TYWI ( TYO WIENDA)

TYWI ( TYO WIENDA)
49


__ADS_3

Tyo pulang dari kantor langsung menuju kamarnya mengingat tadi pagi istrinya ngambek gara-gara gak diijinin kerumah Bunda.


Tyo membuka pintu


ceklek


Celingak-celinguk mencari istrinya, tapi nihil istrinya tak berada dikamar. Tyo segera keluar menuju kamar putranya. Disana juga tidak ditemukan sosoknya.


"Sus Nyonya dimana" tanya Tyo pada suster yang merawat putranya


"Maaf tuan saya tidak tahu" jawab suster


Tyo kembali lagi kekamar berlari menuju balkon. Disana menemukan istrinya yang tertidur dikursi malas.


"Sayang kenapa tidur disini" Tyo membelai pipi mulus istrinya


"Ehm dah pulang mas" kata Wienda


"Ayo masuk disini dingin nanti kamu sakit" kata Tyo


"Maaf aku ketiduran" kata Wienda gak enak


"Gak papa" balas Tyo


"Mas mau mandi dulu" kata Tyo


Tyo masuk ke kamar mandi dan segera mengguyur tubuhnya dishower. 15 menit sudah selesai. Tyo keluar dari kamar mandi istrinya sudah tidak ada lagi, hanya menemukan piyamanya yang sudah disiapkan Wienda. Tyo segera mengenakan pakaiannya dan keluar kamar.


Tujuan utama kamar putranya. Tidak ada sosok yang dicari. Tyo turun menuju dapur ternyata istrinya sedang didapur menyiapkan makan malam. Meski ada art Wienda turun tangan sendiri soal makanan suaminya.


"Sayang" suara Tyo mengagetkan Wienda


"Astaghfirullah mas ngagetin aja" Wienda mengelus dada


"Hehehe maaf" Tyo nyengir kuda


"Mas duduk dulu ini bentar lagi siap" titah Wienda


"Siap ratuku" kata Tyo


"Gombal" Wienda


"Kok gombal sih ini beneran. Kamu itu ratuku cintaku istriku sayangku matahariku wanitaku" kata Tyo


"Makan biar otaknya yang kebanyakan kerja gak konslet" Wienda


"Yang kok gitu sih" manyun Tyo


Wienda mengambilkan makanan untuk suaminya. Tyo tidak mau menyia-nyiakan kesempatan langsung menarik pinggang istrinya dan terjatuh dipangkuannya.


"Mas"


"Apa"


"Gimana makannya kalo begini"

__ADS_1


"Mudah, lihat ini" Tyo menyuapi Wienda


"Mas"


"Gak boleh protes ayo makan"


"Sayang maafin mas ya"


"Maaf buat"


"Tadi pagi"


"O Wienda dah lupa" bohongnya


"Bohong banget bilang lupa, tadi dibalkon ketiduran kenapa matanya sembab" tanya Tyo


"Em tadi em itu kelilipan" bohong Wienda


"Bohong lagi kan. Kamu itu tidak bisa bohongin mas"


"Maaf, habisnya aku kesel mau ketempat Bunda aja mas gak ngijinin"


"Weekend kita ke sana"


"Serius mas"


"Iya, sebenarnya tadi dah nyuruh Panji buat jemput Bunda, tapi pas aku telpon Bunda gak bisa karena ayah ada ujian disekolah" jelas Tyo


"Mas maafin Wienda juga ya dah marAh"


"Tangannya dikondisikan mas dokter cintaku"


"Hehehe"


Ditempat lain


"Buk bisa minta tolong ndak" kata Sesha pada mertuanya


"Bisa nak minta tolong apa" kata ibu Ulfa


"Didepan kan ada penjual bakso, bisa tolong belikan ndak buk" pinta Sesha


"O kamu mau bakso, ibu akan belikan kamu tunggu disini" kata ibu


"Terimakasih ya buk" ucap Sesha


"Sama-sama nak" balas ibu


Sementara ditempat Cikha sedang terjadi keributan.


