
Pagi ini pikiran Wienda tidak enak. Filingnya mengatakan akan ada sesuatu yang terjadi tapi tidak tahu apa itu. Wienda juga merasa aneh dengan perilaku suaminya. Dari semalam ngomongnya ngawur.
"Sayang jaga anak kita baik-baik" pesan Tyo
"Sudah pasti lah mas, mereka berdua harta aku yang tidak ternilai harganya. Aku akan melakukan apapun demi sikembar" jawab Wienda
"Sayang kalo ada sesuatu denganku apa kamu akan cari suami baru" tanya Tyo
"Pertanyaan macam apa ini, jangan ngomong aneh-aneh. Suamiku cuma kamu Tyo Wildan Pratama dan tidak akan pernah ada yang lain. Apa jangan jangan mas Tyo yang mau cari wanita lain" tanya Wienda nyalang
"Ya gak mungkinlah sayang. Cintaku dah mentok di sini" kata Tyo dengan menunjuk dada Wienda
"Mas cuma mau yang ini, mas cuma cinta yang disini, Apapun yang terjadi jangan tinggalin mas ya, mas cinta dan sayang banget ma Wienda istriku tersayang" kata Tyo
"Mas Tyo kenapa omongannya aneh sih, Wienda gak suka kalo mas Tyo ngomongnya nglantur gini" kata Wienda
"Bukan nglantur sayang mas cuma mau pastikan kalo istri mas ini setia dan tidak mudah berpaling" kata Tyo
"Udah ayo tidur besuk pagi mas ada operasi" ajak Tyo
Kejadian aneh dari semalam. Tyo tidur dengan meluk Wienda erat banget. Sampai Wienda sulit tuk nafas. Tapi anehnya cuma tidur tidak seperti biasanya yang sebelumnya tidur olahraga dulu. Dan paginya setelah sholat subuh tadi kegiatan olahraga yang selama ini rutin dilakukan juga urung dilakukan.
Wienda yang sebenarnya menginginkan tapi malu memintanya dibuat uring-uringan. Tapi Tyo seolah cuek, tidak peka apa mau istrinya. Yang biasanya Tyo selalu meminta lebih kini malah mengacuhkan.
Dan pagi ini dimeja makan Tyo juga berperilaku aneh. Biasanya dia paling tidak suka ngobrol sambil makan kini dia juga melakukannya.
"Mas Tyo hari ini gak usah pergi kerja ya" pinta Wienda
"Aneh kamu suami mau kerja malah dilarang, kalo mas gak kerja dari mana mas dapat uang buat mencukupi kebutuhan kalian" jawab Tyo
"Untuk kali ini aja mas. Wienda mohon" Wienda menangkupkan kedua tangannya didepan dada
"Gak bisa sayang mas harus kerumah sakit, lagipula mas hari ini ada jadwal operasi" kata Tyo
"Nanti mas segera pulang" tambahnya
"Mas udah selesai sarapannya mas berangkat dulu ya" Tyo berdiri dari duduknya dan meraih kepala istrinya dan mencium penuh cinta kening Wienda. Tyo juga menghampiri kedua putra kembarnya.
"Mas pergi ya sayang assalamualaikum" pamit Tyo
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam mas" Wienda melepas kepergian suaminya dengan berat hati
Tyo berjalan menuju mobilnya. Istrinya masih mengekor dibelakangnya berharap suaminya tidak jadi pergi.
"Mas" panggil Wienda
"Sayang mas punya tanggung jawab sama pasien mas, sama nyawa orang lain, mas harus kerumah sakit, mas janji mas pulang secepatnya, kamu jangan aneh-aneh deh, apa mau ikut kerumah sakit" tanya Tyo
Wienda menggeleng " Hati-hati mas, aku dan anak-anak menunggu lo" kata Wienda sendu
"Iya sayang. Mas jalan dulu ya assalamu'alaikum" Tyo masuk mobil
"Wa'alaikumsalam" jawab Wienda lirih
Tyo mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang keluar dari kompleks perumahan.
"Bang Panji" panggil Wienda
"Iya nya" jawab Panji
"Ikuti mas Tyo, perasaanku gak enak" perintah Wienda
Semua berjalan lancar tidak ada kendala sampai rumah sakit. Tyo segera melakukan tugasnya. Panji masih setia menunggu tuannya diluar. Sampai jam pulang Tyo segera menuju mobilnya, memasuki dan melaju dengan kecepatan sedang keluar dari area rumah sakit. Lagi-lagi Panji mengikuti dari belakang.
