
Satu persatu tamu yang hadir sudah meninggalkan kediaman pak Budi, Sekarang tinggal Tyo Wienda serta ayah dan bundanya. Kedua adik Wienda sudah tak tau dimana rimbanya.
"Huh capek juga ternyata" keluh Wienda
"Ya udah kalian istirahat, bunda juga mau istirahat" kata Bunda
"Trus ini yang beresin siapa Bun" tanya Wienda
"Bunda dah panggil orang tuk beres-beres, mungkin sekarang lagi beresin depan" kata Bunda
"O ya udah kalo gitu kita istirahat dulu ya Bun, Bunda sama ayah juga istirahat" interupsi Wienda
"Ya kita juga mau istirahat badan pegel semua" jawab ayah
Wienda menggeret tangan suaminya. Tyo seneng-seneng aja digeret ma istri apalagi digeret kekamar taulah akhirnya.
"Udah gak tahan ya sayang" tanya Tyo
"Ya udah capek banget badan pegel semua" kata Wienda
"Mau dipijit gak" kata Tyo modus
"Gak usah kamu pasti juga capek" jawab Wienda yang belum ngerti maksudnya Tyo
__ADS_1
"Kalo buat ini gak ada capeknya sayang" Tyo mencoba menggoda Wienda tapi entah Wienda yang polos atau pura-pura polos gak ngerti juga
" Ini apaan" tanya Wienda dengan watados (wajah tanpa dosa)
"Aku ingin" kata Tyo
"Ingin ap....emmm" Wienda belum selesai ngomong bibirnya sudah dilahab Tyo.
"Aauu...... kenapa digigit sayang" tanya Tyo kesel
"Hehehe maaf aku gak bisa nafas" Wienda nyengir kuda
"Santai sayang" bujuk Tyo
"Ternyata ciuman seenak ini, manis" batin Wienda
Puas melahab bibir Wienda, Tyo beralih keleher turun terus menyusuri tubuh istrinya sampai bada dua buah yang pasti akan menjadi candu baginya yang masih terbungkus meski sudah berantakan. Tangan Tyo yang terlihat sudah mahir melepas penghalang buah gantung yang ranum, Matanya berbinar memandangi buah sang istri yang belum terjamah oleh tangan manusia manapun kecuali pemiliknya sendiri.
"Mas.......eemmmm" rancau Wienda
"Lepasin aja sayang jangan ditahan eemmm" ucap Tyo
Dua manusia yang dimabuk cinta tengah mendaki puncak kenikmatan bersama. Hingga satu jam berlalu dan diakhiri dengan ******* panjang dari keduanya. Wienda sudah tak terhitung berapa kali pelepasan. Yang jelas nampak wajah mereka memancarkan kepuasan dan berbinar-binar.
__ADS_1
"Terimakasih sayang" bisik Tyo
Wienda cuma mengangguk lemah. Tenaganya sudah terkuras habis, matanya terpejam tapi bibirnya menyunggingkan senyuman. Tyo meraih selimut untuk membungkus tubuh polos mereka.
Mereka tidur dengan pulas, bahkan gedoran pintu tidak mereka hiraukan. Seakan paham begitu tidak ada jawaban dari dalam pintu tidak lagi diketuk.
"Dahlah yah kita makan duluan, Sekarang mereka tidak butuh makan" ucap Bunda
"Hehehe lagian bunda kayak gak pernah difase ini aja, apa perlu ayah ingatkan gimana ganasnya bunda ketika malam pertama" goda ayah
"Dah tua juga masih ingat aja" Bunda malu-malu
"Makanya biarin aja mereka nanti kalo lapar pasti ambil sendiri, dah buruan makan, apa mau ayah suapin" goda ayah
"Wow ayah, ingat umur yah kalo mau mesra-mesraan nanti dikamar, kita berdua masin jomblo jangan bikin kita ngiri" celetuh Wildan yang tiba-tiba muncul duduk disamping ayah
"Haish ngagetin aja" Bunda mengelus dada
"Pengatin baru mana gak butuh asupan makanan ya" tanya Wike
"Ah biarin mereka dah kenyang gak butuh makan" jawab Wildan
Hahaha tawa menggelegar diruang makan tapi itu tidak akan mengganggu kedua insan yang terlelap karena kelelahan habis mendaki menara kembar.
__ADS_1