"O jadi kamu gak mau nemani aku keacara temenku karena ini dad" kata Rina marah-marah


"Dasar perempuan sialan" Rina sengaja menarik rambut Cikha


"Lepas" teriak Cikha

__ADS_1


"Dasar pelakor" sindir Rina


"Dad ini semua gara-gara Daddy, Daddy udah ngancurin masa depan aku menjadikan aku istri kedua Sekarang harus menerima amukan istri Daddy trus kamu diam aja gak ada sedikit pun buat bantuin aku gitu. Hebat kamu memang laki laki yang hebat" marah Cikha pada suaminya


"Rina kamu ngapain datang kesini, aku gak bisa nemani kamu karena Cikha lagi gak enak badan" kata Daddy yang ternyata namanya Johan rekan bisnis Tyo juga Papa Andrew


"Dad gak usah bawa-bawa aku dalam urusanmu dengan istrimu itu, aku muak semua yang terjadi selalu aku yang kamu jadikan kambing hitam" kesel Cikha


"Hei semua ini terjadi karena ulahmu" sarkas Rina


"Cukup"Bentak Johan


"Rina sebaiknya kamu pulang, pusing dengerin kalian berantem mulu"


"Kalo gak mau pusing liat kita berantem didik istri kamu itu dengan benar, jangan suka ngata-ngatain orang tapi dirinya sendiri gak jauh beda" sinis Cikha


"Apa maksudmu" tanya Rina dan Johan bersamaan


"Pikir aja sendiri" jawab Cikha


"Kalian berdua keluar dari sini" bentak Cikha


"Lihatlah Johan istri kecilmu berani bentak kamu" Rina mengompori Johan


Johan menarik tangan Rina keluar rumah.


"Cikha lagi hamil jangan bikin ulah yang nantinya kamu sesali"


"Sekarang pulang dan jangan pernah datang kesini lagi"


"Dan maaf aku gak bisa menemanimu keacara temanmu" kata Johan


"Kamu ngusir aku Jo" tanya Rina tak percaya


"Kepalaku pusing aku mau istirahat tolong kamu ngerti" pinta Johan


"Kamu udah mulai jatuh cinta ya sama perempuan itu" sengit Rina


"Rina, Aku yang mengambil keperawanannya jadi jangan pernah kamu berkata macam macam soal Cikha, Cikha perempuan baik-baik" dengus Johan


"Lihatlah Johan dirimu sekarang membelanya" Rina tak mau diam


"Rina cukup"


"Kamu aja dulu udah gak perawan waktu pertama kali kita melakukannya jadi jangan berkata yang aneh aneh soal Cikha" geram Johan


Seketika wajah Rina berubah merah padam. "Awas kamu Cikha aku akan balas penghinaan ini" Rina pergi dengan hati terbakar amarah


Johan masuk rumah memilih masuk keruang kerja. Dia duduk di sofa dengan tangan memijit keningnya yang terasa berdenyut melihat kedua istrinya tiap ketemu selalu perang.


Pada dasarnya Cikha bukan orang yang mudah tersulut emosi. Tapi tiap-tiap kali istri tua datang dan marah-marah pada Cikha, Johan tidak pernah membantunya. Johan terlalu takut pada Rina. Cikha jadi emosi. Dia bertekad tidak akan mengalah lagi pada siapapun. Sudah cukup dirinya ditindas selama ini.


Cikha yang melihat suaminya masuk keruang kerja tersenyum, setidaknya suaminya tidak pergi dengan istri pertama. Cikha masuk kamar dan rebahan diranjang. Perut buncitnya bergerak gerak.


"Sayang" Cikha mengelus perutnya.

__ADS_1


Mendapat elusan dari Mommynya sibayi seolah mengerti kondisi Mommynya


__ADS_2