Wienda belum sepenuhnya cinta sama Tyo tapi hatinya juga deg deg ser. Wienda tersenyum menyapa tamu yang hadir. Melihat senyuman Wienda, detak jantung Tyo serasa mau loncat dari tempatnya.
"Semua sudah siap" tanya pak penghulu
"Sudah pak" jawab ayah, Tyo, Om Indra serentak
"Baiklah kalo gitu kita mulai saja"
"Silahkan pak Budi berjabat tangan dengan mempelai pria" kata pak penghulu
Ayah menjabat tangan Tyo
"Saya terima nikah dan kawinnya Wienda Athalia Putri dengan maskawin tersebut dibayar tunai"
"Bagaimana saksi"
"Sah"
"Sah"
"Sah"
"Alhamdulillah" batin Tyo dan Wienda
Wienda mengambil tangan Tyo dan mencium pinggung tangannya dan Tyo mencium kening Wienda penuh kitmat. Dari sorot matanya Tyo menatap Wienda dengan penuh cinta. Selesai menandatangani surat-surat, Tyo dan Wienda sungkem pada orang tuanya. Dimulai dari meminta restu dari ayah Budi dan Bunda Sandra kemudian beralih ke Mama Dewi.
__ADS_1
Disebelah seorang pria tengah curi-curi pandang dengan seorang wanita cantik. Dialah Rega kakak Tyo yang mencuri pandang dengan Cikha sahabat Wienda. Disaat pandangan mereka bertemu wajah mereka memerah bak kepiting rebus.
Saat ini mempelai berdua mendapat ucapan dari para tamu yang hadir. Gak banyak sih tamunya, hanya kerabat dekat serta para tetangga sekitar kediamannya pak Budi.
"Selamat ya Wienda semoga samawa" ucap Sesha
"Makasih ya udah mau datang jauh-jauh kesini" kata Wienda
"Haish, kita kan BFF" kata Sesha
"Wienda,,,,,,,, selamat ya girl semoga samawa dan segera kasih gue keponakan yang lucu-lucu" kata Cikha
"Terimakasih doanya Tante, daripada minta keponakan mending cetak sendiri" jawab Wienda
"Emang bikin kue nyetak, lagipula pencetaknya belum jadi masih proses" kekeh Cikha
"Semoga ditempat ini kamu dapat pencetaknya dan langsung proses biar cepet jadi trus kita bikinnya barengan" "hahaha" Wienda dan Cikha tertawa bersama
Dibelakang Cikha seorang pria dewasa tengah senyum-senyum gak jelas mendengar obrolan absurd dua sahabat itu. Tyo yang sedari tadi memperhatikan merasa aneh dengan sikap kakaknya.
"Kak,,,,,, " Tyo membuyarkan imajinasi Rega
"Apa" ketus Rega
"Kamu suka ya pada sahabatnya Wienda" bisik Tyo
Rega melotot tak percaya mendengar perkataan adiknya.
"Ngawur aja kamu" sangkal Rega
"Gak usah bohong" balas Tyo
__ADS_1
Rega berlalu begitu aja tanpa memberi ucapan selamat kepada adiknya.