Sampai kejadian naas ini terjadi. Tiba-tiba dari arah berlawanan ada truk expedisi melaju dengan kecepatan tinggi menabrak pembatas jalan dan menabrak mobol dokter Tyo yang dikendarainya. Mobil Tyo terpental beberapa meter dari tempatnya. Panji berteriak sekencang mungkin, tapi apa daya mobil tuannya telah ringsek berserta pengemudinya.
Panji menghentikan mobilnya dan berlari menuju arah mobil Tyo. Orang-orang berteriak melarang mendekat tapi Panji tidak peduli. Dia segera menarik tubuh Tyo yang terjepit body mobil. Bodyguard yang lain segera menghubungi ambulans.
Panji menggendong Tyo yang berlumuran darah tapi masih sadar masih memanggil istrinya masih mengucapkan istighfar. Tak lama ambulans beserta polisi datang bersamaan. Dokter Tyo segera dibawa kerumah sakit. Panji ikut dalam ambulans sementara bodyguard yang lain dimintai keterangan polisi sebagai saksi.
Dugaan sementara sopir truk mengantuk. Tyo langsung dibawa keruang operasi. Oara suster juga dokter terkejut mendapati dokter Tyo kecelakaan dengan luka parah. Panji menghubungi anak buahnya untuk menjemput Wienda. Tapi tidak mengatakan kalo Tyo kecelakaan.
Dirumah
"Permisi Nyonya, saya diminta bang Panji untuk menjemput anda Nyonya" kata bodyguard
"Menjemput saya memangnya ada apa" tanya Wienda
"Maaf Nyonya saya kurang tahu, bang Panji tidak bilang. Bang Panji cuma minta anda datang kerumah sakit tempat tuan kerja" jawab bodyguard
__ADS_1
"Apa terjadi sesuatu dengan mas Tyo" tanya Wienda
"Sepertinya tidak Nyonya karena tuan masih kerja dirumah sakit" jawab bodyguard
"Ayo" pikiran Wienda langsung berkelana membayangkan yang tidak-tidak. Tanpa mengganti baju tanpa membawa apa-apa Wienda ikut pergi dengan bodyguard nya.
"Begitu sampai rumah sakit sudah ada Sakti Papa Andrew dan juga Mama.
"Kenapa semua pada disini" tanya Wienda cemas
"Tyo kecelakaan sayang" jawab Mama dan memeluk Wienda
"Apa. Gak mungkin ma" tangis Wienda pecah.
"Sabar sayang" kata mama yang juga berderai air mata
Wienda limbung dipelukan Mama mertuanya. Wienda pingsan. Sakti mengankat Wienda dan dibawa keruang kosong dekat ruang operasi. Bodyguard memanggil dokter. Feeling istri selalu benar. Ternyata Wienda yang melarang suaminya pergi karena ini. Seandainya Tyo tidak pergi mungkin kejadian naas ini tidak terjadi.
Wienda sadar ketika jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Wienda mengerjabkan matanya. Mengira bahwa semua ini hanya mimpi. Tapi apa daya semua nyata. Wienda memegang dadanya kuat. Meredam nyeri.
"Non" panggil bik Ulfa
"Non sudar sadar, mau minum non" tanya bibik
"Mas Tyo mana bik" bukannya menjawab Wienda malah balik tanya.
"Aden masih di UGD non" jawab bibik liroh
Wienda turun dari brankar dan berjalan menuju pintu keluar. Bibik mengikuti dari belakang. Mencegah pun pasti tidak berguna. Lebih baik menemani saja. Didepan ruangan masih setia Mama Papa Andrew serta Sakti dan juga Panji.
Wienda berhambur memeluk Mamanya.
"Ma gimana mas Tyo" tanya Wienda lirih
"Operasinya berjalan lancar tapi kondisi Tyo kritis sayang. Dokter melarang kita masuk, kalo mau lihat cuma dari kaca ini sayang" kata Mama lemah.
"Astaghfirullah ma, kenapa semua ini terjadi" isak Wienda
"Sabar sayang ini ujian buat kalian, buat kita semua" kata mama yang juga berderai air mata.
__ADS_1
Wienda berjalan menuju lift.