
Jadwal kelahiran Wienda telah ditentukan. Wienda kembali menjalani operasi sesar untuk kelahirannya yang kedua. Jarak dari kelahiran pertama dengan sekarang sekitar 23 bulan. Sebenarnya dari awal kehamilan Wienda sudah was was karena dokter menyarankan setidaknya jika mau menambah momongan paling tidak jaraknya 24 bulan. Dan yang dialami Wienda belum ada 24 bulan dan dia harus melahirkan kembali.
Meski mempunyai suami dokter tak lantas membuat Wienda tenang. Wienda dilanda kecemasan yang begitu berat. Pikirannya melayang jauh. Takut terjadi sesuatu pada dirinya. Bagaimana nasib putra putrinya nanti jika terjadi sesuatu dengannya.
Saat ini Wienda sudah berada diruang operasi. Wajah Wienda pucat pasi. Tyo yang menyadari ada kecemasan pada istrinya berusaha menenangkan.
"Calm down honey. Semua akan baik-baik saja. Percaya sama mas" Tyo menenangkan Wienda
"Kalo terjadi hal buruk padaku mas akan selalu ada kan buatku" kata Wienda sendu
"Astaghfirullah sayang kamu masih meragukan cinta tulus mas sama kamu" tanya Tyo
"Mas, Wienda takut" Wienda
"Sayang, apapun yang terjadi nas akan selalu ada disampingmu seperti dulu waktu mas terjatuh kamu selalu mendampingi mas, dan itu juga yang akan mas lakukan untukmu. cintaku sayangku i love you" Tyo mengecup kening istrinya dan menggenggam erat tangannya.
"Janji ya" Wienda
"Iya mas janji, tapi kamu juga harus janji gak akan ninggalin mas" Tyo
Wienda mengangguk.
"Mas bisa gila tanpamu sayang"
"Kamu itu duniaku kamu segalanya untukku "
"Berdoa dulu yakin semuanya akan baik-baik saja. Kita akan bahagia berlima. Mas kamu Marvel Marvin dan putri kita" Tyo
"Iya, aku siap sekarang. Temani aku melewati semua ini " Wienda
"Pasti" jawab Tyo mantap
Setelah Wienda merasa tenang Tyo memanggil tim dokter yang akan melakukan tindakan pada istrinya.
"Berikan anastesi menyeluruh" titah Tyo
"Baik dokter" jawab suster
Suster menyuntikkan obat bius keselang infus Wienda. Setelah kesadaran Wienda dirasa sudah hilang dokter baru melakukan tindakan pengangkatan bayinya.
Semua dilakukan dengan cepat. Karena memang sudah ahlinya. Tindakan operasi sendiri berjalan sekitar 30 menit.
"Angkat sekalian rahimnya" kata Tyo
"Baik dok" jawab dokter lain
Melihat ketakutan istrinya Tyo memutuskan untuk tidak punya anak lagi. 3 sudah cukup. Tyo sangat mencintai istrinya. Kalo mengingat pertemuannya Tyo suka senyum sendiri. Lucu memang gara gara kaleng bekas ketemu belahan hati. Jodoh memang tidak ada yang tau. Yang kita bisa hanya berusaha.
Tyo mengambil putrinya dan mengadzani. Sementara Wienda sedang dirawat dokter kandungannya. Setelah selesai semua. Wienda dipindahkan keruang khusus keluarga pemilik rumah sakit.
Semua anggota keluarganya telah berkumpul. Tyo terharu menyaksikan keluarganya ada disaat seperti ini. Semua lengkap. Ada Mama Papa Andrew Bunda serta Ayah mertuanya juga saudara saudaranya.
"Nak bagaimana mana cucu Bunda" tanya Bunda dengan wajah cemasnya
"Alhamdulillah Bunda semua berjalan lancar, semua berkat doa kalian semua. Terimakasih ya atas doa dan dukungannya" ucap Tyo
"Sama-sama sayang kita keluarga jadi sudah seharusnya kita saling support doa mendoakan yang terbaik" jawab Mama
Tyo memeluk Mamanya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Terimakasih Mama maaf kalo selama ini Tyo belum mampu menjadi seperti apa yang Mama mau" kata Tyo sendu
"Mama bangga sama kamu. Mama beruntung punya menantu seperti istrimu. Tidak pernah sekalipun membantah ucapan suaminya. Perlakukan istrimu layaknya ratu, jangan kau buat hatinya terluka. Dia udah berjuang keras demi menyempurnakan hidupmu. Mengandung melahirkan itu taruhannya nyawa" ucap Mama Dewi panjang lebar
__ADS_1
"Iya ma" Tyo
"Bunda " Tyo menghampiri ibu mertuanya
"Maafin Tyo ya Bun, selama ini Tyo belum mampu berbakti pada ayah dan Bunda"
"Dengan menyayangi putri bunda itu sudah membuat Bunda dan Ayah bahagia. Laki-laki tidak beh nangis ini hari bahagia hapus air matamu. Cengeng" Bunda
Tyo tersenyum dan segera menghapus jejak air matanya.
"Cantik duplikat Wienda banget" Sesha
"Iya aku cuma bagian hidungnya doang" Tyo
"Gak usah iri. Tu dua jagoanmu semua duplikat kamu " sanggah Mama
"Hehehe" Tyo ketawa
Satu jam Wienda baru sadar pasca operasi. Sesuai janjinya Tyo tidak pernah lepas dari genggaman tangannya.
"Sayang" kata Tyo melihat istrinya membuka mata.
"Mas" Wienda mengedarkan pandangannya. Menangkap sosok yang dirindukan.
"Bunda" suara lirihnya
"Iya sayang kamu sudah sadar" Bunda menghampiri putrinya yang tengah tergolek lemah diranjang rumah sakit.
"Bunda kapan datang" tanya Wienda lirih
"Suamimu memberitahu Bunda 2 jam sebelum kamu masuk ruang operasi" jelas Bunda
"Makasih mas" ucap Wienda
"Bayiku mana mas" tanya Wienda yang mencari bayinya
"Bentar mas panggilkan suster dulu" Tyo memencet tombol disebelah ranjang istrinya.
"Mama" Wienda
"Gimana keadaanmu" tanya Mama Dewi
"Sudah lebih baik ma" Wienda
"Permisi" suster melongokkan kepalanya dibalik pintu
"Silahkan sus" ayah
"Permisi Nyonya Tyo ini putrinya, cantik seperti anda" kata suster yang membawa bayinya
"Terimakasih sus" ucap Wienda
"Sama-sama Nyonya kalo begitu saya permisi
"Silahkan" kata bunda
"Cucu nenek cantik banget" ucap Bunda
"Namanya siapa sicantik ini" tanya Mama
"Namanya ARIMBI ZANETTA WILDAN PRATAMA" jawab Tyo
"Nama yang cantik seperti orangnya" kata Mama
__ADS_1
"Terimakasih Oma" jawab Wienda
"Suka gak sayang namanya putri kita" tanya Tyo
"Suka mas bagus namanya" Wienda
"Mama" teriak sikembar duo M
"Sini sini sama Papa, mau lihat debay ya" tanya Tyo
"Iya Papa" jawab keduanya
"Papa gendong tapi gantian ya" kata Tyo
"Tium pa tium" Marvel minta cium debay
"Pelan pelan ya ciumnya" Tyo
Marvel mengangguk. gak cukup sekali Marvel mencium adiknya berkali kali
"Cukup gantian Marvin" Tyo
Marvel mengangguk. Tyo menurunkan Marvel dan menggendong Marvin. Marvin juga melakukan hal yang sama. Menciumi adiknya gak cukup sekali.
"Udah pipi adik merah tu" kata Tyo menunjuk pipi merah putrinya
"Tatit papa" tanya Marvin
"Gak sakit tapi kalo merah kasihan" jawab Tyo
"O" Marvin manggut-manggut seakan paham maksud Papanya
"Tium Mama " ucap Marvin
Tyo menyodorkan pada pipi Mamanya. Marvin menciumi Mamanya hingga ludahnya membasahi pipi Mamanya.
"Kangen ya sama Mama " tanya Wienda
Marvin menganguk
"Sama Papa gak kangen" Tyo
Marvin menggeleng
"Kok gitu sih Papa ngambek ni" Tyo memasang muka merajuk
"Papa jeyek tau" Marvin
"Oh Marvin kamu bener bener ya, bikin Papa gemes" Tyo menciumi putranya sampai terpingkal-pingkal karena geli
"Geyi papa geyi" brontak Marvin
"Biarin katanya gak kangen sama Papa " Tyo
"Papa" Marvel menarik celana Papanya
"Tium" Marvel memonyongkan bibirnya
"Cup" Tyo mengecup bibir monyong putra
"No papa tium Mama" protes Marvel
"Semua gak ada ya yang kangen Papa. Papa menangis ni" Tyo pasang wajah sedih
__ADS_1
"Tup tup tup udah besal Papa dak boyeh nanis" ucap Marvel yang membuat tawa menggelegar diruangan hingga baby Arimbi terbangun dan menangis